Kala Senja di Ratu Boko

merasakan getaran suasana candi boko yang mempesona..

Menembus Waktu dengan Romansa

sebuah desahan mimpi yang sangat menggoda untuk disajikan..

De Britto ...

Sekolah cinta...Sekolah hati..

Gua Tritis...kemolekan yang menawan hati..

sebuah perjalanan menikmati kemolekan Gua Tritis yang patut untuk diulas..

Pantai Indrayanti..pantai pemuas hati..

pantai pasir putih yang memesona..

Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 November 2013

Our Dream?

            Ia menikmati senyum tipis yang menggelayut di langit wajah wanita yang beberapa bulan terakhir ini menghiasi pikirannya.. “ah..kurasa ia tersenyum akan lahirnya cinta yang terbungkus oleh status beberapa waktu lalu..”, pikir Rudi. Wanita itu menggenggam lembut punggung tangan kiri Rudi yang menempel persneling, dan kontan Rudi menyambutnya dengan genggaman yang lebih erat.. erat bagaikan kumpulan awan cumulonimbus yang bernostalgia di atas mereka. Kawanan yang bertanggung jawab ‘tuk timbulkan mendung di atas kota Warsawa dan sendu di hati manusia yang tinggal dengan mereka sebagai atapnya. Kawanan itu menikmati mobil minicooper merah mereka yang melintasi jalanan secara perlahan di sisi bukit sembari menggodanya dengan tetesan – tetesan kecil andalannya..

            Senyum wanita itu mulai menggantung untuk beberapa saat ketika mobil mereka melintasi jalanan di kaki bukit.. “selalu mengundang rasa yang telah tiada setiap aku melewati jalan ini”, kata wanita itu.. “ah.. I dont care. Thats your past and you are my wife,now. ”, kata Rudi singkat sembari membelai lembut cincin emas yang melingkar di jari istrinya.. tidak,Rudi harus peduli. Ia harus mulai menyadari mata istrinya yang mulai mengawang di kumpulan awan yang semakin menghitam..

            “honey?”
            “yes, sweetheart?”
            “how far do you go now? Dont leave me honey.. stay here with me..”
            “im thinking ‘bout you, you know.. ‘bout us..”
            “really? What is it?”
“Im thinking of having one simple life with you. Building a lake house. We eat, we sing, we love.. just us”
“that sounds perfect, honey..”
“indeed..”

Percakapan mereka menggantung dalam imajinasi mereka yang bermain liar di pikiran mereka berdua.. Rudi melirik melalui ekor matanya, kesenduan seolah mengkontaminasi wajah istrinya. Ia berkata dalam hatinya,”mengapa sendu? Bukankah baru saja kita merajut mimpi?” sejenak, masa lalu istrinya menguak dalam tabir pikirannya..sebelum mereka berkenalan.. sebelum semua cerita indah tentang mereka terajut..sebuah cerita ketika istrinya begitu pedih ditinggalkan kekasihnya. Kekasih yang juga membentuk mimpi yang sama. Tetapi bedanya, mimpi sepasang kekasih itu kandas, sekaram cinta mereka berdua yang terbalut lama oleh sang waktu.. istrinya depresi.. tak lagi mempercayai cinta..

Rudi sadar.. ia telah melakukan segala cara termasuk bersahabat dengan waktu untuk sekedar menyusun kembali puzzle hati istrinya yang remuk berkeping – keping.. meski ia harus dibandingkan dengan masa lalu istrinya yang menangis sekeras hujan yang semakin giat mencumbui mobil mereka.. ia sadar.. genggaman istrinya tak seerat genggaman tangannya.. pelukan istrinya tak sehangat pelukannya..

Mobil mereka melaju perlahan di tepian jurang..Rudi menginjakkan gas untuk memacu mobilnya.. mereka saling menatap.. tersenyum.. dan mobil mereka meluncur jatuh menuju jurang..dan meledak... Api mulai menggeliat terlingkupi mimpi – mimpi mereka berdua.. ah..bukan mimpi mereka berdua.. setidaknya itu adalah mimpi Rudi..dan istrinya yang memimpikan kekasih masa lalunya..





Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono

Rabu, 23 Oktober 2013

Journey..

           Ia memandang nanar di tepian langit – langit kamarnya.. bersetubuh dengan waktu yang tak lagi menggairahkannya.. kekasih jiwanya telah pergi.. sembari menggandeng lelaki yang juga menjelma menjadi sahabat terbaiknya.. mereka berdua telah tenggelam bagaikan senja yang luruh dalam barisan bintang.. mereka telah tiada.. tetapi ketiadaan mereka menyisakan ruangan kosong dalam rongga hatinya yang telah begitu banyak meneteskan darah..bahkan tetesannya melebihi darah yang sekarang mengalir akibat sayatan – sayatan di tangannya dan membentuk dua buah nama.. Putri dan Rico..

        Jeritan pilunya membelah malam .. Ia merasa semesta mempermainkannya dan membuatnya tak lagi mempercayai cinta. kosong..kelam.. hingga ia berada di suatu titik dimana ia tak merasakan apapun..

            Darah terus menetes bersama buliran waktu.. hingga ia pun tak merasakan sakit fisik apapun..dengan sisa tenaga yang ia punya.. ia membuka pintu rumah, dimana merupakan satu – satunya penghalang antara dirinya dan semesta yang menantinya di luar.. bersekongkol untuk membahanakan tawa mereka..

            Ia membuka pintu..udara beku di bawah langit Sahara semakin menusuk hati yang hitam dan tak lagi merasakan apa – apa.. dengan darah yang masih menetes tetapi berkurang intensitasnya karena memang ia masih diliputi ketidakberuntungan karena ia menyayat tak begitu dalam..dan dengan bertelanjang kaki, telapak kakinya mulai bercumbu dengan lautan pasir.. ia mulai meniti langkah.. berbekal mata yang menatap ke satu titik tetapi terkabutkan akan gumpalan air yang memenuhi rongga matanya yang memanas.. suatu kondisi dimana ia selalu bersahabat dengannya...

            Ia berjalan lunglai menuju bukit pasir terjauh dalam pandangan matanya..sembari berteriak pilu akan dua nama yang tergores menganga dalam luka di tangannya..para tetangganya menahannya.. ia hanya bisa meronta..dan menjerit..”lepaskan aku!”

            Berjam – jam para tetangga berusaha menahan tubuhnya yang masih terus meronta.. “ah.. ia telah pergi dan takkan kembali..”, kata salah seorang tetangganya.. satu per satu mereka melepaskan cengkeramannya dalam tubuhnya..hingga tak ada seorang pun yang menahannya.. Ia bangkit berdiri dengan mata yang nanar..ia melangkahkan langkah pertamanya.. dan mulai berjalan..menuju bukit pasir terjauh dalam pandangan matanya..

            Hari telah beranjak pagi dalam balutan mentari yang tersipu malu..mentari yang seolah bersinar dan bahagia melihatnya saat ini..dan terus tertawa cerah.. lelah..dan capai hingga tergantikan oleh tawa sang rembulan.. berbulan – bulan  ia tetap berjalan..selangkah demi selangkah..menyusuri Sahara yang dingin membeku ketika malam tiba..dan masih berteriak pilu akan dua nama yang terukir dalam luka di tangannya yang semakin mengering..

            Hingga suatu hari.. ia menemukan satu pohon tua yang berdiri agak condong ke barat.. dan pohon itu yang hidup di tengah padang pasir yang tandus.. berdiri sendiri dan terbalut sepi.. Ia pun terduduk di bawah pohon itu.. pohon yang tak berdaun.. yang hanya memiliki beberapa ranting – ranting tua andalannya.. dan Ia menemani pohon tua itu..

               Ia merasakan suatu kedamaian yang luar biasa..

          Ia merasakan terik mentari yang menyengat kulitnya yang terbakar dan terkelupas akibat hujan mentari dan bekunya malam yang ia terima setiap hari.. 

            Ia merasakan angin panas menerpa jalur – jalur air mata yang telah mengering pada wajahnya..

            Dan yang mengagetkannya adalah..

            Ia mampu kembali merasa..

         Ia menjeritkan untuk terakhir kalinya kedua nama itu.. jeritan yang panjang..hingga angin membawa gema suaranya terbang menuju khayangan..

           Ia berkata lirih,”tunggu gema suaraku.. jangan tinggalkan aku sendiri disini bersama pohon tua ini..aku ingin menyusulmu..”

            Dan ia mendapatkan keberuntungan pertamanya ..

            Ia tak lagi merasakaan apa – apa lagi..

Selamanya..



Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

Sabtu, 12 Oktober 2013

Air Mata dari Langit

            Ayu.. sebuah nama yang menyiratkan kesederhanaan.. bukan nama metropolis yang ke-barat-barat-an seperti Keisha, Cindy, Pamela, Jessica..dimana konon.. semakin ke barat sebuah nama, semakin keren dan kece orangnya.. bukan.. bukan itu semua.. tetapi nama yang merasuk dalam budaya rakyat jawa.. Ayu, dimana dalam bahasa jawa yang berarti cantik..dan kecantikannya memang seperti mutiara yang berpendar di dasar laut tak terjamah..anggun dan bersinar di tengah lingkungannya yang semakin menghitam..

            Ayu..gadis kecil berusia 5 tahun yang tinggal di pedalaman Saptosari..berlari dengan kaki telanjang dan bercumbu dengan lumpur tanah merah khas kota Wonosari.. sembari menyambut gerimis putih  bersama alunan embun pagi sebagai penghibur pertama kemarau yang panjang dan melelahkan,  mengangkat wajahnya..memejamkan mata polosnya..ia menikmati..untuk sejenak..air mata dari langit..bagai seorang sahabat yang tak bertemu sekian lama... ya.. sahabatnya bukan gadget, bukan Teddy bear.. tetapi air mata dari langit..

            “simboook... langit’e nangiiiis...” (buu, langit menangis), katanya sambil berteriak kepada ibunya yang berlari – larian mengambil baju jemuran yang mulai tersibak angin bercampur rintik hujan..

            “iyoo nduuk” (iya nakk..), jawab ibunya singkat..

        “aku yo kepingin nangis mboook..ngancani langit..” (aku juga mau  nangis bu.. menemani langit), katanya sembari mengusap matanya yang lebih basah dari rintik hujan yang bersetubuh dengan merahnya tanah..

            Ia terduduk di tanah..dress merah lusuh yang dipakainya semakin basah oleh gerimis yang menari di atas kepalanya..air matanya semakin mengalir..tangisannya semakin menjadi..tangan – tangan mungilnya menggenggam tanah berlumpur di sisi kiri – kanannya.. Ia tak lagi peduli dengan semakin membekunya udara pagi itu..

            Ibunya berlari menghampirinya...memeluk dan berusaha menghangatkannya dengan hangat tubuhnya..mengangkat dan membawanya ke dalam pondok kayu mereka..mengelap tubuh anaknya dengan kain kering seadanya, memangku, dan meletakkan kepala anaknya di dadanya..dekat dengan hatinya..jantungnya..jiwanya..

            “ngopo ora ngiyup to nak?” (kenapa kok tidak berteduh nak?), kata ibunya sembari membelai lembut rambut  basah anaknya..

            “pingin ngancani langit, mbok..mesakke..dewean..” (ingin menemani langit, buu.. kasihan... sendirian..), kata ayu sembari mengusap lelehan air matanya di pipinya yang tak sebulat anak – anak kota nan menggemaskan..

            “ah...nduk..”




Ad Maiorem Dei Gloriam


Amadeus Okky Suryono

            

Sabtu, 24 Agustus 2013

Kurasakan Sakitmu..

Hari ini, Ronnie yang selalu membungakan taman – taman hatiku ini terbaring di sebuah bangsal sederhana berisi 4 orang pasien termasuk dirinya. Ia.. seorang pria yang kukenal selalu mengusahakan yang terbaik bagi dirinya menjadi seolah tak lagi peduli dengan tembok dalam ruangan bangsalnya yang retak di setiap sudutnya.. ataupun kasur tempatnya berbaring yang tak empuk.. ataupun suara ramai para pengunjung dari teman pasien sekamarnya.. Ia hanya memperdulikan rasa sakit di perut bagian bawah, dan terasa sakit ketika buang air kecil.. ia hanya memperdulikan tentang kapan sang waktu mengijinkannya untuk sembuh dari infeksi saluran kencing yang dideritanya.. bahkan ia menjadi seolah tak peduli mengenai fakta bahwa tak ada yang mendampinginya, ataupun duduk di samping pembaringannya untuk sekedar bertanya,”gimana? Uda baikan?”..

            Lalu, dimana aku? Tepat 1 jam pemberitahuan darinya via blackberry messenger yang sebenarnya ditujukan kepada sahabat - sahabatnya termasuk aku, seorang pengagum rahasianya yang juga menjabat sebagai sahabatnya, aku datang di rumah sakit tempat ia dirawat. Aku tak lagi peduli untuk berangkat bersama – sama dengan sahabat yang lain. Aku hanya peduli, ketika aku tiba di samping pembaringannya.. Aku adalah orang pertama yang ia tatap ketika ia membuka matanya dari mimpi indahnya.. dan faktanya, aku memang menjadi yang pertama datang mengunjunginya.. aku tersenyum.

            Senyumanku tak bertahan lama di sisinya semenjak kedatanganku.. aku seolah ikut merasakan jarum infus yang menembus kulitku.. gigi yang gemeretak dan tangan yang menggigil akibat demam yang ikut – ikutan mendampingi.. aku memejamkan mataku.. aku berharap aku dapat ikut menanggung sakit yang dideritanya.. agar ia tak begitu kesakitan.. agar ia tak merasa sendirian..  

          Tak berapa lama, matanya perlahan terbuka.. menatapku perlahan dengan mata hitam kecoklatan yang selalu membuaiku setiap kali aku menikmati sinar matanya.. ia tersenyum sedikit.. dan aku berusaha menampilkan senyum termanis, meskipun memang pada faktanya senyumku tak semanis wanita yang membuatnya jatuh hati saat ini, meskipun senyumku takkan membuatnya secara instan mengejarku seperti ketika ia mengejar seorang wanita yang telah memiliki tambatan hati, meskipun senyumanku tak bisa membuatnya jatuh ke dalam sebuah cinta yang buta.. tetapi senyumku.. sebuah senyum yang aku harap mampu menyampaikan pesan bahwa aku disini.. aku yang terduduk di sisinya.. aku yang mencintaimu dan berharap kamu lekas membaik..


            “Hai sleepy head..tidurnya nyenyak?”
            “ah.. gak juga..pusing banget kepalaku..”
            “minum dulu gih..”
            “gak ah.. masa aku minum dikit aja uda pengen kencing lagi? Sakit tauk..”
            “iya.. namanya aja lagi sakit..udah makan?”
            “udah tadi.. kamu dateng sendirian?”
            “iya.. hehe..trus tadi kamu kesininya dianter siapa ron?
            “sendiri..haha.. kayaknya selama aku di Jogja, kalo aku sakit selalu berangkat sendiri
            deh.. hahaha”
            “lah.. tau gitu kamu bilang aku dong..kan aku bisa anterin..”
            “iya juga ya.. hehehe.. oya, gimana kabarnya Veni? “

           
          Ah..Veni.. wanita yang juga sahabatku sendiri dan membuat Ronnie bertekuk lutut meskipun telah dimiliki Ferdi, kekasih Veni..Ronnie terjebak dalam cinta yang tak berpintu, cinta yang buntu.. hati Veni telah dimiliki orang lain.. dan kekasihku itu tak peduli dengan hal itu.. aku pun menjawab dengan senyum kegetiran dan terkesan asal – asalan..


            “baik – baik aja.. kayaknya lagi nge-date sama Ferdi tuh..”
            “aghh....”


    Percakapan kamipun terhenti dan terbalut tarian kesunyian hingga membuatnya menari dan meninggalkanku ke alam mimpi.. kekesalanku pun seolah memudar.. ketika menatap hembusan nafas teraturnya saat ia tertidur.. ataupun sedikit mengigau.. lucu dan menggoda..aku mengharapkan kesempatan untuk sekedar menyentuh tangannya.. ataupun hal lain yang membuat kulit kami bersentuhan.. dan untuk saat ini.. hanya dalam bayang – bayang saja sudah cukup buatku..

       Kencan kami terbelah ketika sahabat – sahabat lain mulai berdatangan mengunjunginya.. ia pun terbangun dan merajut waktu bersama perhatian yang mereka lemparkan.. aku melihat senyumnya yang selalu buatku terbang dan lupa bahwa tempatku berpijak adalah bumi.. aku menikmatinya.. aku bagaikan terduduk dalam sebuah opera dimana ia dan sahabat – sahabat yang lain menjadi aktor – aktrisnya. Dan  seolah terdapat sebuah saraf penghubung antara tubuhnya dengan tubuhku.. aku tertawa ketika ia tertawa.. aku tersakiti ketika ada hal yang dirasa ia juga ikut tersakiti..

          Tak berapa lama, para sahabatpun pulang.. ia pun terbaring lelah dan hendak meninggalkanku lagi menuju mimpi indahnya.. hanya tinggal aku di sisinya..


            “kamu gak ikutan pulang?”
            “enggak.. aku disini aja..jagain kamu..gakpapa?”
            “yakin? Ya aku sih seneng – seneng aja..”
            “sip.. dah tidur sana..”
           


            Ia pun tertidur.. aku duduk di kursi samping pembaringan..menikmati buliran waktu yang berjatuhan.. bersamanya..





Ad Maiorem Dei Gloriam


Amadeus Okky Suryono

            

Senin, 24 Juni 2013

Raga dan Rasaku..

       Seandainya Lena bisa memilih, ia takkan jatuh cinta kepada Derry. Setidaknya itulah yang Lena rasakan selama hampir tiga tahun kedekatan raga mereka di kota impian masa kecil mereka, Paris. Ternyata kedekatan raga mampu mengalahkan ketiadaan emosi. Ia tahu bahwa hubungan mereka tak melibatkan hati. Mereka hanyalah dua manusia kesepian yang butuh teman. Tak ada cinta terungkap. Seharusnya Lena tahu itu. Hingga di suatu akhir minggu, hatinya membubung tak terjangkau akal logikanya.

      Lena terbangun di suatu pagi, membalut tubuhnya dengan selimut yang mereka gunakan sebagai alas untuk bercinta, dan menatap mentari yang telah menanti dan menerobos melalui kaca apartemennya pagi itu. Paginya menjadi semakin cerah ketika ia melihat Derry terduduk di teras apartemen sembari menyesap rokoknya dalam – dalam, bungkus rokok yang tak terpakai yang ia gunakan sebagai asbak, dan sekaleng bir di sisinya. Derry memandang biru langit yang memadu kasih dalam kemuning mentari. Lena tersenyum, menyusul Derry menuju teras apartemennya, mendudukkan dirinya di kursi dengan meja kecil memisahkan keduanya, mengambil dan menyalakan sepuntung rokok sembari membetulkan letak selimut yang mencumbu tubuhnya. Asap rokok mereka pun menari dalam pagi yang mengalun lembut, dan terburai ketika Derry memulai percakapan yang membuat Lena terhenyak.

            “kayaknya aku harus kembali ke Indonesia.”
            “kenapa? Kok tiba – tiba?”
            “ada yang harus kuurus. Senja. Kamu pasti suka sama dia.”
            “oh..temen?”
            Lena menangkap percikan mata Derry yang menatap matanya, senyumnya yang merona. Ia pun paham.
            “kapan mau ke Indonesia?”
            “akhir minggu ini..”

            Percakapan mereka ditutup dalam hening..dengan asap rokok masih menari di atas kepala mereka..



Time flies..6 jam sebelum keberangkatan..mereka terduduk di teras yang sama sembari menyesap rokok dan menikmati tetes air hujan dalam sendunya malam.

            “Senja ya?”
            “iya..”
            “kenal darimana?”
“dulu sebelum aku mutusin cari inspirasi dan tinggal disini, kota aneh yang ternyata ada   kamunya, aku sempat kenalan sama dia di Jogja. Ketemunya waktu dia dibawa sama temenku buat hadir di salah satu pameran lukisanku. Akhirnya sempet jalan bareng juga. Aku rasa sekarang waktunya tepat. ”
“tepat untuk apa?”
“tepat untuk nyusul dia. Nyatuin hati kita. karena memang waktu itu aku masih belum siap untuk berlanjut ke tahap yang lebih serius lagi. Nikah. Gila kan? Ha.ha.. Surat terakhir dari dia buat aku makin yakin sama dia.”
“good for you!”

Kata terakhir yang Lena ucapkan serasa membuat lidahnya kelu.. senyum pun tak mampu ia lontarkan. Hingga Derry memagut bibirnya, mendekap perempuan itu, dan untuk terakhir kalinya mereka pun bercinta.

Pagi begitu dingin ketika Lena membuka matanya, ia berdiri sembari membalut tubuhnya dengan selimut percintaan mereka. Kamar telah kosong. Lena memandangi sudut – sudut ruangan yang hampa akan aroma Derry. Kamar yang familiar dalam alam pikirnya. Jam dering yang sudah mulai berkarat di atas meja coklat yang sudutnya mulai terkelupas, dinding di satu sudut ruangan yang berwarna kecoklatan. Tanpa Derry.





Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono

Minggu, 16 Juni 2013

Cerita di balik senja dalam rinai hujan..

        Dalam senja yang bergelung bersama kelabu awan, terbalut gemuruh Zeus yang menggoda manusia tak bersayap pemijak bumi untuk berlari – lari kecil mencari tempat naungan berteduh. Godaan yang seakan menjadi isyarat ketika para bidadari berdansa bersama rintik air hujan yang turun ke bumi dengan berselimutkan aroma – aroma tanah basah dan bersenandung bersama gugurnya daun – daun yang rapuh karena lekang oleh waktu..

        Di tengah alunan orchestra alam itu, ada seorang ibu dengan barang belanjaan kebutuhan pokok di dalam tas kresek hitam yang tergenggam di tangan kanannya, sedang berteduh di bawah naungan terpal seng usang di selasar sebuah pasar tradisional. Ia menerawang menuju sendunya langit. “ah..hujan..”, katanya dalam hati. Sayup – sayup ia melihat motornya yang diparkir tak jauh dari situ.

        Dalam alunan melody hujan yang semakin tak merintik, alam seolah termangu dengan nafas menderu seorang bocah berusia 7 tahun yang berlari ke arah ibu tadi sembari membawa payung yang penuh dengan tambalan dan baju yang semakin erat memeluknya akibat dekapan air hujan.. Ia berlari berbekal sinar mata yang terkaburkan air dan senyum khas dari gigi – gigi mungilnya.

“Bu..payungnya bu...”
“boleh nak...”

         Ibu itu pun menggenggam pangkal payung, memayungi dirinya, dan anak itu berlari kecil di sebelahnya dengan bermandingan senja dan hujan.

“Sini nak, kita payungan sama – sama...”
“Gak usah bu, ibu aja yang payungan..”
“Gakpapa nak, sini..”

       Ibu itu pun mendekap pundak si anak dan merapatkan ke tubuhnya yang lebih hangat.. tak berapa lama, mereka pun sampai di samping motor si ibu..

“berapa nak?”
“terserah bu..seikhlasnya..”

      Tergerak oleh kelembutan  hatinya, ibu itu merogoh dompetnya dan mengambil uang 5 ribuan sembari meletakkannya ke atas telapak tangan mungil yang menengadah menatap langit. Anak itu terdiam sembari menatap uang itu lekat – lekat.. nominal uang yang sangat jarang ia terima. Bagai kebahagiaan dinamo kecil, ia mengucapkan terima kasih, berlari dengan langkah kegembiraan, dan tangan yang menggenggam uang di udara, ia membelah gerimis dan senja yang semakin menghitam..




Ad Maiorem Dei Gloriam


Amadeus Okky Suryono


   

Sabtu, 06 April 2013

Lonceng bruno..


            Auclair, seorang pria berusia 64 tahun dengan rambut cepak beruban yang dimilikinya, serta keriput yang menemani sepi hari – harinya, sedang terduduk di tangga teras rumahnya yang di design dengan ukiran – ukiran khas jawa di setiap sudutnya dan menambah kesan sederhana dari rumah tak berpagar ini. Pikirannya berkelana semenjak tadi pagi ketika  ia ditawari untuk mengurus seekor anak anjing dari seorang teman yang memiliki beberapa anjing di dalam rumahnya. “untuk menemani sepi”, katanya. Auclair yang hanya menempati rumah sederhana yang dibeli dari tangan sahabatnya 40 tahun lalu semenjak dirinya memutuskan untuk meninggalkan Prancis dan tinggal di Indonesia ini pun langsung mengiyakan tawaran tersebut sembari menyambut dengan secercah angan mengenai hal – hal apa saja yang dapat ia lakukan dengan hadirnya anak anjing coklat tua yang baru berusia 1 bulan ini. “bruno..aku namai ia bruno..”, katanya dalam hati.

         Semenjak hari pertama kedatangan bruno yang ia letakkan di salah satu ruangan tak terpakai selama proses adaptasinya untuk bernyanyi bersama dunia, hatinya yang kerut dan kosong selama bertahun – tahun sejak keputusannya untuk memilih tak menikah 30 tahun yang lalu akibat ditinggal lari pacar dalam hubungan yang telah dirajutnya selama 5 tahun dan justru memilih bertunangan dengan orang lain itu kini seolah bersemi kembali. Gayanya yang lincah, gonggongan yang menggemaskan, seakan menjadi pewarna hari – hari pensiunnya yang kelabu

       6 bulan berlalu, bruno berubah menjadi seekor anjing remaja yang selalu meloncat dengan antusias tatkala auclair kembali ke rumah serta menyambutnya dengan hangat. Tak peduli apapun hal negatif yang dunia katakan padanya, tak peduli seburuk apapun para manusia sibuk mempertentangkan kepentingan – kepentingan mereka sendiri di luar rumah sederhananya, tak peduli apa yang para tetangga katakan tentang keberadaan anjingnya selama 6 bulan terakhir, dimana kerisihan mulai melanda dan sensitifitas negatif akan anjing mulai meradang, seolah tanpa memperdulikan semuanya itu, bruno dengan insting murninya tetap melompat dan memeluk satu sisi kaki auclair sembari menjulurkan lidahnya hingga mendapatkan beberapa elusan di kepala yang ia rindukan dari tuannya meski hanya berpisah beberapa saat.

        Hari dan bulan pun berlalu, dengan balutan waktu tubuh mungil bruno telah menjelma menjadi seekor anjing dewasa yang tegap dan berotot, menjalankan tugas rutinnya untuk membagikan cinta kepada tuannya, berlari kesana kemari dengan bunyi gemerincing dari lonceng yang menempel di kalung leher yang bertuliskan nama bruno di atasnya. Rumah sederhana itupun dalam kurun waktu setahun telah berevolusi menjadi sanctuary bagi mereka berdua.

      Hingga suatu hari, sebuah keputusan diambil dari para tetangga yang merasa risih dengan bruno meskipun keberadaannya tak mengganggu keseharian mereka. Para tetangga masih belum merasa menyatu akan hidup mereka yang berdampingan dengan anjing di lingkungan rumah mereka. Dan dongeng mereka berdua pun harus berakhir. Bruno harus dijual, dimana pada umumnya anjing yang dijual juga akan berakhir pada tempat penjagalan. Pilihan kedua adalah mereka yang membuangnya, membiarkannya terseok dalam kedengkian jalanan seperti anjing – anjing liar lainnya. Auclair pun merasa patah hati, seolah hatinya yang berkerut dan lelah seolah tak mampu lagi menampung rasa sakit yang masih ada sepeninggal kekasihnya. Tetapi keputusan para tetangga sudah bulat. Pikirannya pun terbersit untuk menjual rumah sederhananya dan tinggal di rumah yang lebih kecil lagi dengan bruno di sampingnya. Tetapi ia begitu cinta akan rumah yang telah menjadi saksi berpuluh – puluh tahun kehidupannya termasuk berperan dalam saksi biksu percintaannya dengan kekasihnya. Ia pun juga teringat akan janjinya kepada sahabatnya untuk mencintai rumah ini sebagaimana ia mencintai dirinya. Dengan mata berkaca – kaca, ia pun memutuskan untuk menyerahkan bruno, sahabat yang telah menempati ruang kosong di sudut hatinya yang merapuh. Bahkan air mata pun tak sanggup mewakili apa yang ia rasakan saat ini.

       Seminggu telah berlalu, tanpa bruno yang melompat di satu sisi kakinya, tanpa bruno yang begitu antusia mencintainya. Dan satu – satunya kenangan yang tak akan ia lepaskan hanyalah lonceng yang dulu bersenandung tatkala menghiasi leher bruno. Lonceng yang akan selalu ia bawa kemanapun, meskipun menimbulkan bunyi gemerincing yang berisik. Meskipun menjadi suatu hal yang aneh ketika seorang manusia akan bergemerincing setiap langkah ia berjalan dan menjadi gosip para tetangga yang mulai menganggapnya autis. Lonceng itu tetap menggenggam dalam tangannya. Dan ia takkan pernah melepaskannya.. takkan pernah..





Ad Maiorem Dei Gloriam





Amadeus Okky Suryono

Jumat, 29 Maret 2013

Cerita seekor anjing..


   Anjing..sebuah kata yang memiliki dua perspektif yang mendalam, tergantung bagaimana kita merasakannya. perspektif pertama, sebuah kata yang seringkali mampu mewakilkan pelampiasan suatu rasa jengkel atau marah kepada seseorang dengan jalan merendahkannya bahwa dirinya sama akan seekor anjing.. suatu “penurunan kasta” dari manusia menjadi binatang sehingga cukup untuk “menyakiti” si penerima dibarengi dengan hentakan intonasi yang menari bersama kerutan seringai ekspresi wajah..perspektif kedua, kata anjing mampu melekatkan hubungan persahabatan dengan intonasi dan timing yang tepat, seolah ikut menghadirkan keberadaan si penerima sebagai seekor anjing yang loyal, sayang akan “tuannya” sehingga kehangatan antara dua sahabat pelontar kata anjing semakin terasa..

     Lalu bagaimana tingkah anjing sesungguhnya dibalik kedua perspektif diatas? Sifat anjing memang berbagai macam. Agresif ataupun jinak, dengan melantunkan gonggongan – gonggongan kebanggaan mereka dengan tujuan mencurigai orang asing yang masuk ke halaman tuannya, ataupun sekedar sebagai lagu kebahagiaan untuk menyambut tuannya yang telah pulang ke rumah.. well, definisi gonggongan pun juga tergantung kita mengartikannya. Aku memiliki sebuah cerita tentang gonggongan anjing yang mampu menjadi pengingat di dalam warna warni kehidupan kita dalam berhubungan dengan manusia.

      Aku tinggal di sebuah kos -  kosan, dimana di dalamnya terdapat 10 kamar yang ditinggali dengan berbagai variasi manusia. Pemilik kosku memiliki seekor anjing besar yang sangat ramah dengan manusia, bahkan seorang asing pun yang melintas di depannya akan ia endus dan berdiri dengan dua kaki belakangnya sembari dua kaki depannya nangkring di badan sang manusia. Anjing tersebut akan terus melantunkan gonggongan ramahnya dan menghentikan gonggongannya ketika mereka telah berhasil nangkring di badan sang manusia atau manusia bersedia untuk sekedar mengelus – elusnya. Spontan, para manusia yang disambut seperti itu pun tak tahan untuk sekedar mengelus kepalanya sebagai balasan akan keramahan dan keantusiasannya. Hingga suatu hari, ada seorang teman yang bermain ke kosku dan ia jarang bertemu dengan anjing. Pada awalnya, ia pun disambut antusias oleh anjing tersebut dengan gonggongannya sembari meloncat kesana kemari dan tak memperdulikan rantai besi yang mengikatnya.. spontan, temanku pun kaget dan berteriak kepada si anjing agar diam sembari memukul kepalanya dengan tangan. Anjing tersebut tetap menggonggong karena “misi”nya belum berhasil. Gonggongan anjing pun ditangkap temanku sebagai suatu ancaman. Di sisi lain, anjing tersebut menggonggong untuk menyambut temanku dengan antusias seperti biasa. Untuk menghentikan “pertengkaran” tersebut, aku berinisiatif untuk mengelus kepala si anjing. Dan anjing itupun diam.

       “pertengkaran” seekor anjing dengan manusia di atas sangat sering kita jumpai di dunia nyata. Tetapi bedanya bahwa pertengkaran ini tentu antara manusia dengan manusia. Pertengkaran dan kebencian terjadi karena kedua belah pihak tak bersedia untuk saling memahami apa yang menjadi keinginan dari pihak lain. Di satu pihak menginginkan apa yang dirasa terbaik bagi hubungan mereka dan berusaha untuk menjejalkannya kepada orang lain, di lain pihak mempersepsikannya sebagai suatu hal lain yang “dirasa” merugikan. Solusi terbaik pun tak tercapai dan pertengkaranpun tak terhindarkan. Hambatannya adalah pada pikiran dari pihak – pihak tersebut yang mengambil sebuah persepsi yang tak sesuai dan merespon berdasarkan persepsi salah di kepala mereka. Alangkah lebih mudah ketika pikiran mengikuti kata hati dimana hati tak pernah salah, mengesampingkan ego akan anggapan diri kita lebih baik atau lebih tau dibanding orang lain dan menyambut segala hal yang terjadi pada kita sebagai suatu hal yang positif meskipun terkadang diri kita didera beberapa hal negatif.  Mulai dari situlah kita dapat menghindari pertengkaran dan menemukan kedamaian dalam diri maupun dalam hubungan dengan sesama..




Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

Sabtu, 16 Maret 2013

Terbang..


Sudah seminggu Yoghi menjalani ritual hariannya, terduduk di depan laptop butut yang hanya bisa ia gunakan untuk mengetik tugas – tugas kuliahnya, dan juga tak ketinggalan memutar video yang telah menawan hatinya, mengusik pikirannya, dan selalu membuatnya tersihir di depan laptop sembari cengar cengir tak karuan.. video itu berdurasi 4 menit, berisi tentang seorang aktris seusia dengannya dan resmi menjadi pujaan hatinya yang secara manis memberikan pengajaran bagi para pemain gitar pemula untuk memainkan sebuah lagu yang sering ia bawakan.. Mantra aktris itu pun mampu membuat Yoghi berkoar untuk memilih pendamping dengan kriteria seperti aktris penghias laptop bututnya itu.. beautiful, smart, good singer, can play the guitar and piano, can speaks 3 language fluently like english, spain, and mandarin..semua kriteria tersebut dicatat dalam – dalam hingga tak ada bagian dari otaknya yang terlepas sedetikpun tanpa memikirkan aktris penyihir itu..

Segala hal mulai ia lakukan, mem-follow media – media sosial mulai dari twitter, facebook, blog, hingga aplikasi line dalam handphone android miliknya pun tak urung dia lakukan untuk sekedar memberikan fakta bahwa Yoghi dan dia..sedekat tombol chat yang tak juga ditekan untuk sekedar bertegur sapa dengan sang idola.. jantungnya berdegup.. hingga pada akhirnya ia merasa bahwa hanya dengan memiliki contact-nya.. ataupun bisa saja contact itu hanyalah official contact dari sang idola untuk “menampung” fans yang menggila di luar sana, termasuk dirinya, Yoghi berkata meyakinkan dirinya.. “memiliki ini saja sudah cukup..”

7 hari terakhirnya dipenuhi dengan ritual menyanyikan lagu – lagu sang idola ketika mentari mulai menghangat..hingga malam menjemput dan rasa rindu untuk mengenal lebih dekat dengan sang idola ia tenggelamkan bersama pekatnya malam.. bersama waktu, ia menutup mata sembari menandungkan lagu seolah dirinya bernyanyi duet bersama idola..dengan desah nafas mereka yang begitu dekat..diterpa senyum manis dan tatapan sendu sang pujaan hati yang menatap Yoghi dalam angan.. hingga tanpa sadar ia cengar cengir untuk yang sejuta kalinya.. tersenyum karena angan telah begitu baik meninabobokkannya dengan aktris penghias hatinya itu.. dan tanpa sadar ia pun buta.. buta akan sebuah rasa yang dianggapnya cinta..

Yoghi mulai mengambil gitar bututnya yang teronggok di dalam gudang rumahnya, membersihkannya dari debu – debu yang telah tertidur di atas gitar tanpa senar itu selama bertahun – tahun, dan mulai memasang kembali senar – senar yang hilang dan putus.. ia menyapa gitar tuanya.. membelainya.. seolah aktris pujaan hatinya yang juga pintar bermain gitar hidup di dalam gitarnya.. dan ia pun mulai terinspirasi untuk secara otodidak mendalami seni bermain gitar... karena pujaan hatinya..

Dua minggu telah berlalu diiringi sang waktu yang membelai malu..membuatnya tanpa sadar tenggelam akan rutinitas barunya.. rutinitas yang menghidupkan kembali jiwanya.. membuatnya keluar dari jalur – jalur kebosanan..dengan gitar dalam genggamannya, dengan aktris pujaan hatinya dalam angannya, dia menyanyi.. hingga suatu saat ia menyadari, lagu trademark idolanya yang telah ribuan kali ia mainkan..sebuah lagu yang seharusnya mengumbar suasana kebahagiaan..terasa getir ketika ia nyanyikan.. terasa pilu ketika matanya menutup dan menghayati setiap kata yang menari dari mulutnya.. lidahnya kelu.. dan seolah fakta menamparnya untuk membukakan matanya dari kebutaan.. bahwa dirinya tinggal dalam sebuah negeri dongeng khayalannya..yang hanya dirinya yang tahu..dimana hanya dirinya yang menikmati..dalam angan..mendadak,ia merasakan terluka karena jatuh cinta..

Sejenak, Yoghi mengumpulkan kesadarannya, mematikan video 4 menit yang telah berhasil menawannya selama dua minggu lebih, mengganggu rutinitas konsentrasinya, membutakan mata hatinya, ia terdiam..sejenak sudut – sudut mulutnya tertarik, ia tersenyum.. mengatakan dalam hati, “ Ayunda..terima kasih telah menemaniku dalam hari – hari ini..aku..salah satu makhluk pencumbu bumi akan selalu menatapmu di awan, terbanglah.lihatlah ke atas.. dari bawah, aku akan selalu tersenyum dan dengan tangan terkepal memberikan semangat padamu.. terbang!”..

Yoghi pun berjalan menapak tanah..tetapi dengan memikul realitas yang tertenteng di pinggangnya.. Dan idolanya pun terbang diiringi dengan segenap imajinasi Yoghi..dengan membawa hati dan cintanya.. ia terbang..




Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono

Rabu, 13 Maret 2013

Surat untuk idola..


       Dear you..

    Mungkin sangat berlebihan ketika aku mulai menamakanmu cinta pada pandangan pertama dimana faktanya adalah aku pertama kali menatapmu melalui layar kaca. Aku bahkan tak menyadari diriku sempat terhenyak hingga tak alihkan pandanganku dari wujudmu.. suatu hal yang mustahil dan menodai arti nama cinta jika percintaan hanya terjadi secara sepihak yang berupa lanunan kekaguman seorang fans dengan idolanya..Mungkin saja aku bergumul dalam jejalan detak jantung para pria yang juga begitu menginginkanmu..terdesak dan tak tentu arah hingga aku tenggelam di dalamnya tanpa pernah sempat mengenalmu lebih dekat.

      Aku rasa tak ada makhluk yang berpijak di atas tanah yang tak mengagumi senyummu.. dengan gigi putih rata dan lesung pipit yang memikat..dan tatapan sendu matamu yang seolah menyentuh jiwaku meski hanya sebatas di layar kaca..gambar tentangmu begitu dekat..dan aku secara naif mengabaikan fakta bahwa kamu begitu jauh..

     Jujur aku tak pernah merasakan ini ketika berhadapan dengan seorang populer sepertimu. Aku hanya membiarkan diriku terpeluk angan tentangmu diiringi sang waktu. Terbuai akan kelihaian aktingmu dan baru – baru ini, aku dikejutkan akan kepiawaianmu menyanyi dan menari dengan nada – nada gitar.. aku terpesona..

      Aku jadi teringat akan lyric Indigo girls yang kutahu berasal dari sebuah novel karangan Dee berjudul perahu kertas dan aku merasa berada di dalam kandungan bait – bait itu. Begini bunyinya :

            “Maybe that’s all that we need is to meet
            in the middle of impossibilities.
            Standing at opposite poles,
            equal partners in a mystery.”

    Saat ini aku dan kamu berada di dua kutub yang berlawanan.. di tengah kemustahilan..dan hanya bertumpu pada buaian keajaiban.. saat ini aku baru merasakan rasanya mencintai.. tanpa rasa bahagia.. tanpa rasa terluka.. numb..

   Mungkin seharusnya kuakhiri saja suratku ini.. memendam rasa yang mungkin kusangka cinta, membuyarkan khayalan dan merangkak dalam realitas.. bahwa kamu ada, dan memahami bahwa makhluk sepertimu benar – benar ada sudah cukup buatku.. dan untuk itu kuucapkan terima kasih..karena benang takdir memberikanku waktu untuk menikmati keberadaanmu..dari kejauhan..

            Aku berharap dengan berakhirnya surat ini, kamu mau menemaniku menjalani merah jingga hari – hariku..dalam khayalan.. dalam impian.. dan itu sudah cukup..



Aku mencintaimu.. jika memang itu dinamakan cinta..




Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono