Kala Senja di Ratu Boko

merasakan getaran suasana candi boko yang mempesona..

Menembus Waktu dengan Romansa

sebuah desahan mimpi yang sangat menggoda untuk disajikan..

De Britto ...

Sekolah cinta...Sekolah hati..

Gua Tritis...kemolekan yang menawan hati..

sebuah perjalanan menikmati kemolekan Gua Tritis yang patut untuk diulas..

Pantai Indrayanti..pantai pemuas hati..

pantai pasir putih yang memesona..

Tampilkan postingan dengan label Sekilas Tentang Diriku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekilas Tentang Diriku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Desember 2021

Jakarta Kota Kenangan


Beberapa waktu yang lalu, aku mengantar istri ke kantor nya di Jakarta Selatan. Tanpa terasa, aku sudah begitu lama tidak menginjakkan kaki ke “kota perjuangan” itu. Tiap sudut jalanan yang kita lalui dibanjiri kenangan semasa aku tinggal dan bekerja di Jakarta..

Sejak tahun 2016 hingga 2020, Jakarta menjadi tempatku berjuang dan mencari jati diri. Kepahitan, Tangis, Tawa, petualangan bersama orang – orang baru, konflik, ketiadaan uang, tertidur di stasiun, bandara, terminal, 7eleven, dimaki orang dikira germo, diusir satpam karena tertidur di kursi tunggu stasiun dini hari hingga petualangan bekerja bersama dengan orang – orang besar di Kementerian Keuangan, maupun rapat bersama Direksi dan Komisaris tempatku bekerja.

Semua bercampur aduk selama masa – masa itu..

Setiap masa menempaku menjadi pribadiku saat ini..

Ketika kulihat kembali langit Jakarta pagi itu, langit begitu indah..

Kuingat persahabatan – persahabatan yang muncul di balik kesesakan suatu masa..

Kuingat kehangatan seorang asing  yang memberi pertolongan ketika hati dan pikiran sedang                linglung tak karuan..

Kuingat masa dimana menyerah itu bukan pilihan, hanya ada maju dan berjuang…


Pagi itu, aku bernostalgia bersama Jakarta..

Lain waktu, kita bertemu lagi ya..

Nostalgia lagi..

Untuk mengenang betapa besar kasih Tuhan atas hidupku..

Untuk nama Tuhan yang semakin dimuliakan..



Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

Minggu, 04 Maret 2018

Aku Berbeda..

Terkadang, menjadi berbeda itu berhadapan pada jalan yang penuh liku..
Memiliki pola pikir open mind, terseok di tengah – tengah masyarakat small minds..
Memiliki kebiasaan apa adanya dan sederhana, di tengah  orang - orang munafik dan pencari muka..
Mengutamakan sisi humanis diantara orang sinis, apatis, egosentris.
Memiliki cara menyembah Tuhan yang berbeda dari yang pada umumnya..


Manusia selalu memiliki tuntutan – tuntutan yang harus dilakukan menurut standar pemikirannya sendiri..
Tuntutan yang menurut logika itu benar.. tapi salah secara nurani..
Ketika otak selalu dikedepankan, dan hati sering kali terabaikan..
Ketika yang menjadi berbeda itu sendirian berbanding khalayak ramai..
Ketika kesepian dan kesendirian menjadi sahabat sejati bagi seorang yang berbeda..


Memang benar,
Semua selalu kembali ke dalam diri..
Agar selalu memiliki respons – ability.. responsibility..
Kemampuan untuk merespons setiap tindakan luar yang berasal dalam diri..
Dengan damai, sukacita..
Tanpa peduli siapa saja yang menginginkanmu jatuh bersama debu..
Tanpa peduli siapa saja yang iri dan dengki ketika melihatmu melangkah dalam cahaya..
Tanpa peduli siapa saja yang melontarkan senyum di depan dan belati di belakang..
Tanpa peduli siapa saja yang membencimu dengan sepenuh hati..


Tak apalah aku menjadi seorang yang berbeda..
Bersahabat dengan dunia tanpa kata..
Merindukan tawa dan cinta nan jauh disana..
Berkelana bersama jiwa – jiwa kemanusiaan,
Menjunjung tinggi hakikat keberadaan manusia..
Dan menyerahkan ketidak mampuanku..
Pada kasih karunia dan kebenaran..


Aku bangga menjadi berbeda,




Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono




Sabtu, 30 Maret 2013

When birthday comes through...


        Seorang anak berusia 5 tahun mengusap mata yang telah menempuh perjalanan mimpinya semalam, sembari memiringkan tubuhnya ‘tuk berusaha turun dari tempat tidurnya dan memijakkan kaki – kaki mungilnya ke lantai sembari mengumpulkan keseimbangan. Ketika mendung dalam kelopak matanya sedikit memudar, ia lari bagai dinamo kecil yang berteriak sepanjang lorong rumahnya menuju ke sebuah kamar yang tak jauh dari ruangan mimpinya. “papa...mama...banguuuuuunn!! aku ulang tahuuuunnn...bangguuuuuunn..!!” suara 5 tahun nya menggema di sudut – sudut kamar orang tuanya, menggelitik mereka, meloncat di antara kedua orang tuanya  yang menggeliat lembut sembari tersenyum dan mengelus kepala anak mereka.. “aku ulang tahun pa..ma..ayok banguun...” tangan kecilnya menepuk – nepuk pipi kedua orang tuanya.. dan pagi itu mereka awali melalui antusiasme anak mereka yang menyambut ulang tahun ke – 6 nya.

       Ulang tahun merupakan event tahunan yang jelas – jelas  tidak hanya membangkitkan antusiasme seorang anak berusia 5 tahun tetapi juga setiap manusia lintas usia untuk sekedar sebagai reminder bahwa mereka telah melalui setahun lagi kehidupan yang diberikan kepada mereka. Tak ayal, kebahagiaan yang dirasakan pun tak akan terasa tanpa kehadiran dan sapaan hangat kepedulian dari orang – orang terdekat. Usaha pem-bully-an yang dilakukan pun menjadi ajang bagi para sahabat untuk mempertontonkan tawa dan kedekatan mereka. Tepung dan telor yang diracik ke atas kepala “korban” telah menjadi lagu nasional bagi para sahabat maupun “korban-korban sebelumnya” yang ingin balas pem-bully-an yang telah dilakukan si korban. Pesta traktir mentraktir seolah menjadi suatu ajang “wajib” bagi “korban”, baik itu secara sukarela maupun karena “paksaan”. Dan hari bahagia tahunan special bagi “korban” itu diakhiri dengan tawa yang terbalut dengan lelah yang tak dirasakan selama perayaan..membawanya ke dalam mimpi indah sebagai pelengkap hari bahagianya..hingga para makhluk yang terlanjur terbuai dengan pesta dan tawa yang dilalui bersama sahabat melupakan hal terpenting dari hari yang seharusnya merupakan reminder bagi mereka.. lupa akan diri mereka..lupa memberikan cinta dan perhatian pada pribadi mereka..dan begitu sibuk dengan kebahagiaan duniawi mereka.. ulang tahun “bahagia”...yang kosong...

         Sudahkah kita memperhatikan diri kita dan memberikan cinta terbesar bagi diri kita melalui introspeksi – introspeksi pribadi dan percumbuan batin dengan diri kita? diperlukan waktu hening bagi diri kita..khusus untuk kita..untuk merasakan bahwa kita harus berterima kasih kepada diri kita karena mampu melalui satu tahun dengan berbagai liku..dan sebagian besar kita melaluinya bersama diri kita sendiri..sudahkah kita berterima kasih kepada diri kita dengan cara mengukir resolusi – resolusi yang terpatri dalam hati kita untuk membuat diri kita menjadi lebih baik dan tidak tenggelam dalam kebahagiaan duniawi? Sudahkah? Cintai diri kita dalam kesederhanaannya..buat diri kita damai melalui suasana hening tanpa campur tangan orang lain yang mungkin terasa begitu manis dan berkesan..buatlah kesan yang lebih berkesan bagi diri kita sendiri daripada yang dilakukan orang lain kepada kita..


“Dan dalam ulang tahun..yang terpenting adalah pemberian penghargaan bagi dirimu.. penghargaan dari orang lain hanyalah nilai tambah.. syukuri itu..” – Amadeus Okky Suryono



Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono


NB : ditulis untuk diriku pada pukul 00:00 tanggal 30 Maret 2013.. selamat ulang tahun ya.. J

Kamis, 12 Juli 2012

Life is a Parody..


Sumber gambar : www.google.com

     Ketika semilir angin malam yang bercampur orchestra nyanyian alam bersenandung dan aku sebagai penontonnya..tiba – tiba sekelebat memory akan masa lalu mengganggu melody malam itu..ya jelaslah...bukan memory akan kenangan indah yang biasa buatku senyam – senyum sendiri bak orang gila, tetapi memory akan suatu nada dimana menimbulkan suatu getir dan senyum masam ketika mengingatnya..bahkan menertawakan “memory kelam” itu.. hingga sampai pada kesimpulan.. ah.. life is a parody..

Sembari lamunan semakin melambung tinggi..ku-pilah – pilah arsip “memory kelam” itu dah kembali tersenyum masam ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar, dimana aku yang masih cecunguk itu bergaya seolah mempunyai kekuatan super dahsyat yang ujung – ujungnya selalu saja ketika mengakhiri hari di bangku sekolah dengan sok – sok an berkelahi bahkan menyakiti fisik dan mental dari si korban... ck..ck.. senyum masam menghiasi bibirku..

Bahkan ketika kemudian kutemukan arsip yang menandakan aku telah menginjak bangku SMA pun, dengan gaya – gaya khas remaja menuju dewasa yang masih mencari jati diri, terkuak memory ketika sebuah masalah percintaan mengganggu hubungan pertemanan dan bla..bla..bla.. begitu masamnya memory ini hingga menuangkannya ke dalam bentuk tulisan pun menjadi cengar cengir sendiri dan tak kuat akan kemasamannya...

     Memang di dalam hidup, ketika kita sudah dapat menertawakan diri kita di masa lampau karena kejadian – kejadian konyol yang terkadang membuat malu ketika kita mengingatnya, itu menandakan diri kita sudah mampu mengambil pelajaran yang kita ambil dari peristiwa – peristiwa emotional tersebut.. ke-parody-an hidup seakan menjadi – jadi tatkala si korban dalam peristiwa tersebut justru menjadi teman baik kita di masa sekarang.. maka ketika kita memiliki “musuh” dalam kehidupan keseharian kita, dan kita melakukan hal – hal yang konyol dalam rangka perseteruan dengan orang yang kita anggap “musuh” tersebut sehingga saling menyakiti , sebelum melakukan hal tersebut, cobalah untuk berpikir lebih jauh dengan pertanyaan, “Bagaimana jika orang yang kusakiti saat ini menjadi teman dekat kita di waktu yang akan datang?” sekilas ketika menanyakan hal tersebut ke dalam dirimu, seakan pikiranmu berkata,” ah..tidak sudi aku berteman dengan nya di masa yang akan datang..” tetapi Tuhan dan hidup memiliki suatu rencana yang akan selalu membuatmu ternganga.. pernahkah kamu mendengar pepatah, “ manusia boleh lah membuat rencana untuk masa depannya.. tetapi Tuhan menentukan rencana mana yang terbaik untuknya..” dan hal ini juga berlaku dalam pertemananku.. sungguh..

Bahkan terkadang timbul suatu perasaan, andai saja waktu dapat kuputar kembali dan memperbaiki peristiwa – peristiwa tersebut..yah..yang sudah berlalu biarlah berlalu..yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya dan menindaklanjuti akibat dari perbuatan kita..syukur – syukur kalau si korban masih mau memaafkan tingkah laku kita..

Lamunanku bahkan sampai ke suatu titik dimana dapat kuambil kesimpulan..

 “Kesalahan dalam hidup menjadi tidak berarti ketika kita tidak dapat mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut – Amadeus Okky” .. 

Ad Maiorem Dei Gloriam


Amadeus Okky Suryono

Sabtu, 31 Maret 2012

De Britto ..





         Sekitar 2 hari yang lalu..dalam gemuruh stadion yang menderu...ditengah desakan dan himpitan badan – badan besar dengan peluh yang bercucuran..diriku berdiri tegap, dengan tangan kananku yang ku letakkan di dada..dan menggaungkan lagu mars yang akan selalu bergema di sepanjang hidupku..ya..kami...supporter dan juga siswa dan alumni De Britto mengalunkan Mars De Britto dan mengeluarkannya dari hati yang terdalam..dan mengabaikan kekalahan tim basket De Britto serta membuangnya dalam derai air mata..

Ya..sejenak aku merasa kembali ke situasi 6 tahun yang lalu..ketika aku pertama kalinya menginjakkan kaki dalam arena petualangan di kaki langit Yogyakarta..dan De Britto tempatku berlabuh..aku , yang merupakan seorang pendiam ulung..seorang anak yang tak tahu bagaimana mendapatkan kehangatan dalam pertemanan..seolah pikiranku yang selalu terkungkung dalam alam pikiranku memecah dan berhamburan keluar sembari menghirup udara kebebasan... ya..”pendidikan bebas” yang kudapatkan merobek segala kekakuan dan membentuk berbagai macam perspektif baru akan Tuhan dan sesama..

Man for Others..sebuah prinsip mendalam akan kebahagiaan seseorang dalam berbagi uluran tangan pada orang lain, memudahkanku dalam membentuk karakter – karakter dan menempanya dalam aliran halus yang buatnya bersinar ketika orang melihatnya..sebuah prinsip yang merobek suatu individualitas dan mengubahnya menjadi aura seni tanpa tepi..menghapus setiap noda...dan mewarnanya kembali menjadi serpihan – serpihan yang lembut dan apik..

Kenangan – kenangan Cino Jowo  yang melekat dalam hati mulai terbentuk..dan terasah dalam banyolan – banyolan yang memercikkan senyuman tatkala setiap keping memory itu mencuat dan menimbulkan suatu asa kerinduan.. terutama rasa saling percaya yang membalut masing – masing De Britto’ers  turut menghiasi hitam dan putih pelukan mereka...

Hingga saat ini..rasa persaudaraan ini akan selalu menjadi pedoman hidupku..dalam berbagi tawa dan air mata...serta bertemu hanya sekedar menghapus sebongkah kerinduan yang takkan pernah pudar..bersama..kami terus berjalan dengan kepala tegak...dan tangan di dada..dengan suara lantang dan mengalun sebagai curahan setiap hati...sembari mengatakan...,”Bagi Tuhan..dan bangsaku...”


-okky

Kamis, 29 Maret 2012

I'm The Man of Sun..



Sumber Gambar : www.Google.com

21 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 30 Maret 1991.. bumi kedatangan seorang bayi yang tenggelam dalam tangisannya, berjuang ‘tuk mengabarkan melalui angin sepoi dan embun pagi bahwa dia begitu gembira akan hirupan nafas pertamanya di dunia.. bayi laki – laki itu diberi nama Amadeus Okky Suryono.. merupakan suatu hal yang menarik ketika kehadiranku di Kupang, Nusa Tenggara Timur menjadi oasis tersendiri di tengah teriknya sabana dan seolah peluh akibat terik mentari seakan memudar..

Ya.. mentari di kaki langit Kupang memang begitu mempesona..dan bagi kepercayaan masyarakat disana, pesona keindahan mentari menjadi suatu hal yang tak terpisahkan dan bersenandung bersama bebatuan serta dikombinasikan dengan suara – suara derapan mantap besi – besi sepatu kuda yang sudah sedikit usang tetapi tetap setia menempel pada tuannya.. merupakan suatu orkestra yang apik untuk melengkapi tawa dan kebahagiaan akan hadirnya diriku di dunia.. dan atas dasar inilah.. orang tua yang begitu mengasihiku mengabadikan secarik orkestra tersebut ke dalam namaku..secarik orkestra itu bernama mentari..

Mentari pijar dengan bentuk gas bola raksasa yang tidak pernah habis dalam memberikan kehangatan akan makhluk hidup di bumi..tak pernah lekang oleh waktu..selalu ada di kala bumi tertunduk lesu dan berenang dalam gulita..serta tersenyum dengan merah dan jingga ketika bumi rindu akan malam dimana bulan menjadi sahabat.. 

        Sang bola gas raksasa yang dengan setia memamerkan sinarnya itu  dalam bahasa jawa disebut “suryo” maupun “srengenge”...dan ketika aku disini berperan sebagai seorang manusia..orang tuaku ingin agar aku mampu meneladani keindahan dan kelembutan  pesona mentari..dan membubuhkannya ke dalam namaku yang secara apik tercantum dalam akta kelahiranku.. Suryono..Suryo yang dalam bahasa jawa berarti mentari...dan yono dalam bahasa jawa berarti manusia..ya.. “I’m The Man of Sun”..


-okky