Kala Senja di Ratu Boko

merasakan getaran suasana candi boko yang mempesona..

Menembus Waktu dengan Romansa

sebuah desahan mimpi yang sangat menggoda untuk disajikan..

De Britto ...

Sekolah cinta...Sekolah hati..

Gua Tritis...kemolekan yang menawan hati..

sebuah perjalanan menikmati kemolekan Gua Tritis yang patut untuk diulas..

Pantai Indrayanti..pantai pemuas hati..

pantai pasir putih yang memesona..

Kamis, 24 Januari 2013

Pernahkan kamu terbutakan oleh cinta?


      Pernahkah kamu terbutakan oleh cinta? Ketika pertama kali mengenal sinar matanya, goresan senyumnya yang begitu enggan pergi tinggalkan angan dan bergumul dalam bayangan, menggenggam hangat telapak tangannya sembari mengumbar nama satu sama lain dan tanganmu yang coklat kasar bercumbu dengan tangan putihnya yang halus, serpihan angin menggoda rambut hitam panjangnya yang menggerai sebahu dan buatnya menari – nari mendampingi senyum tipisnya yang menyapamu lekat – lekat.

       Pernahkah kamu terbutakan oleh cinta? Ketika nomor telepon genggam miliknya sudah ditangan dan kamu hanya dapat menatapnya ribuan kali, setiap nomor yang berjejer disana yang seakan mengundangmu untuk menekan tombol call hanya untuk mendengarkan suaranya membelaimu saat itu juga, tapi.. ibu jarimu tertahan..diam tak bergeming, seolah ada sesuatu yang tak tampak menahanmu untuk menekan tombol warna hijau dan jantungmu berdebar cepat...terlalu cepat..hingga akhirnya kamu mengurungkan niatmu  dan berusaha untuk mencobanya lain kali sembari menghimpun nafas yang tercerai berai.. ya..kamu berakhir menghubunginya dalam bayangmu..dalam anganmu..dan itu sudah cukup..

       Pernahkah kamu terbutakan oleh cinta? Ketika hari – hari panjangmu hanya diisi pelukan – pelukan hangat dirinya dalam pikiranmu tetapi begitu dingin dan beku dalam hatimu.. dirinya ada..hadir...memenuhi setiap sel di otakmu..tetapi hati terasa begitu lengang..begitu kosong..dan terisi hingga meluap – luap ketika kamu melihat dari belakang kilau hitam rambutnya yang berdansa bersama langkah kakinya sembari aura keramahan dengan teman sepermainannya mendekapmu begitu erat.. dan kamu tersenyum diiringi dengan hangatnya hati sembari menatapnya dari kejauhan..

     Pernahkan kamu terbutakan oleh cinta? Ketika tanpa sengaja kamu bertemu dengannya di sebuah cafe favoritmu, dirinya bersama seorang lelaki yang tak kamu kenal, dengan tangan yang saling menggenggam, dengan senyum yang saling menyapa, dengan tawa yang terurai, kamu terduduk di sudut favoritmu, mereka terbuai di sudut yang berlawanan denganmu, dan sekali lagi..kamu melihat aura bahagianya.. kamu tersenyum..

        Pernahkah kamu terbutakan oleh cinta? Ketika kamu telah tak perduli berbagai hal negatif yang orang – orang lontarkan kepadanya, tetapi kamu tetap tak menyerah, meski dirimu tersakiti, meski dirimu terluka, meski dirimu nyari mati untuk tetap teguh dalam mempercayai hatimu, mempercayai cintamu, karena hati memiliki akal sendiri yang tak dimiliki oleh akal.

      Pernahkah kamu terbutakan oleh cinta? Ketika pada akhirnya dirinya bahagia bersama seorang yang lain, menyandarkan kepalanya bukan pada bahumu, tersenyum dan memberikan sinar matanya bukan padamu, dan memeluk bukan pada hatimu yang letih, dingin, dan kosong.. tetapi itu semua terbayar ketika kamu menyadari bahwa dirinya bahagia dan kamu juga merasa bahagia karenanya...

   Pernahkah kamu terbutakan oleh cinta hingga akhirnya kamu berkata dalam hatimu untuk selalu mencintainya dengan hati kecilmu yang rapuh?


Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

Selasa, 22 Januari 2013

Pernik memory


Kupejamkan mataku dalam kelamnya malam..
Bercumbu dengan angin sisa musim dingin..
Langitpun sayu, pucat tanpa naungan bintang..
Pohon maple menari tanpa daun di sisinya.
Kelabu..
            Hanya ada kelebatan hitam dan kelabu dalam anganku..
            Angan yang merintih dalam guratan – guratan masa lalu..
            Masa di kala janji terlontar seindah pelangi..
            Juga masa di kala janji meradang dan terhapus sepi..
            Kelabu...
Air mata menetes dalam kepalsuan..
Hingga ia berontak dan terjatuh dalam aspal jalanan..
Luka yang mengalir tersayat pikiran – pikiran semu..
Yang mendambakan senyuman..
Yang merindukan kebahagiaan..
Kelabu..
            Dusta bersemai seindah senja..
            Dan cinta merintih dan kehilangan jati dirinya..
            Bahkan ia menolak dipanggil cinta..
            Ia mengasing di negeri antah berantah..
            Dirudung lapar..mengais tanah..
            Tergolek lemah tanpa seorangpun perduli..
            Kelabu..
Kubuka mataku yang terbuai dalam bulir peluh..
Masih adakah kasih yang tersisa?
Untuk sekedar menghangatkan..
Untuk sekedar mengampuni dan diampuni..
Masih adakah celah kecil di hatimu untuk kutinggali?
Aku kedinginan...aku kelaparan..
Biarlah aku tinggal di rongga tergelap hatimu..
Biarkan aku terbaring..
Kelabu..



Terinspirasi dari : “Dan ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami”- Yesus


Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

Jumat, 18 Januari 2013

Kamu, Hujan, dan Senja


Sumber Gambar : www.google.com


            Sisa – sisa kelabu langit masih menggelayut di sela gerimis putih yang menaungi kota yogya..kutatap matanya dalam.. sembari kuhirup bau tanah yang semakin pekat..namun dirinya tertunduk tanpa berniat untuk membalas tatapanku..tangan kirinya berpegangan erat pada pagar depan rumahnya, seolah takut dirinya goyah..goyah dan memberikan hatinya padaku.. aku pun tertunduk..

            Untuk beberapa saat, kubiarkan gerimis menari membasahiku hingga tetesan – tetesan air jatuh ke tanah beraspal dari ujung – ujung rambutku..kuutarakan kembali pertanyaan untuk meyakinkan keputusannya akanku..”apa kamu yakin?”. Gadis itu, gadis yang mengalihkan duniaku semenjak pertama kali aku bertemu dengannya di perkuliahan yang sama 2 bulan yang lalu itu hanya menunduk dan mengangguk perlahan, tanda ia yakin dengan keputusannya. Dan tangan kirinya semakin erat memegang daun pagar itu..

            Mataku lesu, dan energi seolah meninggalkanku berkubang dalam kesendirian di tengah goresan luka yang tak dapat terurai dengan kata – kata. Senja kelabu pun beranjak pulang. Dan kurasa, aku pun harus pulang. Kugerakkan kedua kakiku menuju motor silver yang setia menemani perjalanan di sudut – sudut jalanan, kutatap wajahnya untuk terakhir kali, wajah yang mengantar kepulanganku dengan ketertundukan, kunyalakan mesinku, kurasakan tanganku kaku dan meregang ketika motor hendak kupacu, ahh..mungkin karena dinginnya hujan. Aku pun pergi meninggalkannya, meninggalkan rumahnya, dan berpacu menembus gerimis yang bertransformasi menjadi hujan..hujan yang terlalu lebat.

            Air – air hujan menembus kaca helmku, membelai wajahku yang tertutup dengan air mata, bahkan hujan dan air mata di wajahku pun tak dapat kubedakan..mataku terlalu sembab. Kutepikan motorku di jalanan yang sepi, dengan hujan yang masih bercinta denganku. Berbagai kelebatan memory menghantuiku dengan cepat. Ah.. seharusnya tak kubiarkan dirinya pergi dengan “kawan lama”nya, makan dan nonton bersama hingga menghabiskan waktu bersama, tertawa, bergumul dalam perbincangan yang mengolah nada, dan lukaku terbuka semakin menganga. Kubuka helmku, kurasakan desahan hujan di kepalaku, ya..tubuhku semakin basah, tetapi hatiku semakin mengering, bahkan terlalu banyak retak – retak di sudut – sudut hati, dimana hujan yang kupunya telah hilang, ia telah pergi.

            Kukenakan kembali helmku, kupacu  motor secara perlahan, kutinggalkan memory-ku, kutinggalkan cintaku, kutinggalkan bahagiaku, dan motor perlahan kupacu. Ketembus hujan yang semakin melebat, dengan hati yang kering dan retak, dengan air mata yang tak kunjung mereda..


Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

Senin, 14 Januari 2013

"Pak Sampah"


       Aku terbuai dalam belaian angin yang berhembus masuk menuju ruang tamu tempat aku duduk dan bercinta dengan buku – buku bacaanku. Kutatap keluar rumah, disana hadir hijau dedaunan yang menari malu berhiaskan keceriaan kicau burung di tengah arogansi mentari. Jalanan aspal depan rumahku sepi, menandakan tak banyak warga yang membiarkan diri mereka terbalut waktu dalam kenestapaan. Hanya satu dua pedagang baik makanan yang berisikan sayur mayur dan bumbu – bumbu masakan maupun pedagang alat – alat rumah tangga yang melintas menuju sudut - sudut gang itu.

       Tak berapa lama kemudian, kenikmatan membacaku terusik oleh kehadiran seseorang yang sangat familiar dalam masa kecilku dengan latar mentari yang mulai beradu malu dengan awan. Familiar dalam artian lekuk wajah dan bentuk tubuh begitu kukenali karena kehadirannya yang sering melintasi jalanan gang – gang rumah kami. Hanya sepatah dua patah kata yang ia tuturkan, atau bahkan tak bertutur sama sekali ketika tangan legamnya dengan lincah memungut tong – tong sampah rumah tangga yang tergeletak di depan masing – masing rumah penduduk dan memasukkannya ke dalam gerobak sampah lapuk yang setia menemaninya kayuhan demi kayuhan menjemput sampah - sampah itu.

       Dengan bermodalkan topi bundar berwarna hijau lusuh yang menghiasi sekeliling kepalanya, kaos oblong warna biru lusuh yang menjadi senjata kesehariannya, celana jeans biru muda yang telah memudar dan bercak – bercak kotoran di sisi kiri dan kanannya, dan tak lupa sandal jepit kesayangannya, ia bergerak memacu gerobak sampah yang terbuat dari kayu lapuk di masing – masing sisinya dan menembus hujan radiasi mentari demi mencukupi kebutuhannya dan keluarga yang dicintainya.

         Kehadirannya familiar di masa kecilku? Ya, sepengetahuanku, semenjak aku menempuh sekolah dasar hingga kini,  13 tahun atau mungkin lebih, dengan tatapan matanya yang melankolis dan senyum yang tanpa ragu ia sandarkan begitu mengguratkan aura ke-nrimo­-an akan dirinya sehingga gerak geriknya begitu membelai ketulusan hatinya dalam mengurusi sampah – sampah yang telah menjadi pekerjaannya selama bertahun – tahun itu. Jelas rasa gengsi ia buang jauh – jauh, sebuah pribadi yang langka di tengah materialisme dan hedonisme yang semakin membabi buta. Sebuah pekerja dengan jiwa yang rela berpeluh, menerima keadaan, berkarya dengan sepenuh hati, hingga garis – garis hidup terlukis manis bersanding pipi dan kelopak matanya.

       Apakah kita yang mengaku “orang kota” tidak merasa malu akan keihklasannya dalam menjalani hidup? Mengeluh akan hal – hal yang  “sedikit” memerlukan keprihatinan seperti contohnya ketika di masa – masa Kuliah Kerja Nyata yang dihadapi mahasiswa saat ini, para mahasiswa“kota” itu  mengeluh kulitnya rusak karena mandi menggunakan air tadah hujan, tidak tidur di kasur yang empuk, merindukan “masakan enak di kota”, sinyal telepon gengam yang timbul tenggelam dan banyak keluhan lainnya. Apakah kita tidak merasa malu ketika kita yang seharusnya memiliki tingkat intelegensi yang baik serta berbagai materi yang mampu menghasilkan kualitas hidup yang baik malah tidak mengerti cara untuk bersikap dan nrimo dalam menikmati hidup dan justru mereka yang telah terbiasa berkubang dalam derita, tak menempuh pendidikan bahkan tak cukup materi yang diperlukan untuk hidup serta ditempa oleh hidup justru mampu untuk menghasilkan yang terbaik bagi manusia – manusia di sekitar mereka khususnya keluarga mereka?

      Maukah kita meneladani sikap ke-nrimo-an dan kerendah hatian mereka serta berdamai dengan hidup ?


Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

Kamis, 20 Desember 2012

"Inner voice"

Sumber gambar : www.google.com

       Ingatkah kamu ketika duduk di bangku kelas 1 SD, bapak - ibu guru membantu kalian menggurat mimpi sejak dini melalui pertanyaan,” anak-anak, kalo besar mau jadi apa?”. Dengan mata berbinar dan antusiasme yang menyala, jawaban pun mengalir dari mulut makhluk – makhluk mungil yang masih buta akan hitam putihnya kehidupan yang merentang di balik bilik masa kecil mereka. Dokter, insinyur, astronot, presiden merupakan jawaban umum yang sering kita jumpai meskipun seminggu kemudian, beberapa diantara mereka bahkan telah melupakan jawaban yang mereka berikan.

    10 tahun kemudian ketika menginjak di bangku SMA, ataupun mungkin disengaja atau tidak, meninggalkan perpacuan wajib sekolah dan kewajibannya untuk sekolah dengan berbagai alasan, anak – anak mungil yang telah menjelma menjadi manusia yang berusaha menapakkan dirinya dalam kedewasaan kembali dihadapkan akan pertanyaan, apakah cita – citaku? Apakah tujuan hidupku? Kemanakah mimpi – mimpiku yang terbang di balik awan? Apakah ia pergi? Akankah aku merengkuhnya kembali?

       Sembari waktu terus bergulir, dengan pertanyaan yang terus mengusik jiwa mereka, tanpa sadar mereka menapaki suatu kehidupan yang diluar ekspektasi dan suara hati mereka. Ada yang bilang,mereka menempuh jurusan yang salah dalam perkuliahan, ada juga yang bilang,aku kuliah karena orangtuaku menginginkannya dan segala alasan lain yang tak masuk akal ketika mereka mulai berjalan setapak demi setapak di kegelapan dan jauh dari passion yang membara di balik dada mereka.

      Hingga akhirnya anak – anak mungil itu beranjak dewasa, dewasa dalam artian mereka sudah mampu untuk membiayai kehidupan mereka sendiri dengan bekerja di kantor – kantor ber-AC dalam gedung yang mewah dimana raga melakukan pekerjaannya sedangkan jiwa melanglang buana dan terbang meninggalkan dunia kantornya yang kecil dan membosankan. Di tengah jiwanya yang terusik, bahkan banyak diantara mereka yang merasa pekerjaannya “lebih” dengan kemampuan yang “lebih”, merasa berhak untuk mendiskreditkan pekerjaan yang terlihat melalui kacamata mereka yang sempit dan memuakkan.. ya..mereka mampu berkecukupan melalui pekerjaan mereka, tetapi apakah anak – anak mungil yang kini tumbuh menjadi seorang pekerja tanpa jiwa telah memenuhi apa yang begitu mereka inginkan dalam hidup?

       Bagaimana dengan seorang anak mungil yang sekarang tumbuh dalam kesederhanaannya dan menapaki masa – masa kedewasaannya dengan berprofesi sebagai  tukang sapu, tukang cuci baju, tukang sampah, pedagang keliling dan kehidupan mereka dianggap sebagai kaum terasing, kaum malas, tak berpendidikan? Apakah hidupnya tak tenang? Benarkah? Bagaimana jika ternyata mereka melakukan pekerjaannya dengan tulus,nrimo,dan mau melayani sesuai dengan suara hati mereka? Bagaimana jika justru merekalah yang merupakan para pekerja dengan jiwa di dada mereka??




Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono
            

Senin, 17 Desember 2012

Kemana cinta melangkah?


Sumber gambar : www.google.com

Dalam selasar penantian..
Kedua mataku beradu dalam getar - getar nuansa hening..
Terbalut senyum tipis yang memikat kalbu..
Melirik malu..perlahan...dan mendalam..
Serta meringkuk dalam perlombaan pacuan jantung..
Hingga seulas senyum pun terlalu tipis untuk dirasakan...
Terlalu tipis untuk diberikan.
Bahkan guratan di pipi pun tak sanggup merentang nafas..
Ikut terpukau dalam geraman aura pemandangan rona merah di pipi..
Menyatu dalam tarian angin yang ikut berbisik di sela – sela kilau hitam rambutmu..
            Apakah ini hanyalah kekaguman sesaat?
            Membutakan arah..menodakan langkah...
            Mematikan semua indera..terdiam..
            Hingga mendengar sebuah suara yang membelai dalam hati..
            Sebuah suara yang begitu ingin didengarkan..
            Sebuah suara yang begitu ingin dirindukan..
            Mengacuhkan semua fakta – fakta memuakkan..
            Hingga suara itu bergema dalam bilik – bilik ketakberdayaan..
            Sebuah suara yang dengan sombongnya menyebut namanya dengan sebutan..
            Cinta..
Ah..biarlah waktu membimbing hati..
Bagaikan sungai yang mengalir dan kita terbuai dalam arusnya..
Dengan wajah menengadah ke langit..dan tubuh yang terlentang..
Melintasi batu – batu besar yang menghalangi dan mendorong menuju arus yang deras..
Tenggelamkanku..
Bersatu padu dalam usahaku merengkuh nafas hati..
Hingga perjalanan cinta itu mencapai sebuah akhir..
Melayang di atas permukaan danau indah, tenang..
Dengan sinar mentari yang terpantul di permukaannya..
Ataukah justru arus sungai menjadi semakin deras..
Dan mencapai suatu batas..
Yang tak dapat direngkuh oleh relung – relung logika..
Menerjunkanku dalam ketinggian yang bahkan..
Memberikan akhir dari sebuah ketragisan cinta..
Entahlah..
Biarlah hati ini bersiap menikmati bagaimanapun mereka menyambutnya..


Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono

Kamis, 22 November 2012

Perjalanan sang kakek..


Sumber Gambar : kamera pribadi


        Rimbun hijau daun pohon jati menyapaku sehangat alunan mentari dan menjadi bumbu perjalanan kami menyusuri lokasi air terjun kesukaan kami sekeluarga yang terletak di salah satu kota di Jawa Timur.mereka seolah terduduk dan bercengkrama sembari berbisik satu dengan yang lain di kala 1-2 mobil melintas di jalan beraspal yang membelah kedua sisi hutan jati.. kulintasi jalanan yang memadukan aura hangat yang membelai kami oleh karena keasrian dan tatapan – tatapan sendu dari para penghuni hutan..

      Sudah sampai waktunya ketika rasa rindu akan aroma alam memuncak dan tak dapat tertahan lagi, mobil kamipun berhenti di satu sisi jalanan beraspal itu..semburat kegembiraan dari adik dan orang tua memiliki nada yang tak terucapkan..alhasil, tanpa mengulur banyak waktu, kamipun menebar tawa dan mengabadikan kesempatan sesaat kami bercumbu dengan alam.

   Beberapa saat kemudian, kusadari..terdapat suatu pemandangan menarik di tengah kegembiraan kami..seorang kakek dengan rambutnya yang memutih, keriput di matanya,berjalan bungkuk dan tertatih serta berjuang untuk tak memadamkan api di matanya.. disampingnya berkumpul beberapa orang pemuda berbadan tegap dan anak – anak sekolah menengah yang mengumbar tawa  sembari menodongkan telunjuknya ke arah kakek yang membopong barang bawaan yang disangga dengan kedua bahunya..dalam diam,kakek tersebut melangkah setapak demi setapak, dininabobokan dalam hening, dan terdapat suatu keintiman antara jiwa kakek dengan alunan musik – musik hutan..

      Ejekan dan cemoohan tak menghentikan langkah lambat si kakek..dengan peluh di wajah..kakek itu terus maju..mendaki jalan setapak yang membelah keasrian hutan jati..demi mendapatkan upah yang kurasa tak seberapa dibandingkan dengan perjuangan yang dilaluinya sepanjang perjalanan..ketenangan jiwanya dengan alam dan Tuhan membuatnya terus merangkak maju dalam jejalan – jejalan cinta..

        Aku tahu..ketika mentari menyambut dan memeluk kakek di penghujung jalan setapak itu..ia tak perlu khawatir lagi..sebab kakek itu tak lagi sendiri..melainkan berdansa bersama gerimis putih dikala mentari masih memeluk dengan erat..



Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono