Kala Senja di Ratu Boko

merasakan getaran suasana candi boko yang mempesona..

Menembus Waktu dengan Romansa

sebuah desahan mimpi yang sangat menggoda untuk disajikan..

De Britto ...

Sekolah cinta...Sekolah hati..

Gua Tritis...kemolekan yang menawan hati..

sebuah perjalanan menikmati kemolekan Gua Tritis yang patut untuk diulas..

Pantai Indrayanti..pantai pemuas hati..

pantai pasir putih yang memesona..

Kamis, 14 Februari 2013

Valentine (?)


  
Sumber gambar : www.google.com

      Hari kasih sayang atau valentine day merupakan sebuah hari yang dinanti – nanti bagi kebanyakan remaja di dunia khususnya di Indonesia saat ini. Mengapa remaja? Apakah para tetua tak menantikannya? Tunggu dulu..memang.. para tetua atau dengan kata lain manusia – manusia setengah dewasa maupun yang telah dewasa memang juga menantikannya, tetapi porsi penantiannya tak se-menggebu-gebu teman – teman kita yang menginjak usia remaja. Dibalut masa – masa ala remaja dengan dandanan yang khas ke-kimcil-annya, justru ngebikin toko – toko pernak – pernik valentine seperti coklat maupun pernik lainnya jadi laris lho! Thanks to them!

          Lalu? Kenapa aku cuma nyorotin remaja doang yang menggebu – gebu dengan hari cinta ini? Kemana yang lainnya?? Well..mereka aku rasa juga merayakannya, dengan cara mereka masing – masing. Entah hang out bareng temen – temen, stay over di rumah kekasih eh! Rumah temen maksudnya.. ataupun sekedar menikmati malam romantis bareng pasangan masing – masing. Memang para makhluk yang sudah tak remaja ini ga semuanya ngerayain valentine dengan semangat 45! Ada juga yang mungkin merasa hari ini ya kayak hari biasanya. Hari kamis! Bahkan penulis pun sempet lupa kalau hari ini hari valentine kalo ga diingetin sama temen. Hehehe... well..that’s no problem! Esensi dari pemaknaan hari cinta ini yang udah dari sono nya ada tuh emang berfungsi sebagai reminder bagi kita, buat berhenti sejenak dari rutinitas kita, yang mungkin kebanyakan dari kita tenggelam dari berbagai macam kesibukan, bahkan ngakibatin lupa membagikan cinta sama orang – orang terdekat kita. membagikan cinta tuh bisa dilakuin secara sederhana, mungkin dengan memberikan perhatian buat mereka. So, melalui valentine day ini, kita diingetin lagi biar kita jangan sampai alpha dalam memberikan cinta kepada siapapun dan kapanpun juga. Well..mungkin ada beberapa orang yang tak pernah alpha dalam memberikan cintanya kepada sesamanya selain hari valentine ini. Well that’s great guys! Bisa ngebagi-bagiin cinta secara rutin di hari – hari biasa selain hari valentine. Lanjutin gan!

       Cinta disini juga general kok, so para jomblo’ers juga gak usah minder sama yang udah punya pasangan. Cinta bisa dibagikan ke teman – teman maupun keluarga. So, gak perlu saling sirik ya! Ujung – ujungnya sikap saling menghargai juga perlu dimunculkan lagi disini. Inti dari hari ini kan cinta, paling enggak, kita juga diingetin kalo sebenernya kita di dunia itu gak cuma gelut, stress, kerjaan numpuk, but at least kita sadar kalo ini lhoo..kita punya cinta..

         Tunggu apa lagi! Sudahkah kamu membagikan cintamu hari ini? Kalo belum, dimulai dari hari ini, buat dirimu membagikan cinta secara rutin kayak makan 3x sehari, tapi ini jelas gak cuma 3x sehari but as much as you like! Kalo ternyata besok suatu hari nanti kamu tersakiti oleh berbagai macam bentuk penyakit hati yang dilakukan manusia – manusia di luar sana, gak peduli! Keep spreading love though the world give none to you! Just keep loving!



Ad Maiorem Dei Gloriam
With Love,



Amadeus Okky Suryono

Selasa, 05 Februari 2013

Pukul lima lebih tiga puluh menit


          Dering jam wecker yang melantun klasik membangunkanku untuk menikmati hari baruku dan seketika membuatku terkesiap dalam mimpi yang menyesapku semalaman. Meskipun aku selalu dibangunkan oleh lantunan klasik jam pengganggu tidur itu, dering itu tak pernah familiar..selalu buatmu ternganga dan memaksaku untuk membuka mata. Dering yang keras dan panjang..entah mengapa diriku tak pernah mau mengganti bunyi beep beberapa kali yang dilantunkan oleh jam – jam digital masa kini. Aku tetap berkeras dengan wecker klasik yang selalu menjerit ketika fajar melirik pada pukul lima lebih tiga puluh menit.
         
         Sembari mengernyitkan wajah dan menggaruk rambutku yang tak terasa gatal, aku berjalan terhuyung – huyung mengambil peralatan mandiku, mengatur air panas dengan suhu 40 derajat celcius dan mandi. Setelah menyelesaikan ritual mandiku, aku mengambil empat lapis roti tawar yang siap di meja makan, membubuhkan selembar keju ke dalam dua lapis pertama roti tawarku, dan satu telur mata sapi yang kugoreng cepat di penggorengan. Kuselipkan telur itu ke dua lapis terakhir roti tawarku. Menu sarapan ini tak pernah berganti semenjak aku SMA hingga aku bekerja di sebuah perusahaan bonafide seantero negeri. Tak lupa juga aku membuat kopi dengan takaran 2 sendok kopi, 3 gula dan 2 cream untuk menemani ritual sarapanku. Kupakai pakaian kerjaku, dengan kemeja putih, dasi merah, celana hitam kain dan jas hitamku. Aku merangsek menuju kantor tempatku bekerja yang terletak tak jauh dari apartemenku. Dan aku bergulat dengan data – data keuangan perusahaan hingga pukul 8 malam, mengambil kunci apartemenku dengan gontai, membukanya perlahan, mencari sofa terdekat yang terletak di depan televisi dan kurebahkan diriku dengan baju kerja masih menempel di badanku. Biasanya aku langsung terlelap dan terbangun pukul 2 dini hari untuk berjalan ke dapur, meletakkan panci dan membuat mie instan untuk mengganjal perutku. Selesai “makan pagi”, aku berjalan perlahan menuju kamarku sembari menggaruk perutku yang telah terisi, berganti pakaian, dan membanting diriku ke atas kasur. Aku terlelap hingga jam wecker klasikku membangunkanku. Pukul lima lebih tiga puluh menit.

         Apakah aku memiliki wanita? Ya. Dapat dikatakan kami saling mencintai, tetapi tuntutan pekerjaan membuatku terpisah sementara waktu dengannya hingga akhirnya waktu menuntun kita bekerja di 2 kota yang berbeda. Kami hanya bertemu sebulan sekali. Dan sebenarnya, aku hanya menghabiskan waktu keluar dari rutinitas ketika bertemu dengannya meski hanya 3 hari dalam sebulan. Kami biasa menghabiskan waktu dengan jalan – jalan ke luar kota,berkunjung ke berbagai tempat wisata, dan melakukan aktivitas saling memandang yang tak terhitung jumlahnya. Ketika memasuki akhir hari ketiga pertemuan dengannya, kami berpisah kembali dengan pintu apartemennya sebagai saksi perpisahan kami setiap bulannya. Satu kecup di pipi sebagai salam perpisahan dan aku melangkah pergi menuju rutinitasku yang dimulai ketika jam wecker klasikku membangunkanku. Pukul lima lebih tiga puluh menit.

       Akhir pekanku diisi dengan menonton bioskop di salah satu mall terbesar di kotaku, bioskop yang secara rutin kukunjungi setiap akhir pekan. Kubeli popcorn dan minuman soda yang selalu menemaniku nonton meski belum kubeli tiketnya. Dan kupilih kursi terpojok dalam bioskop itu meski dari pojok yang gelap itu, aku dengan jelas melihat berbagai pasangan saling merangkulkan tangan dan menyandarkan kepala di bahu sang pria. Pemandangan yang jelas membuatku iri, membuatku semakin merasakan sepi, dan aku berusaha untuk mengabaikannya dan melemparkan popcornku satu per satu ke rongga mulutku. Film pun usai, aku tetap tak beranjak dari tempat dudukku meski para penonton yang lain telah meninggalkan theater. Aku akan menikmati lima menit berada di bioskop dengan film yang telah usai daripada lima menit berada di apartemenku. Separah itu. Sesampai di apartemenku, aku merebahkan tubuhku, meski waktu masih terlalu awal untuk tidur dan aku bermimpi hingga jam wecker klasikku membangunkanku. Pukul lima lebih tiga puluh menit.

        Aku adalah orang yang mungkin terlalu berhemat, dan mungkin oleh sebab itulah teman – temanku selalu tak mengajakku untuk sekedar hang out dan chit chat di berbagai tempat nongkrong kesukaan anak muda. Karena aku sering menolak ajakan mereka meskipun uang tak menjadi masalah untukku dan aku berusaha untuk melihat secara detil pengeluaranku serta menyesal jika aku mengeluarkan uang terlalu besar karena telah mencoba menyesap kopi di sebuah cafe yang baru kukunjungi ataupun mencoba hal – hal baru lainnya. Ya..boleh saja kamu berkata hidupku hanya berwarna hitam dan putih, dan sedikit berwarna berbeda ketika 3 hari dalam sebulan aku bertemu wanita yang kurindukan. Aku selalu menebak perilakuku ini merupakan bawaan darah dari tiong hoa yang mengalir dalam darahku sekaligus aku yang juga bekerja sebagai staff keuangan. Tetapi hal itu tak dapat dijadikan alasan. Aku tahu itu. Terlepas dari segala alasanku, aku selalu memiliki sesuatu yang dapat diandalkan, yang tak membutuhkan aktivitas hang out, jam wecker klasikku yang setia membangunkanku. Pukul lima lebih tiga puluh menit.

      Pernah..seorang rekan kerjaku mengatakan kepadaku bahwa hidupku seperti robot dimana hidup seperti itu merupakan langkahku untuk melindungi diriku dari sepi. Terlalu takut dengan spontanitas. Terlalu takut lepas kendali. Biarlah. Setidaknya aku tak sendiri. Aku ditemani jam wecker klasik yang selalu membangunkanku. Pukul lima lebih tiga puluh menit.


Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono
            

Jumat, 25 Januari 2013

Terima kasih dita..


       Perkenalanku dengan dita, mahasiswi ekonomi jurusan manajemen, dimulai ketika kami menempuh mata kuliah yang sama. Mata kuliah hitungan yang mampu memberikan momok tersendiri bagi para mahasiswa/i karena kerumitannya, sehingga menurut mahasiswi berkulit putih dengan rambut panjang berkilau sebahu itu, dirinya bahkan memerlukan seorang guru les untuk membimbingnya menelusuri sudut – sudut intrik mata kuliah yang sangat berbau khas akuntansi tersebut.

        Dita selalu duduk di bangku terdepan, bangku yang paling dekat dengan dosen Sedangkan aku tersudut pada bangku paling belakang, spot yang jarang terlihat dosen agar aku dapat melakukan aktivitas – aktivitas penghilang kebosanan ketika berada di tengah penjelasan dosen yang terkadang meninabobokkan pendengarnya. Bagiku, mata kuliah ini tak begitu rumit, karena kesukaanku dengan angka dan aku yang memang merupakan jurusan akuntansi, sehingga terkadang aku terlalu meremehkan dan berakhir pada pengulangan mata kuliah ini..yang mempertemukanku dengan dita, dimana usianya 2 tahun di bawah usiaku..

         Di suatu malam, aku dan dani, sahabatku semasa kuliah, berperang dengan soal – soal yang terlampau sulit bahkan kurasa, dosen yang bersangkutan pun mengibarkan bendera putih menghadapi soal – soal ini. Dani yang juga satu jurusan dan seusia denganku pun memegangi kepalanya yang terus menerus ia keluhkan pusing tersebut, dampak tak mampu mengerjakan soal – soal itu. Frustasi karena upaya malam itu tak membuahkan hasil, aku pun mengambil blackberry dani untuk sekedar mempermainkannya dan mengambil break di tengah nafas yang mulai sesak. Sebelum mempermainkannya, kulihat daftar kontaknya, dan.. terpampang kontak dita..mahasiswi yang selalu menggoda untuk kuperhatikan.. Tanpa ragu, akupun mentransfer kontak dita ke blackberry milikku, menambahkannya untuk menjadi teman dan tak berapa lama kemudian, voila! Aku pun terhubung ke dalam kehidupannya.

       Perkenalan singkat di blackberry  menggodaku untuk menanyakan penyelesaian soal yang aku dan dani geluti sepanjang malam, mengingat kami sekelas telah mengetahui bahwa hanya dita lah yang menyewa guru les untuk mata kuliah yang bersangkutan. Tak berapa lama kemudian, terpampang jawaban dita dan guru lesnya di layar blackberry, aku dan dani pun bersorak, kami menang. Dengan bantuan dita tentunya.

       Sejak saat itu, aku selalu menunggu hari selasa, pukul 7 pagi, sederet waktu yang menyeret kami berdua ke pertemuan mata kuliah itu. Di dalam kelas, kami hanya saling bertukar pandang, menebar senyum, dan kikuk ketika berusaha untuk mengalihkan pandangan ketika tatapan kami bertemu. Pagiku menjadi indah. Kampus menjadi tempatku mengadu.

      Debar jantung terlalu cepat ketika kucoba menghubunginya via telepon, bahkan berkali – kali kubatalkan niat tersebut, mengumpulkan desah nafas dan mencoba menghubunginya lain kali. Tetapi waktu yang tepat untuk menghubunginya pun tak kunjung datang dan hanya berujung pada pelampiasan pesan – pesan singkat dalam blackberry messenger. Aku pun mulai bertanya pada diriku, “ apakah ini cinta? cinta yang terlalu dalam sehingga mendengar suaranya pun dapat memenuhi hatiku dengan kebahagiaan? Tetapi menghubunginya pun aku tak sanggup. Apakah cintaku tak layak? Kemana perginya keberanianku yang kukobar-kobarkan beberapa tahun belakangan?”

      Pertemuan kami di kampus hanya diisi dengan tatapan mata yang haus akan kerinduan untuk saling mengenal satu sama lain, senyuman yang mendebarkan jiwa, dan kebahagiaan hanya dengan menatap kehadirannya. Aku hanya merasakan, jiwa yang satu, dengan jarak yang memisahkan raga. Hingga 1 semester pun berlalu..kami belum sempat mencecap hangatnya kehidupan satu sama lain. Hanya kenangan akan tatapan,senyuman, dan gerak langkah yang membuai hari – hariku dalam bayangnya.

         Liburan panjang semester pun bersambut, kudengar berita bahwa dita resmi berpacaran dengan lelaki seusianya, tetapi beda fakultas. Hatiku runtuh. Dan aku pantas mendapatkannya karena aku tak memiliki keberanian secuil pun untuk mengenalnya lebih dekat. Aku berikan pesan singkat padanya via blackberry messenger,”aku mengira kamu menyukaiku..” dan dirinya hanya membalas singkat,” oh..enggak kak..gak maksud..maaf..” lalu bagaimana dengan tatapan penuh makna yang ia berikan padaku? Senyuman yang selama ini ia lemparkan untuk menghangatkan hari – hariku? apakah semua itu adalah kosong?

     Pagi baru pun menyambut..dengan hati yang meneteskan darah..tubuh yang lemas tanpa tenaga..aku melepaskan kenanganku..kenangan indah yang menemaniku selama 1 semester..kenangan untuk mengenalmu..kenangan karena pernah mencintaimu..

      yah..setidaknya aku belajar untuk memberikan cinta tanpa syarat.. kepada seorang yang ternyata kosong dan tak memiliki perasaan apa – apa  kepadaku.. dan cinta itu tak harus berbalas kan?



Terima kasih dita..





Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

Kamis, 24 Januari 2013

Pernahkan kamu terbutakan oleh cinta?


      Pernahkah kamu terbutakan oleh cinta? Ketika pertama kali mengenal sinar matanya, goresan senyumnya yang begitu enggan pergi tinggalkan angan dan bergumul dalam bayangan, menggenggam hangat telapak tangannya sembari mengumbar nama satu sama lain dan tanganmu yang coklat kasar bercumbu dengan tangan putihnya yang halus, serpihan angin menggoda rambut hitam panjangnya yang menggerai sebahu dan buatnya menari – nari mendampingi senyum tipisnya yang menyapamu lekat – lekat.

       Pernahkah kamu terbutakan oleh cinta? Ketika nomor telepon genggam miliknya sudah ditangan dan kamu hanya dapat menatapnya ribuan kali, setiap nomor yang berjejer disana yang seakan mengundangmu untuk menekan tombol call hanya untuk mendengarkan suaranya membelaimu saat itu juga, tapi.. ibu jarimu tertahan..diam tak bergeming, seolah ada sesuatu yang tak tampak menahanmu untuk menekan tombol warna hijau dan jantungmu berdebar cepat...terlalu cepat..hingga akhirnya kamu mengurungkan niatmu  dan berusaha untuk mencobanya lain kali sembari menghimpun nafas yang tercerai berai.. ya..kamu berakhir menghubunginya dalam bayangmu..dalam anganmu..dan itu sudah cukup..

       Pernahkah kamu terbutakan oleh cinta? Ketika hari – hari panjangmu hanya diisi pelukan – pelukan hangat dirinya dalam pikiranmu tetapi begitu dingin dan beku dalam hatimu.. dirinya ada..hadir...memenuhi setiap sel di otakmu..tetapi hati terasa begitu lengang..begitu kosong..dan terisi hingga meluap – luap ketika kamu melihat dari belakang kilau hitam rambutnya yang berdansa bersama langkah kakinya sembari aura keramahan dengan teman sepermainannya mendekapmu begitu erat.. dan kamu tersenyum diiringi dengan hangatnya hati sembari menatapnya dari kejauhan..

     Pernahkan kamu terbutakan oleh cinta? Ketika tanpa sengaja kamu bertemu dengannya di sebuah cafe favoritmu, dirinya bersama seorang lelaki yang tak kamu kenal, dengan tangan yang saling menggenggam, dengan senyum yang saling menyapa, dengan tawa yang terurai, kamu terduduk di sudut favoritmu, mereka terbuai di sudut yang berlawanan denganmu, dan sekali lagi..kamu melihat aura bahagianya.. kamu tersenyum..

        Pernahkah kamu terbutakan oleh cinta? Ketika kamu telah tak perduli berbagai hal negatif yang orang – orang lontarkan kepadanya, tetapi kamu tetap tak menyerah, meski dirimu tersakiti, meski dirimu terluka, meski dirimu nyari mati untuk tetap teguh dalam mempercayai hatimu, mempercayai cintamu, karena hati memiliki akal sendiri yang tak dimiliki oleh akal.

      Pernahkah kamu terbutakan oleh cinta? Ketika pada akhirnya dirinya bahagia bersama seorang yang lain, menyandarkan kepalanya bukan pada bahumu, tersenyum dan memberikan sinar matanya bukan padamu, dan memeluk bukan pada hatimu yang letih, dingin, dan kosong.. tetapi itu semua terbayar ketika kamu menyadari bahwa dirinya bahagia dan kamu juga merasa bahagia karenanya...

   Pernahkah kamu terbutakan oleh cinta hingga akhirnya kamu berkata dalam hatimu untuk selalu mencintainya dengan hati kecilmu yang rapuh?


Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

Selasa, 22 Januari 2013

Pernik memory


Kupejamkan mataku dalam kelamnya malam..
Bercumbu dengan angin sisa musim dingin..
Langitpun sayu, pucat tanpa naungan bintang..
Pohon maple menari tanpa daun di sisinya.
Kelabu..
            Hanya ada kelebatan hitam dan kelabu dalam anganku..
            Angan yang merintih dalam guratan – guratan masa lalu..
            Masa di kala janji terlontar seindah pelangi..
            Juga masa di kala janji meradang dan terhapus sepi..
            Kelabu...
Air mata menetes dalam kepalsuan..
Hingga ia berontak dan terjatuh dalam aspal jalanan..
Luka yang mengalir tersayat pikiran – pikiran semu..
Yang mendambakan senyuman..
Yang merindukan kebahagiaan..
Kelabu..
            Dusta bersemai seindah senja..
            Dan cinta merintih dan kehilangan jati dirinya..
            Bahkan ia menolak dipanggil cinta..
            Ia mengasing di negeri antah berantah..
            Dirudung lapar..mengais tanah..
            Tergolek lemah tanpa seorangpun perduli..
            Kelabu..
Kubuka mataku yang terbuai dalam bulir peluh..
Masih adakah kasih yang tersisa?
Untuk sekedar menghangatkan..
Untuk sekedar mengampuni dan diampuni..
Masih adakah celah kecil di hatimu untuk kutinggali?
Aku kedinginan...aku kelaparan..
Biarlah aku tinggal di rongga tergelap hatimu..
Biarkan aku terbaring..
Kelabu..



Terinspirasi dari : “Dan ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami”- Yesus


Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

Jumat, 18 Januari 2013

Kamu, Hujan, dan Senja


Sumber Gambar : www.google.com


            Sisa – sisa kelabu langit masih menggelayut di sela gerimis putih yang menaungi kota yogya..kutatap matanya dalam.. sembari kuhirup bau tanah yang semakin pekat..namun dirinya tertunduk tanpa berniat untuk membalas tatapanku..tangan kirinya berpegangan erat pada pagar depan rumahnya, seolah takut dirinya goyah..goyah dan memberikan hatinya padaku.. aku pun tertunduk..

            Untuk beberapa saat, kubiarkan gerimis menari membasahiku hingga tetesan – tetesan air jatuh ke tanah beraspal dari ujung – ujung rambutku..kuutarakan kembali pertanyaan untuk meyakinkan keputusannya akanku..”apa kamu yakin?”. Gadis itu, gadis yang mengalihkan duniaku semenjak pertama kali aku bertemu dengannya di perkuliahan yang sama 2 bulan yang lalu itu hanya menunduk dan mengangguk perlahan, tanda ia yakin dengan keputusannya. Dan tangan kirinya semakin erat memegang daun pagar itu..

            Mataku lesu, dan energi seolah meninggalkanku berkubang dalam kesendirian di tengah goresan luka yang tak dapat terurai dengan kata – kata. Senja kelabu pun beranjak pulang. Dan kurasa, aku pun harus pulang. Kugerakkan kedua kakiku menuju motor silver yang setia menemani perjalanan di sudut – sudut jalanan, kutatap wajahnya untuk terakhir kali, wajah yang mengantar kepulanganku dengan ketertundukan, kunyalakan mesinku, kurasakan tanganku kaku dan meregang ketika motor hendak kupacu, ahh..mungkin karena dinginnya hujan. Aku pun pergi meninggalkannya, meninggalkan rumahnya, dan berpacu menembus gerimis yang bertransformasi menjadi hujan..hujan yang terlalu lebat.

            Air – air hujan menembus kaca helmku, membelai wajahku yang tertutup dengan air mata, bahkan hujan dan air mata di wajahku pun tak dapat kubedakan..mataku terlalu sembab. Kutepikan motorku di jalanan yang sepi, dengan hujan yang masih bercinta denganku. Berbagai kelebatan memory menghantuiku dengan cepat. Ah.. seharusnya tak kubiarkan dirinya pergi dengan “kawan lama”nya, makan dan nonton bersama hingga menghabiskan waktu bersama, tertawa, bergumul dalam perbincangan yang mengolah nada, dan lukaku terbuka semakin menganga. Kubuka helmku, kurasakan desahan hujan di kepalaku, ya..tubuhku semakin basah, tetapi hatiku semakin mengering, bahkan terlalu banyak retak – retak di sudut – sudut hati, dimana hujan yang kupunya telah hilang, ia telah pergi.

            Kukenakan kembali helmku, kupacu  motor secara perlahan, kutinggalkan memory-ku, kutinggalkan cintaku, kutinggalkan bahagiaku, dan motor perlahan kupacu. Ketembus hujan yang semakin melebat, dengan hati yang kering dan retak, dengan air mata yang tak kunjung mereda..


Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

Senin, 14 Januari 2013

"Pak Sampah"


       Aku terbuai dalam belaian angin yang berhembus masuk menuju ruang tamu tempat aku duduk dan bercinta dengan buku – buku bacaanku. Kutatap keluar rumah, disana hadir hijau dedaunan yang menari malu berhiaskan keceriaan kicau burung di tengah arogansi mentari. Jalanan aspal depan rumahku sepi, menandakan tak banyak warga yang membiarkan diri mereka terbalut waktu dalam kenestapaan. Hanya satu dua pedagang baik makanan yang berisikan sayur mayur dan bumbu – bumbu masakan maupun pedagang alat – alat rumah tangga yang melintas menuju sudut - sudut gang itu.

       Tak berapa lama kemudian, kenikmatan membacaku terusik oleh kehadiran seseorang yang sangat familiar dalam masa kecilku dengan latar mentari yang mulai beradu malu dengan awan. Familiar dalam artian lekuk wajah dan bentuk tubuh begitu kukenali karena kehadirannya yang sering melintasi jalanan gang – gang rumah kami. Hanya sepatah dua patah kata yang ia tuturkan, atau bahkan tak bertutur sama sekali ketika tangan legamnya dengan lincah memungut tong – tong sampah rumah tangga yang tergeletak di depan masing – masing rumah penduduk dan memasukkannya ke dalam gerobak sampah lapuk yang setia menemaninya kayuhan demi kayuhan menjemput sampah - sampah itu.

       Dengan bermodalkan topi bundar berwarna hijau lusuh yang menghiasi sekeliling kepalanya, kaos oblong warna biru lusuh yang menjadi senjata kesehariannya, celana jeans biru muda yang telah memudar dan bercak – bercak kotoran di sisi kiri dan kanannya, dan tak lupa sandal jepit kesayangannya, ia bergerak memacu gerobak sampah yang terbuat dari kayu lapuk di masing – masing sisinya dan menembus hujan radiasi mentari demi mencukupi kebutuhannya dan keluarga yang dicintainya.

         Kehadirannya familiar di masa kecilku? Ya, sepengetahuanku, semenjak aku menempuh sekolah dasar hingga kini,  13 tahun atau mungkin lebih, dengan tatapan matanya yang melankolis dan senyum yang tanpa ragu ia sandarkan begitu mengguratkan aura ke-nrimo­-an akan dirinya sehingga gerak geriknya begitu membelai ketulusan hatinya dalam mengurusi sampah – sampah yang telah menjadi pekerjaannya selama bertahun – tahun itu. Jelas rasa gengsi ia buang jauh – jauh, sebuah pribadi yang langka di tengah materialisme dan hedonisme yang semakin membabi buta. Sebuah pekerja dengan jiwa yang rela berpeluh, menerima keadaan, berkarya dengan sepenuh hati, hingga garis – garis hidup terlukis manis bersanding pipi dan kelopak matanya.

       Apakah kita yang mengaku “orang kota” tidak merasa malu akan keihklasannya dalam menjalani hidup? Mengeluh akan hal – hal yang  “sedikit” memerlukan keprihatinan seperti contohnya ketika di masa – masa Kuliah Kerja Nyata yang dihadapi mahasiswa saat ini, para mahasiswa“kota” itu  mengeluh kulitnya rusak karena mandi menggunakan air tadah hujan, tidak tidur di kasur yang empuk, merindukan “masakan enak di kota”, sinyal telepon gengam yang timbul tenggelam dan banyak keluhan lainnya. Apakah kita tidak merasa malu ketika kita yang seharusnya memiliki tingkat intelegensi yang baik serta berbagai materi yang mampu menghasilkan kualitas hidup yang baik malah tidak mengerti cara untuk bersikap dan nrimo dalam menikmati hidup dan justru mereka yang telah terbiasa berkubang dalam derita, tak menempuh pendidikan bahkan tak cukup materi yang diperlukan untuk hidup serta ditempa oleh hidup justru mampu untuk menghasilkan yang terbaik bagi manusia – manusia di sekitar mereka khususnya keluarga mereka?

      Maukah kita meneladani sikap ke-nrimo-an dan kerendah hatian mereka serta berdamai dengan hidup ?


Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono