Kala Senja di Ratu Boko

merasakan getaran suasana candi boko yang mempesona..

Menembus Waktu dengan Romansa

sebuah desahan mimpi yang sangat menggoda untuk disajikan..

De Britto ...

Sekolah cinta...Sekolah hati..

Gua Tritis...kemolekan yang menawan hati..

sebuah perjalanan menikmati kemolekan Gua Tritis yang patut untuk diulas..

Pantai Indrayanti..pantai pemuas hati..

pantai pasir putih yang memesona..

Minggu, 03 November 2013

Cinta Tanpa Tanda Tanya..

Malam itu.. dua insan basah oleh lampu kemuning jalanan dan hujan..
Cuaca dingin membekap mereka berdua yang larut dalam obrolan tepian jalan..
Ia menatap mata wanita itu lebih lekat dari butiran gerimis yang tak lagi merintik..
Tak lagi memperdulikan kemeja kotak – kotak yang baru dibelinya basah..
Tak lagi memperdulikan make up yang semakin meluntur..
Tak lagi memperdulikan mata – mata jalang yang menelanjangi mereka dengan nyalang..
Kedua insan itu hanya mengandalkan genggaman tangan mereka..
Yang hangat sehangat hati mereka berdua..

            Kedua insan itu tahu..
            Hati mereka tak lagi dua melainkan satu..
            Tetapi dalam lubuk hati terdalam timbul suatu kegalauan hati..
            Mungkinkah kebersatuan hati tetap terjalin tanpa kehadiran fisik satu sama lain?
            Mungkinkah cinta yang seharusnya bernyanyi indah dan megah..
Justru meracau dan meratap sebelum sempat mencecap sesapan manisnya?
            Akankah cinta mereka juga akan sesingkat pertemuan percintaan mereka?
            Ah..
Omong kosong dengan rasionalitas dan realitas..
Kedua insan itu tahu..
Mereka yang saling mendetakkan nama satu sama lain di hati mereka itu..
Mereka tak tinggal di dunia makhluk tak bernyawa..
Makhluk yang hanya mengerti rutinitas dan menjalankannya dengan otak pintar mereka..
Makhluk yang melakukan sesuatu tak sebebas dan semerdeka cinta mereka..
Makhluk yang terbelenggu oleh keadaan dan kondisi..
Kedua insan itu tahu..
Mereka tidaklah seperti itu..

Awan kelabu semakin tenggelam dalam lautan bintang yang tertutup malam..
Bersorak dan berharap akan cinta kedua insan pemijak bumi itu pun juga sepekat malam..
Gemuruh petir pun ikut menertawakan cinta mereka..
Cinta yang mereka pegang setengah mati..
Hingga tiba kedua insan itu di persimpangan jalan..
Sebuah saat dimana sang waktu dengan angkuhnya berdetik tanpa perduli..
Mereka berdua tahu mereka harus berpisah sesuai dengan cara dunia melihat mereka..
Mata mereka beradu penuh makna..
Mereka tersenyum..
Kedua insan itu tahu..
Mereka adalah sang pemenang..
Dengan hati sebagai pegangan..
Dan cinta yang takkan pernah padam..





Ad Maiorem Dei Gloriam





Amadeus Okky Suryono



Rabu, 23 Oktober 2013

Journey..

           Ia memandang nanar di tepian langit – langit kamarnya.. bersetubuh dengan waktu yang tak lagi menggairahkannya.. kekasih jiwanya telah pergi.. sembari menggandeng lelaki yang juga menjelma menjadi sahabat terbaiknya.. mereka berdua telah tenggelam bagaikan senja yang luruh dalam barisan bintang.. mereka telah tiada.. tetapi ketiadaan mereka menyisakan ruangan kosong dalam rongga hatinya yang telah begitu banyak meneteskan darah..bahkan tetesannya melebihi darah yang sekarang mengalir akibat sayatan – sayatan di tangannya dan membentuk dua buah nama.. Putri dan Rico..

        Jeritan pilunya membelah malam .. Ia merasa semesta mempermainkannya dan membuatnya tak lagi mempercayai cinta. kosong..kelam.. hingga ia berada di suatu titik dimana ia tak merasakan apapun..

            Darah terus menetes bersama buliran waktu.. hingga ia pun tak merasakan sakit fisik apapun..dengan sisa tenaga yang ia punya.. ia membuka pintu rumah, dimana merupakan satu – satunya penghalang antara dirinya dan semesta yang menantinya di luar.. bersekongkol untuk membahanakan tawa mereka..

            Ia membuka pintu..udara beku di bawah langit Sahara semakin menusuk hati yang hitam dan tak lagi merasakan apa – apa.. dengan darah yang masih menetes tetapi berkurang intensitasnya karena memang ia masih diliputi ketidakberuntungan karena ia menyayat tak begitu dalam..dan dengan bertelanjang kaki, telapak kakinya mulai bercumbu dengan lautan pasir.. ia mulai meniti langkah.. berbekal mata yang menatap ke satu titik tetapi terkabutkan akan gumpalan air yang memenuhi rongga matanya yang memanas.. suatu kondisi dimana ia selalu bersahabat dengannya...

            Ia berjalan lunglai menuju bukit pasir terjauh dalam pandangan matanya..sembari berteriak pilu akan dua nama yang tergores menganga dalam luka di tangannya..para tetangganya menahannya.. ia hanya bisa meronta..dan menjerit..”lepaskan aku!”

            Berjam – jam para tetangga berusaha menahan tubuhnya yang masih terus meronta.. “ah.. ia telah pergi dan takkan kembali..”, kata salah seorang tetangganya.. satu per satu mereka melepaskan cengkeramannya dalam tubuhnya..hingga tak ada seorang pun yang menahannya.. Ia bangkit berdiri dengan mata yang nanar..ia melangkahkan langkah pertamanya.. dan mulai berjalan..menuju bukit pasir terjauh dalam pandangan matanya..

            Hari telah beranjak pagi dalam balutan mentari yang tersipu malu..mentari yang seolah bersinar dan bahagia melihatnya saat ini..dan terus tertawa cerah.. lelah..dan capai hingga tergantikan oleh tawa sang rembulan.. berbulan – bulan  ia tetap berjalan..selangkah demi selangkah..menyusuri Sahara yang dingin membeku ketika malam tiba..dan masih berteriak pilu akan dua nama yang terukir dalam luka di tangannya yang semakin mengering..

            Hingga suatu hari.. ia menemukan satu pohon tua yang berdiri agak condong ke barat.. dan pohon itu yang hidup di tengah padang pasir yang tandus.. berdiri sendiri dan terbalut sepi.. Ia pun terduduk di bawah pohon itu.. pohon yang tak berdaun.. yang hanya memiliki beberapa ranting – ranting tua andalannya.. dan Ia menemani pohon tua itu..

               Ia merasakan suatu kedamaian yang luar biasa..

          Ia merasakan terik mentari yang menyengat kulitnya yang terbakar dan terkelupas akibat hujan mentari dan bekunya malam yang ia terima setiap hari.. 

            Ia merasakan angin panas menerpa jalur – jalur air mata yang telah mengering pada wajahnya..

            Dan yang mengagetkannya adalah..

            Ia mampu kembali merasa..

         Ia menjeritkan untuk terakhir kalinya kedua nama itu.. jeritan yang panjang..hingga angin membawa gema suaranya terbang menuju khayangan..

           Ia berkata lirih,”tunggu gema suaraku.. jangan tinggalkan aku sendiri disini bersama pohon tua ini..aku ingin menyusulmu..”

            Dan ia mendapatkan keberuntungan pertamanya ..

            Ia tak lagi merasakaan apa – apa lagi..

Selamanya..



Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

Jumat, 18 Oktober 2013

Oase..

Tahukah kamu, manis...
Kehadiranmu saat ini bagaikan oase yang tersembunyi di balik bukit padang pasir...
Oase yang memberikanku tujuan di setiap helaan nafasku..
Selepas bergelung bersama rintihan fatamorgana..
Selepas ter-bisa-kan ular derik yang mengintaiku sebagai mangsa..
Selepas pertarunganku dengan pelukan – pelukan mentari yang buatku terbakar setengah mati...

            Kamu..oaseku..
            Yang mampu membasahi keringnya kerinduanku akan kamu di setiap rajutan mimpi –
            mimpi indahku...
Yang mampu menambal patahan dan retakan di setiap nadiku yang mulai haus akan detakkan namamu..
Yang terombang – ambingkan godaan dari makhluk – makhluk melata dan berusaha ‘tuk memilikimu seluruhnya..

Memang..
Pada awalnya kusingkirkan egoku..
Kuabaikan dahagaku tentangmu..
Kuhempaskan hasrat untuk terninabobokkan alunan suaramu..
Agar kamu, sang oase..
Mampu menebarkan percik kasihmu dalam detakan makhluk penghuni padang pasir yang berego tinggi ‘tuk menikmati sesapan demi sesapan bersamamu..
Dan biarlah aku menjadi penikmat terakhirmu..
           
            Aku..
            Sosok yang hanya bisa berdiri mematung ke arahmu..
            Sembari berharap dari jauh akan setetes harapan yang tersisa darimu..
            Masih ada..
            Masih ada...
            Ya... masih ada..
            Dua buah kata yang terus kugaungkan dalam alam pikirku..
Hingga kata yang bergaung itu justru berteriak nestapa dalam langit yang semakin membiru..
Dan aku terjerembab diatas pasir yang membakar setiap sel dalam kulitku..
Meronta dan mengharap pada kamu yang bertransformasi menjadi ilusi yang menguap entah kemana..

Ah..
Kurasa akhir ceritaku bukanlah seperti Aladin dan Delilah..
Yang saling menebar senyum dan bercumbu dalam romantika pandangan sepasang kekasih yang berpendar kebahagiaan..
Yang tinggal di dalam istana dengan puja puji para pelayan..
Meskipun istana itu berdiri kokoh diantara makhluk – makhluk padang pasir yang rela mencederakan hatinya untuk melihat mereka berdua menderita..
Bukan...bukan itu..

            Aku?
            Seorang yang kehilangan cerita yang indah -  indah..
Seorang yang terkubur bersama lautan padang pasir dan hujan air mata yang menguap terbawa angin..
            Seorang yang terinjak oleh tawa kosong makhluk penghuni padang pasir..
Seorang yang menatap jauh sebongkah mentari yang terbit di langit mata sang kekasih dan berharap akan tenggelam di langit matanya..
Seorang yang begitu mendamba sang oase di pangkuannya..
Oase yang menjadi kekasih jiwanya..



Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono 

Sabtu, 12 Oktober 2013

Air Mata dari Langit

            Ayu.. sebuah nama yang menyiratkan kesederhanaan.. bukan nama metropolis yang ke-barat-barat-an seperti Keisha, Cindy, Pamela, Jessica..dimana konon.. semakin ke barat sebuah nama, semakin keren dan kece orangnya.. bukan.. bukan itu semua.. tetapi nama yang merasuk dalam budaya rakyat jawa.. Ayu, dimana dalam bahasa jawa yang berarti cantik..dan kecantikannya memang seperti mutiara yang berpendar di dasar laut tak terjamah..anggun dan bersinar di tengah lingkungannya yang semakin menghitam..

            Ayu..gadis kecil berusia 5 tahun yang tinggal di pedalaman Saptosari..berlari dengan kaki telanjang dan bercumbu dengan lumpur tanah merah khas kota Wonosari.. sembari menyambut gerimis putih  bersama alunan embun pagi sebagai penghibur pertama kemarau yang panjang dan melelahkan,  mengangkat wajahnya..memejamkan mata polosnya..ia menikmati..untuk sejenak..air mata dari langit..bagai seorang sahabat yang tak bertemu sekian lama... ya.. sahabatnya bukan gadget, bukan Teddy bear.. tetapi air mata dari langit..

            “simboook... langit’e nangiiiis...” (buu, langit menangis), katanya sambil berteriak kepada ibunya yang berlari – larian mengambil baju jemuran yang mulai tersibak angin bercampur rintik hujan..

            “iyoo nduuk” (iya nakk..), jawab ibunya singkat..

        “aku yo kepingin nangis mboook..ngancani langit..” (aku juga mau  nangis bu.. menemani langit), katanya sembari mengusap matanya yang lebih basah dari rintik hujan yang bersetubuh dengan merahnya tanah..

            Ia terduduk di tanah..dress merah lusuh yang dipakainya semakin basah oleh gerimis yang menari di atas kepalanya..air matanya semakin mengalir..tangisannya semakin menjadi..tangan – tangan mungilnya menggenggam tanah berlumpur di sisi kiri – kanannya.. Ia tak lagi peduli dengan semakin membekunya udara pagi itu..

            Ibunya berlari menghampirinya...memeluk dan berusaha menghangatkannya dengan hangat tubuhnya..mengangkat dan membawanya ke dalam pondok kayu mereka..mengelap tubuh anaknya dengan kain kering seadanya, memangku, dan meletakkan kepala anaknya di dadanya..dekat dengan hatinya..jantungnya..jiwanya..

            “ngopo ora ngiyup to nak?” (kenapa kok tidak berteduh nak?), kata ibunya sembari membelai lembut rambut  basah anaknya..

            “pingin ngancani langit, mbok..mesakke..dewean..” (ingin menemani langit, buu.. kasihan... sendirian..), kata ayu sembari mengusap lelehan air matanya di pipinya yang tak sebulat anak – anak kota nan menggemaskan..

            “ah...nduk..”




Ad Maiorem Dei Gloriam


Amadeus Okky Suryono

            

Kamis, 10 Oktober 2013

Heartbroken..

Heartbroken..
Karena cinta? ah.. sudah basi..berlumut.. bahkan hingga kini, hati yang tadinya utuh menjadi separuh.. dan dari hati yang separuh, mati – matian buat gak nyanyiin lagu - lagu galau dan beranjak ke sarang spiritualitas malah justru ter-abrasi menjadi seperempat dan bahkan hilang! Lalu? Aku menjadi manusia tak ber-hati? Entah..

Heartbroken..
Karena kelakuan orang -  orang sekitar yang melihatku dalam bungkusan masa lalu? Kurang tau juga. Mungkin masih banyak yang  berpendapat kalo manusia itu makhluk stagnan.. yang berubah ya physicly..warna rambut, tinggi badan, atau bahkan meningkatnya kemampuan otak.. pokoknya yang bisa diliat mata..bukan hati..bukan kepribadian...kalo masa lalunya udah seperti itu ya udah.. pasti sekarang ya gak jauh – jauh banget dari situ.. lalu respon – respon yang kayak gitu bikin heartbroken? Um..entah..mau ngecek hati juga kayaknya tadi uda secara gak langsung menjadi “manusia tak ber-hati”.. jadi mau ngecek kemana lagi?

Heartbroken..
Karena ekspektasi kepada almamater yang terlalu tinggi.. indah.. bahkan sekarang seakan menjadi folkstale yang apik sebagai bumbu bunga tidur? Well. Mungkin.. aku mulai teracuni virus iri dengki kepada mereka, para alumnus yang masih tinggal di dunia khayangan, dunia yang penuh solidaritas, kehangatan teman – teman satu almamater yang menempati sebagian besar porsi hati dan menjadi source bahan bakar di kala ndonya sedang sedingin apatisme.. lalu? Mengapa dunia almamaterku begitu berbeda? Apakah aku yang begitu berbeda?

Heartbroken..
Bahkan dibuat berkali – kali heartbroken melebihi heartbroken – heartbroken lain, karena masih bercokolnya manusia – manusia  yang  secara klise diceritakan dalam kitab perwayangan Jawa, dimana terdapat seorang tokoh bernama Dasamuka (sepuluh wajah).. dan disini kuartikan saja secara harafiah tentang manusia yang memiliki topeng wajah berjumlah sepuluh.. para penjilat.. para makhluk yang menodai kasih dan ketulusan.. para jahanam yang mencucurkan air mata di kala hati bergemuruh riang..terutama ketika menatap kesialan sesamanya..

Heartbroken? Entah bisa disebut broken lagi atau malah destroyed? Bagai puing – puing abu yang terbang sejalur dengan angin.. menyebar ke berbagai tempat entah kemana.. menghilang..


Lalu? Masih bolehkah aku.. setidaknya menatap  dari kejauhan.. meski bukan di kehidupanku tetapi paling tidak, menatap dunia manusia – manusia yang masih bisa tertawa lepas..berbahagia.. dan bersyukur bahwa ia masih hidup dan bernafas dalam bulir waktu yang mengalir di kehidupannya? 



Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

Sabtu, 24 Agustus 2013

Kurasakan Sakitmu..

Hari ini, Ronnie yang selalu membungakan taman – taman hatiku ini terbaring di sebuah bangsal sederhana berisi 4 orang pasien termasuk dirinya. Ia.. seorang pria yang kukenal selalu mengusahakan yang terbaik bagi dirinya menjadi seolah tak lagi peduli dengan tembok dalam ruangan bangsalnya yang retak di setiap sudutnya.. ataupun kasur tempatnya berbaring yang tak empuk.. ataupun suara ramai para pengunjung dari teman pasien sekamarnya.. Ia hanya memperdulikan rasa sakit di perut bagian bawah, dan terasa sakit ketika buang air kecil.. ia hanya memperdulikan tentang kapan sang waktu mengijinkannya untuk sembuh dari infeksi saluran kencing yang dideritanya.. bahkan ia menjadi seolah tak peduli mengenai fakta bahwa tak ada yang mendampinginya, ataupun duduk di samping pembaringannya untuk sekedar bertanya,”gimana? Uda baikan?”..

            Lalu, dimana aku? Tepat 1 jam pemberitahuan darinya via blackberry messenger yang sebenarnya ditujukan kepada sahabat - sahabatnya termasuk aku, seorang pengagum rahasianya yang juga menjabat sebagai sahabatnya, aku datang di rumah sakit tempat ia dirawat. Aku tak lagi peduli untuk berangkat bersama – sama dengan sahabat yang lain. Aku hanya peduli, ketika aku tiba di samping pembaringannya.. Aku adalah orang pertama yang ia tatap ketika ia membuka matanya dari mimpi indahnya.. dan faktanya, aku memang menjadi yang pertama datang mengunjunginya.. aku tersenyum.

            Senyumanku tak bertahan lama di sisinya semenjak kedatanganku.. aku seolah ikut merasakan jarum infus yang menembus kulitku.. gigi yang gemeretak dan tangan yang menggigil akibat demam yang ikut – ikutan mendampingi.. aku memejamkan mataku.. aku berharap aku dapat ikut menanggung sakit yang dideritanya.. agar ia tak begitu kesakitan.. agar ia tak merasa sendirian..  

          Tak berapa lama, matanya perlahan terbuka.. menatapku perlahan dengan mata hitam kecoklatan yang selalu membuaiku setiap kali aku menikmati sinar matanya.. ia tersenyum sedikit.. dan aku berusaha menampilkan senyum termanis, meskipun memang pada faktanya senyumku tak semanis wanita yang membuatnya jatuh hati saat ini, meskipun senyumku takkan membuatnya secara instan mengejarku seperti ketika ia mengejar seorang wanita yang telah memiliki tambatan hati, meskipun senyumanku tak bisa membuatnya jatuh ke dalam sebuah cinta yang buta.. tetapi senyumku.. sebuah senyum yang aku harap mampu menyampaikan pesan bahwa aku disini.. aku yang terduduk di sisinya.. aku yang mencintaimu dan berharap kamu lekas membaik..


            “Hai sleepy head..tidurnya nyenyak?”
            “ah.. gak juga..pusing banget kepalaku..”
            “minum dulu gih..”
            “gak ah.. masa aku minum dikit aja uda pengen kencing lagi? Sakit tauk..”
            “iya.. namanya aja lagi sakit..udah makan?”
            “udah tadi.. kamu dateng sendirian?”
            “iya.. hehe..trus tadi kamu kesininya dianter siapa ron?
            “sendiri..haha.. kayaknya selama aku di Jogja, kalo aku sakit selalu berangkat sendiri
            deh.. hahaha”
            “lah.. tau gitu kamu bilang aku dong..kan aku bisa anterin..”
            “iya juga ya.. hehehe.. oya, gimana kabarnya Veni? “

           
          Ah..Veni.. wanita yang juga sahabatku sendiri dan membuat Ronnie bertekuk lutut meskipun telah dimiliki Ferdi, kekasih Veni..Ronnie terjebak dalam cinta yang tak berpintu, cinta yang buntu.. hati Veni telah dimiliki orang lain.. dan kekasihku itu tak peduli dengan hal itu.. aku pun menjawab dengan senyum kegetiran dan terkesan asal – asalan..


            “baik – baik aja.. kayaknya lagi nge-date sama Ferdi tuh..”
            “aghh....”


    Percakapan kamipun terhenti dan terbalut tarian kesunyian hingga membuatnya menari dan meninggalkanku ke alam mimpi.. kekesalanku pun seolah memudar.. ketika menatap hembusan nafas teraturnya saat ia tertidur.. ataupun sedikit mengigau.. lucu dan menggoda..aku mengharapkan kesempatan untuk sekedar menyentuh tangannya.. ataupun hal lain yang membuat kulit kami bersentuhan.. dan untuk saat ini.. hanya dalam bayang – bayang saja sudah cukup buatku..

       Kencan kami terbelah ketika sahabat – sahabat lain mulai berdatangan mengunjunginya.. ia pun terbangun dan merajut waktu bersama perhatian yang mereka lemparkan.. aku melihat senyumnya yang selalu buatku terbang dan lupa bahwa tempatku berpijak adalah bumi.. aku menikmatinya.. aku bagaikan terduduk dalam sebuah opera dimana ia dan sahabat – sahabat yang lain menjadi aktor – aktrisnya. Dan  seolah terdapat sebuah saraf penghubung antara tubuhnya dengan tubuhku.. aku tertawa ketika ia tertawa.. aku tersakiti ketika ada hal yang dirasa ia juga ikut tersakiti..

          Tak berapa lama, para sahabatpun pulang.. ia pun terbaring lelah dan hendak meninggalkanku lagi menuju mimpi indahnya.. hanya tinggal aku di sisinya..


            “kamu gak ikutan pulang?”
            “enggak.. aku disini aja..jagain kamu..gakpapa?”
            “yakin? Ya aku sih seneng – seneng aja..”
            “sip.. dah tidur sana..”
           


            Ia pun tertidur.. aku duduk di kursi samping pembaringan..menikmati buliran waktu yang berjatuhan.. bersamanya..





Ad Maiorem Dei Gloriam


Amadeus Okky Suryono

            

Sabtu, 17 Agustus 2013

Perspektif Independence Day

            Berbagai artikel dan surat kabar saat ini pasti banyak mengkaji kembali makna “independence day” bagi warga Indonesia. Ekonomi yang masih belum stabil, kesejahteraan masyarakat yang masih belum merata, tingkat kriminalitas yang masih cukup tinggi di beberapa daerah, polytikus – polytikus yang nangkring di puncak kekuasaan, kedamaian antar umat beragama yang masih hanya menjadi awang – awang, hingga pancasila dengan garuda yang membawanya terbang tinggi di dadanya.. mungkin terlalu tinggi hingga kita sebagai warga negara Indonesia hanya bisa melihatnya dari bawah tanpa pernah bisa menggapainya..

            Ataupun sektor – sektor lain yang dirasa kita masih “terjajah” oleh bangsa lain dan mempertanyakan kemerdekaan kita sendiri.. belum ditambah dengan fakta yang paling dekat dengan kita, seperti kemana perginya lomba – lomba 17 Agustus’an yang dijadikan sebagai sarana berkumpulnya para warga di RT – RT setempat? Mungkin beberapa daerah masih menyelenggarakan, tapi daerah lainnya? Daerah saya pun, tradisi mengasikkan sekaligus menumbuhkan rasa cinta tanah air itu pun sirna.

            Ulasan dan berita – berita diatas begitu memuakkan..begitu membosankan.. bersifat reflektif? Ah gak juga.. malah menumbuhkan kesan bahwa negara kita terlalu banyak aspek negatif.. payah..

            Bagaimana jika kita melihatnya dari kacamata yang berbeda..
            Paling tidak..

            Indonesia yang menginjak usia 68 tahun dalam merasakan tabir kemerdekaan masih menjadi satu kesatuan..

            Masih diperkenankan untuk menghirup nafas hutan hujan tropis dan bergelung di pantai berpasir putih dengan aroma deburan ombak dengan sinar mentari di langit bumi pertiwi..serta berbagai kekayaan alam lain yang tak terlukiskan dengan kata..

            Masih menggunakan bahasa yang kita cintai, bahasa Indonesia untuk menggurat tawa dan menanggung kepedihan dengan sesama kita..

            Masih diperkenankan untuk membantu sesama – sesama kita terutama di daerah – daerah tertinggal melalui berbagai organisasi – organisasi kemanusiaan..

            Masih memiliki nurani yang selalu setia membimbing setiap manusia – manusia Indonesia untuk mengecam ketidak adilan apapun bentuknya, serta mau mendengarkan suara hati untuk solidaritas bagi korban – korban bencana alam seperti gempa di Yogyakarta dan tsunami di Aceh beberapa waktu silam..ataupun berbagai bentuk solidaritas lain yang seperti penggalangan dana bagi orang – orang yang sakit penyakit tertentu dan tak memiliki biaya..

            Masih memiliki kecintaan akan daerah asal mereka ketika mereka sedang berada di luar daerah asal mereka, membanggakan daerah asalnya, merindukan makanan – makanan khasnya, dan mendamba sahabat – sahabat masa kecil mereka..

            Masih diperkenankan untuk mengecap suatu kondisi dimana para manusia yang saling bertemu berusaha untuk menjaga moralitasnya di kala bangsa lain saat ini sedang berusaha untuk bunuh membunuh dengan sesama warganya dan berada di bawah langit yang sama.

            Masih diperkenankan untuk keluar dari pintu rumah tanpa rasa takut terkena pecahan bom yang diluncurkan dari pesawat – pesawat bomber, ataupun tanpa rasa ngeri karena mayat bergelimpangan dan bangunan yang runtuh akibat perang.. suatu kondisi yang berkebalikan dengan negara – negara timur tengah saat ini..

            Masyarakat yang semakin cerdas dalam memilih pemimpin mereka, dan peran kaum – kaum intelektual yang semakin kritis dalam usahanya membangun negara Indonesia..

            Bahkan kita bisa menemukan hal yang paling sepele dan patut kita rayakan di kemerdekaan kita yang ke- 68 ini.. seperti keramahan dan kesopanan antar warga yang masih bisa kita nikmati di beberapa tempat seperti di Yogyakarta ataupun tempat – tempat lain dimana kita merasa begitu nyaman di dalamnya..

            Bungkus ulang tahun negara kita tercinta ini dengan penuh syukur..
            Cecaplah keindahan di setiap huruf pembentuk kata INDONESIA..
            Temukan hal positif dalam negaramu..
            Dan cintai negaramu..
            Mencintai negaramu berarti menerima ia apa adanya..
            Dari situ kita bisa mulai membangunnya dengan tulus..
            Wahai kalian warga Indonesia..para pembangun bangsa!



Dirgahayu Indonesiaku yang ke- 68!!





Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono