Kala Senja di Ratu Boko

merasakan getaran suasana candi boko yang mempesona..

Menembus Waktu dengan Romansa

sebuah desahan mimpi yang sangat menggoda untuk disajikan..

De Britto ...

Sekolah cinta...Sekolah hati..

Gua Tritis...kemolekan yang menawan hati..

sebuah perjalanan menikmati kemolekan Gua Tritis yang patut untuk diulas..

Pantai Indrayanti..pantai pemuas hati..

pantai pasir putih yang memesona..

Sabtu, 18 Februari 2017

Cinta berakal..

Dunia selalu membatasi kita untuk bercinta..

Berbagai macam aturan disematkan dalam masing – masing pribadi, sehingga di penghujung jalan, hanya ditemukan ketidakmampuan untuk saling memiliki dan mencintai satu sama lain. Suku, Agama, warna kulit, status pekerjaan, status sosial dan status – status omong kosong lainnya menjadikan hati untuk mengikuti akal logika..

Kapan kita mulai mendengarkan suara hati, dan mengabaikan aturan dunia untuk mencintai?
Hati begitu sering berkata :
“aku mencintaimu, tetapi melihatmu, hanya ada kesedihan karena dunia mengatur kita untuk tidak bisa bersatu… “
“cukuplah aku melihatmu, tertawa bersama pasangan yang dunia pilihkan untukmu, dan itu sudah cukup bagiku, untuk mencintaimu dari jauh tanpa harus memilikimu..”
“sebaiknya aku hanya mencintaimu dalam diam, melirik ujung matamu dan menikmati eksistensimu dari kejauhan, karena jika aku berada di dekatmu, hati ini terpekur menghadapi realita.. “

Hingga di akhir penantian, hati telah tumbuh berakalkan logika.. hati telah terbelenggu oleh diktator dunia..
Apakah memang cinta diciptakan untuk kalah? Apakah cinta sejati hanya ada dalam dongeng – dongeng romansa?
Apakah kita wajib untuk selalu tunduk dan patuh akan tatanan dunia?
Dan apakah hati pada akhirnya lupa bagaimana cara untuk mencintai?

Seumur hidup aku mencintai..
Dan aku ingin mencintai dengan bebas..
 Dengan caraku sendiri..



Ad Maiorem Dei Gloriam


Amadeus Okky Suryono

Minggu, 15 Januari 2017

Untuk Sahabat yang Terpisah Jarak..



Waktu mengubah kita, sehingga kita menjadi tak sama lagi..


Ada masa, ketika tawa menjadi milik kita. Sembari menyesap kenangan indah yang terajut dalam belaian untaian embun pagi. Juga pertengkaran – pertengkaran kecil yang membuat gemas, hai engkau, para sahabat yang terpisah jarak, kita pun merajuk dan berharap takkan kau ulangi lagi pertengkaran itu.

Permasalahan diantara kita takkan menenggelamkan kita.. tetapi justru menyadari bahwa kita adalah manusia yang tak sempurna.. sisi kemanusiaan yang membutuhkan hadirmu di kala dunia menuntunku ke jalan yang pilu..

Namamu dengan cepat berdiam dalam pikirku, agar ketika ku mengigau akan kegalauan dunia, aku mengingat namamu dan memohon agar menyeretku kembali ke rasa syukur dalam hidup. ‘Tuk selalu buatku merasakan hidup yang benar – benar hidup. Bukan hidup yang hanya mengalir, menua, dan tak tahu kemana jiwaku pergi..

Secepat kau berdiam, secepat itu pula kau pergi. Ketika waktu menjadi musuh kita, memberikan jarak diantara kita, mempersulit langkah kita untuk bertemu, engkau disana, bertemu dengan kawan – kawan baru, kekasih baru, namaku pun pergi dalam pikirmu.. kau dan aku memberikan dalih kesibukan atas kegagalan pertemuan – pertemuaan kita. Kita semakin jauh. Jauh dan tak peduli..

Sekarang, waktu telah menuakan kita.. mematikan kerinduan kita.. meniadakan kenangan kita.. hanya tersisa kesedihan akan terang redup nya memori dari masing – masing kita. .

Hai engkau, para sahabat yang terpisah jarak, engkau tak lagi membutuhkanku setiap waktu, engkau menjadi budak kepentingan, yang hanya hadir hanya jika sesuatu itu benar – benar penting. Hingga aku menyadari kalau tali persahabatan ini tak lagi penting.

Semoga itu hanya rasionalisasiku saja yang begitu egois untuk merindukanmu, merindukan persahabatan kita.

Hai engkau, para sahabat yang terpisah jarak, engkau memang tak lagi di sisiku,
 ‘tuk hanya merangkul hangat ketika salah satu dari kita tertunduk,
‘tuk hanya mengoceh motivasi hanya untuk buatku tersenyum..
‘tuk hanya menggodaku dengan ejekan – ejekan yang menguatkan..
‘tuk ikut mendengar dan memikul rasa yang kurasakan..

Dan aku hanya sendiri bersama waktu..
Waktu yang mengubah kita, sehingga kita menjadi tak sama lagi..






Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono 

Jumat, 05 Juni 2015

Aging.

            Hari ini, Pagi terasa secerah kemarin.. aku tak mengerti tanggal dan hari apa sekarang. Aku hanya menikmati hembusan angin pagi yang menari malu. Kesejukan yang setiap hari kurasakan ketika Tuhan masih berbaik hati memberikan tambahan hari yang selalu baik buatku. Sudah seharusnya di usiaku saat ini, aku harus memasrahkan diri kepada hidup, mempersiapkan segalanya jika suatu saat, hidup yang begitu singkat ini usai. Kusesap perlahan kopi hangat pagiku sembari menikmati hijaunya dedaunan di pelataran rumahku. Aku tak menyadari waktu yang menyapaku melalui anakku yang dikejauhan meneleponku memberikan ucapan selamat dengan suara riang khasnya,”selamat ulang tahun ya mbah!!”.. sesaat aku hanya tersenyum lebar dan membalas singkat,”oh yoooo...”.

            Aku teringat. Hari ini usiaku beranjak menua.. 77 tahun.

            Aku menua, sensor motorikku melemah, perasaanku begitu sensitif, pikiranku menjadi tak terkontrol. Ucapan selamat ulang tahun, bertambah nya umur, yang disampaikan dengan ceria, bagaimana aku menyikapinya? Suatu perasaan yang kontradiktif menurutku. Bagaimana bisa seorang yang bertambah usianya, diberikan suatu perasaan bahagia oleh orang lain? Apakah mereka senang jika aku melemah? Apakah mereka tidak tahu jika dengan bertambahnya usiaku, waktuku semakin dekat dan aku pun kadang ngeri membayangkannya? Gerutuku. Ah, peduli amat. Cukup mendengar suara mereka dan cucu - cucuku pun aku sudah begitu bahagia. Mereka sangat perhatian denganku. Meski hanya dari suara telephone, dan terkadang aku ingin memeluk dan mencium dahi mereka. Lama. Tetapi aku tetap bersyukur, sembari menghisap rokok kretekku dalam – dalam.

            Tak selang beberapa saat, telephone genggam butut ku berdering memecah kesunyian pagi. Kuangkat, terdengar suara dari kejauhan yang memberi tahuku bahwa saudara lelaki tertua ku meninggal dunia di usia 83 tahun. Aku terhenyak. Butuh waktu beberapa saat sebelum aku memanggil istriku untuk memberitahukan informasi seperti itu. Dharmo namanya, yang beberapa hari lalu masih bersemangat ketika kuajak mengobrol dan merasa dirinya baik – baik saja, pagi ini dipanggil Tuhan.

            Sejenak, pikiranku menyeruak di luar kendaliku. Rokok kretek masih di tangan dengan asap yang menari di atas angan. 83 tahun, sedangkan aku saat ini berulang tahun ke – 77 tahun. Ayahku dulu, juga meninggal pada usia 83 tahun, kalau seandainya aku juga pada usia 83 tahun, waktuku hanya tinggal 5 tahun lagi. Ah, tak apa. Aku sudah pasrah. Aku tak tahan melihat sahabat – sahabatku pergi mendahului aku. Aku tak bisa melihat orang – orang yang semasa hidupnya begitu memberikan warna bagiku, sekarang aku hanya bisa menatap nisan mereka satu demi satu, sembari menceritakan kepada cucuku tentang kisah – kisah persahabatan dengan mereka. Atau satu dua kisah percintaan. Dulu.

            Aku menyulut rokok yang aku tak tahu sudah batang ke berapa. Aku tak peduli. Tuhan begitu baik memberikan hidup yang murah hati kepadaku. Anak – anakku berhasil, cucuku sehat dan pintar, aku hanya bisa mencintai mereka dengan caraku sendiri hingga saat ini, hari demi hari, meski mereka kadang tak mengerti akan cinta yang kuberikan, meski kadang mereka sering menyakiti hatiku dengan tidak rukun bersama saudara – saudaranya. Tapi aku tetap mencintai mereka. Dengan hidupku yang kupersembahkan untuk mereka.

            Melalui hidupku, aku bekerja untuk Tuhan dan sesama, for the sake for my children and my grand children. Aku tak perlu berkeliling dunia untuk bahagia. Meski aku diberikan tawaran dari salah satu anakku untuk itu. Tetapi aku saat ini bahagia. Mampu menyekolahkan kelima anakku di kala keterbatasan ekonomi melanda kami saat itu. Hingga saat ini mereka bekerja dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dibandingkan aku saat itu. Mereka memberikan cucu – cucu yang sehat. Aku bersyukur. Aku bahagia.

            Aku harus siap jika Tuhan merindukanku dan memanggilku. Aku tahu kehidupan ini tak kekal. Semua orang seharusnya siap, tak hanya manusia seusiaku. Semua orang seharusnya bersiap.
            Untuk kemuliaan Tuhan yang lebih tinggi (ad maiorem dei gloriam)


NB : dibuat di hari ulang tahun Kakung  yang ke 77. Selamat ulang tahun, Kung.


Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

  

Senin, 01 Juni 2015

Petualangan di sebuah kata "Kereta"

Kereta.
Mungkin jika kata itu bisa disisipkan menjadi salah satu sel ku, Ia hanya terus menerus membelah diri hingga kata itu membentuk diriku dalam jutaan sel. Jika aku melihat kata itu, aku akan berkelebat dalam pengalaman menunggu, menaiki, hingga tiba di tempat tujuan yang menyambut dalam beribu makna.

            Pengalaman menunggu. Kala itu, lelah akan waktu yang membuat kita menua karena kerja rodiku di salah satu perusahaan di Jakarta, menyita mimpiku, memisahkan jarak dengan kekasih hati, memperpanjang gelombang rindu, aku.. seorang yang begitu menyambut hari sabtu minggu dimana orang pada umumnya hanya menganggap hari weekend biasa, menjadi 2 hari yang special bagiku di bulan itu. Umumnya seorang muda yang sedang jatuh cinta, aku hanya melihat tujuanku, tak peduli seberapa jarak yang harus kutempuh menuju Yogyakarta. Waktu itu, keretaku berangkat pukul 5 pagi, diiringi cinta buta masa muda, aku berangkat menuju stasiun pukul 10 malam, dengan alasan untuk mendapatkan transportasi menuju stasiun yang murah. Sesampai disana? Jelas aku harus menunggu...waktu itu stasiun pasar senen tak memiliki ruang tunggu. Hanya terdapat pelataran yang beralaskan lantai yang dingin, malam yang membalut tubuh, dan angin yang bergemerisik membekukan tengkuk. Aku berusaha untuk tertidur di atas pelataran yang mungkin, menjadi tempat tidur pengemis dan peminta – minta, ataupun para penumpang yang rela mengalah kepada rasa kantuk dan terlelap berselimutkan malam.

            Malam pun juga bermurah hati padaku.. aku terlelap..

Setelah melewati romantika bersama kekasih di Jogja dan bla bla bla bunga – bunga bermekaran kesana kemari, tawa canda, gandengan tangan dan dunia serasa milik berdua, aku pun kembali menuju Jakarta. Sehari setelah pelataran menjadi kasur tidurku. Aku mulai terbangun dari mimpi, selama perjalanan menaiki kereta kembali menuju Jakarta, Aku hanya bisa menggaruk seluruh tubuh..kubuka baju di toilet kereta, seluruh tubuh memerah dan begitu gatal. Dampak tertidur di pelataran peron baru terasa sehari setelahnya. Cinta menjadi tak begitu penting lagi, dan lamunanku berubah dari bayangan tentangnya, menjadi berendam air panas. 8 jam perjalanan menuju Jakarta seperti 8 jam perjalanan menuju neraka.

            Setelah pengalaman itu, peristiwa aku tertidur di peron menjadi sesuatu yang biasa buatku. Pengalaman curi – curi tidur dengan merebahkan tubuh di kursi – kursi kosong pukul 2 dini hari di stasiun Jatinegara sembari mengamati tak ada satpam stasiun yang melintas menjadi pengalaman – pengalaman melelahkanku bersama kereta. Tak adanya transportasi waktu dini hari dan perjalanan yang seharusnya kutempuh dari Jakarta menuju Cikarang (tempat tinggalku waktu itu) yang cukup jauh memaksaku untuk mengeram waktu di stasiun dan menunggu mentari terbit. Jam operasional angkutan umum.

            Kereta juga menjadi rumah bagi berbagai macam kelas sosial. Di Jakarta, aku sering menggunakan kereta api listrik yang setia mengantarkan tukang becak, banci, pedagang, orang kantoran, anak – anak muda ababil, tua, muda, cacat, ibu hamil, berdesak – desakan di dalam kereta pada jam sibuk Jakarta. Air Conditioner menjadi pajangan, peluh menjadi sandangan. Preman memasang gaya “tangguh” dengan tattoo di beberapa bagian tangan, Banci memaki orang  - orang yang secara usil mengejek mereka sebagai lelaki. Ya.. menjadi lelaki.. umpatan paling kasar untuk mereka... Copet mencari peluang untuk mendekati engkong – engkong yang memasukkan samsung seri terbaru di saku celana kainnya, mengundang para pencopet, penjambret dan perampok jalanan yang merupakan teman – teman orang miskin dan papa, lambang ketidak adilan kehidupan, untuk menumpas habis orang – orang sombong dan congkak di muka umum.

            Tuhan begitu berbaik hati padaku karena sepanjang kereta yang aku tumpangi, aku diberikan pengalaman untuk merasuk dalam berbagai sisi manusia, kelelahan hidup yang mendera mereka, lamunan mereka untuk menjadi bahagia. Melalui kereta, aku diberikan kisah nyata, bukan omong kosong yang sering diberikan para pemuka agama yang bahkan jarang bersentuhan dengan masyarakat jelata, yang sibuk berkoar tentang surga dan neraka secara biblikal dan bukan karya nyata. Teorikal bukan praktikal.

            Pernah suatu kali, pada pukul 12 siang, begitu banyak penumpang kereta api listrik di stasiun Jakarta Kota yang mengantri membeli tiket. Saat itu aku hanya bersumpah serapah akan kesedihan yang mendera hariku. Sesaat aku menatap barisan penumpang yang mengular, aku menjadi tak berdaya. Perutku kosong, mentari begitu terik dan menyebabkan suasana stasiun gerah tak keruan. Aku berjalan lunglai meratapi nasibku hari itu, sembari menuju baris terdepan. Aku bertanya ke satpam tak jauh dari situ sebuah pertanyaan retorik,”pak, ini antrian penumpang KRL?”. Si Satpam menjawab dengan galak,”Ya, tolong antri di sebelah sana!” sembari menunjuk ke ekor antrian. Seorang pemuda yang antri di baris terdepan melihatku, sambil bertanya,”mau kemana mas?”. Aku dengan lemas menjawab,”mau ke mangga besar mas..”. Ia membalas,”sini lewat saya saja”. Aku terbelalak. Instingku berkata untuk mempercayai orang baik hati yang menawarkanku bantuan itu. Logikaku berteriak,”hey! Itu siapa? Kamu mau ngasih uang ke orang asing?”. Fisikku terlalu lemah untuk bekerja dan aku pun memutuskan untuk mempercayai instingku. Kuberikan 1 lembar 20 ribu kepada orang yang tak kukenal itu, sembari menahan tubuhku yang didorong oleh satpam yang semakin gusar karena aku membuatnya gerah, memenuhi space tempatnya. Aku menunggu ke tempat yang agak lengang, sembari menatap di keramaian. Aku tak melihat orang asing itu. Tertutup oleh padatnya suasana stasiun. Aku terus menatap di keramaian, berusaha mengingat – ingat wajah dari orang asing itu. Beberapa saat kemudian, wajahnya kulihat, tersenyum sembari memberikan tiket dan uang kembalian secara pas kepadaku. Ia berlalu begitu saja, meninggalkan aku yang terus mengucapkan terima kasih. Aku memuji kemurahan Tuhan. Dan aku mendoakannya untuk mendapatkan yang terbaik dalam hidup. kataku dalam hati.

            Kereta, petualangan macam apa yang akan kau berikan lagi nanti?


Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono 

Minggu, 03 Agustus 2014

Memperdaya Hati

Hati memiliki logika yang tak berperasaan..
Meski retak dan merapuh oleh akar kecemburuan..
Berselubungkan prasangka dan sikap tak mau percaya..
Lalu bagaimana bisa ia tetap mencinta?

            Hati memiliki logika yang tak berperasaan..
            Ia begitu bahagia berpeluh duka..
            Begitu haus akan luka..
            Seakan tak hidup jika bernafas tanpa sesak di dada..

Hati memiliki logika yang tak berperasaan..
Lalu cinta macam apa yang ia berikan?
Cinta yang merupakan tumpukan omong kosong?
Cinta yang tinggal menunggu waktu untuk dibuang dan dilupakan?

            Hati memiliki logika yang tak berperasaan..
            Mampu mencumbu kemunafikan..
            Merajut mimpi yang ia tahu takkan jadi kenyataan..
            Memberikan ruang pengampunan hanya untuk tersayat...
            Sekali lagi..

Hati memiliki logika yang tak berperasaan..
Ketika sebegitu tak berperasaannya hati...
Maukah kau mengikutinya kemanapun ia melangkah?
Di kala tapak demi tapak hanya ada tangisan dan ratapan..
Mengabaikan nurani..
Mengembara dalam sepi..


Ah..
Mungkin ini saatnya me-masabodoh-kan hati..
Membiarkannya meraung dalam bilik – bilik yang kosong..
Paling tidak kita terbebas...
Dari hati yang memiliki logika yang tak berperasaan..




Ad Maiorem Dei Gloriam






Amadeus Okky Suryono

Rabu, 07 Mei 2014

Romantika Profesi

         Dengan memaparkan senyum yang melampaui usianya, Fandi menggenggam botol aqua 600 ml yang telah dipotong bagian ujungnya dan ia gunakan sebagai tempat menampung uang pemberian para keluarga yang menampilkan senyum terbaiknya, ataupun para kawula muda yang ingin mengabadikan moment mereka, maupun para individu yang merasakan kebahagiaan dalam kebersamaan dengan teman – teman mereka, melalui jasa berfoto bersama ayahnya. Fandi begitu bangga dengan sang ayah. Bukan karena ayahnya memiliki banyak penggemar, bukan karena ayahnya seorang yang kaya, ataupun memiliki kedudukan yang tinggi.. bukan.. hal ini disebabkan karena ayahnya memakai suits karakter animasi bernama “Minion”, sebuah icon yang dipopulerkan melalui film animasi berjudul “Despicable Me” dan digambarkan memiliki mimik yang lucu, mata yang besar, dan kulit yang berwarna kuning.

            Figur ayahnya, yang berpeluh dalam pakaian “minion” yang bersuhu tinggi karena kurangnya sirkulasi dari pakaian tersebut, dibalut dengan tarian mentari di jantung kota Jakarta membuat Fandi, seorang bocah 5 tahun semakin bersemangat untuk mengitari orang – orang yang telah berfoto dengan ayahnya demi mengupah peluh sang ayah. Memang, tak sedikit yang tak memberikan upah, karena profesi dari ayahnya tak membutuhkan skill khusus ataupun ilmu yang tinggi. Ia hanya membutuhkan antusiasme dengan sedikit melambai dan melompat di kala terdapat customer yang ingin berfoto dengannya. Berbekal antusiasme, sang ayah berusaha membelai sisi kemanusiaan dan belas kasih dari “para pelanggannya” sembari menadah uang – uang sukarela dari kantong – kantong mereka.

            Fandi, di usianya yang baru menginjak 5 tahun tersebut telah mengerti arti kebanggaan akan etos kerja yang kuat, semangat dan determinasi yang tinggi untuk sekedar menyambung hidup. “uangnya sudah cukup yah untuk makan hari ini..”, kata Fandi dengan jeritan riang setelah menghitung lembar demi lembar uang kertas yang kusut dan recehan yang terkumpul dalam botol aqua yang menjadi mainan masa kecilnya. Uang – uang yang terkumpul dimasukkannya ke dalam plastik bekas sembari mengangkatnya tinggi – tinggi dan melompat kesana kemari sembari berkata,”yuk yah, pulang!”. Sang ayah hanya tersenyum memandang anaknya... nanar... sambil berkata dalam hati,”maafkan ayah nak... ayah tak bisa mewarnaimu dengan pelangi masa kecil.... ayah hanya mampu mengajakmu untuk terus bersyukur menghargai hidup meski dunia meremehkanmu, mencampakkanmu ke dalam lubang terdalam yang tak mampu kamu bayangkan.. angkatlah kepalamu nak.... Tuhan belum selesai denganmu...”


          Mentari pagi pun berganti dan meredupkan sinarnya..  Ayah dan anak itupun menjauh dari jantung kota Jakarta... tertelan larutan senja.




Ad Maiorem Dei Gloriam





Amadeus Okky Suryono

Kamis, 16 Januari 2014

Sosok Kristal

            Tepat pukul 07.00, Madi menjadi orang pertama yang menyapa kantor tempat ia bekerja.. sepi... ia mengambil sapu dan meletakkan serbet yang menggantung di bahu kanannya serta mulai membersihkan serpihan debu hingga sisa makanan maupun kertas - kertas yang berserakan di kantor yang biasanya baru berhiaskan para penghuninya sekitar dua jam semenjak kedatangannya itu.. kemeja merah kotak – kotak dengan warna yang mulai memudar dan celana panjang coklat yang memutih seolah menjadi “seragam” yang selalu ia kenakan sehari – hari.. Segala pekerjaan bersih – bersih hingga mengantar surat – surat penting untuk perusahaan lain menjadi makanan sehari – harinya.. panas dan macetnya jalanan jakarta menjadi ibunya.. dan semangat serta kerendahan hatinya menjadi darah pemanis bagi urat syaraf para penghuni kantor tempat ia bekerja..

            Dua jam semenjak kedatangannya ke kantor pun berlalu.. wajah – wajah serius para karyawan yang terbalut beban pekerjaan pun bermunculan... suasana hening, tenggelam dalam pikiran yang mengawang entah kemana.. Madi muncul dengan gaya lenggang kangkung nya yang khas.. senyum lebar yang memperlihatkan gigi – gigi kuning yang menghitam akibat nikotin...dan suaranya yang menggaung... menyapa manusia – manusia maupun alam yang mengintip di balik jendela kantor dengan salam,”pagiii!!!!!” dan mendadak pagi hitam putih kami menjadi tergores warna.. kami ditarik dari alam khayalan kami.. untuk bergabung dengannya menikmati pagi..dan sekedar membelai kesepian kami, membungkusnya dalam hangatnya perhatian.. perhatian? Ya.. seorang teman mengambil gelas yang telah ia cuci di wastafel.. gelas yang masih basah.. Madi yang berdiri di dekatnya sontak mengambil tissue dan berkata,”nih di lap dulu.. habis itu dikocok pake air panas dulu ya..” hmm.. sebuah perhatian yang memanusiakan di tengah kesibukan yang memesinkan manusia..

            Ia berpikiran nyalang... tak tunduk dengan siapapun... seorang pemikir bebas... ia membiarkan jiwanya liar tetapi tetap menjalankan pekerjaannya sepenuh hati.. seorang provokator yang menyeret kita untuk mengurai tawa.. untuk menghela nafas sejenak, keluar dari rutinitas... seorang yang begitu mudah untuk dicintai.. meski diskriminasi profesi memungkinkannya untuk menerima cercaan dari para manusia – manusia angkuh dan egois..

            Tubuhnya yang kurus dan menampakkan tulang tubuhnya tak mampu mengalahkan eksistensinya.. secara tanpa sadar, ia menjadi kaca pengingatku.. dan sekali lagi... aku menemukan Tuhan dalam diri orang kecil berjiwa besar seperti Madi..




Terima kasih Madi ..

Ilmu yang kau miliki melebihi segala pengetahuan yang ada dalam “otak pintar” kami..




Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono