Kala Senja di Ratu Boko

merasakan getaran suasana candi boko yang mempesona..

Menembus Waktu dengan Romansa

sebuah desahan mimpi yang sangat menggoda untuk disajikan..

De Britto ...

Sekolah cinta...Sekolah hati..

Gua Tritis...kemolekan yang menawan hati..

sebuah perjalanan menikmati kemolekan Gua Tritis yang patut untuk diulas..

Pantai Indrayanti..pantai pemuas hati..

pantai pasir putih yang memesona..

Kamis, 16 Agustus 2012

Cinta.. Bernyanyilah..


Udara pagi seakan menyeruak dan mengisi rongga nafasku..
Pagi seakan begitu jahat dengan semilir angin dingin membekukan..
Hingga air pun terhasut untuk menggumpal menjadi bongkahan es kecil..
Karena begitu takut membahagiakanku dengan belaiannya..
            
            Ketika segalanya berubah menjadi dingin dan tak berarti..
            Tak peduli akan haus dan dahaga ditengah guratan ke-abu-abuan langit..
            Tapi kurasakan seberkas angan hangat yang buatku bertahan..
            Di tengah badai salju yang menjadi kelam dan ternoda..

angan hangat itu mengalun lembut..
Yang mengalir secara perlahan mengisi setiap denyut jantungku..
Menari dan berdansa dalam bahasa kalbu..
Sembari diiringi dengan kehangatan kebersamaan.
Aku dan kamu..
           
            Tiap lagu yang kita nyanyikan..
            Tiap nada yang kita dendangkan..
            Senyum dan tawa yang terbatuk pilu..
            Bayangan kenangan perlahan terbang dalam bilur – bilur angan..

Untuk beberapa saat, kembali aku tergelitik oleh setetes embun yang menjadi beku.
Terjatuh..pecah..dan kristalnya menggaung memecah sunyi..
Hingga tuk beberapa saat kurasakan dinginnya tulangku yang bergemeretak.
Kesadaranku-pun menjadi goyah..dan terantuk kembali ke dalam angan tentangmu...

            Di tengah godaan semilir angin..dan bekunya hati..
            Aku hanya ingin mendengar sendu suaramu..
            Nyanyikan lagu romantika yang memanggil jiwaku..
            Untuk menyatu dan tinggal bersamamu.

Menyanyilah cinta..
Berdendang dan tersenyumlah..
Nyalakan selalu kehangatan yang diberikan melalui lagu yang kau nyanyikan..
Untuk sekedar memelukku yang meringkuk di atas pembaringanku yang dingin dan sepi..
Dan aku tahu..aku tak sendiri..
  


Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono

Sabtu, 11 Agustus 2012

Bahasa Indonesia vs Bahasa Jawa

Sumber Gambar : www.google.com

Malam menjadi dingin..dalam gemerisik lembut dedaunan yang dibelai angin..dan keheningan malam seakan terbelah ketika kudengar seruan di kejauhan,”ky..ikut mbah adorasi ekaristi di gereja yuk..” aku yang asing akan kosakata adorasi ekaristi pun langsung manut saja akan ajakan eyangku. “Yah..sekali – sekali lah mengikuti kegiatan rohani”, pikirku.. malam itu sekitar pukul 9 malam, kamipun membelah dinginnya malam dengan sepeda motor dan ditemani dengan erangan mesin yang menderu dalam heningnya bulan..

Tak sampai 10 menit kamipun tiba di salah satu gereja di Ceper, Klaten dan kedatangan kami disambut dengan aura ke-khusyukan gereja tersebut dari dalam. Adorasi Ekaristi pun dimulai dan “memaksa” obrolan – obrolan umat yang mayoritas menggunakan bahasa Jawa pun terhenti. Ya! Adorasi Ekaristi merupakan suatu konsep berdoa Rosario dan Ekaristi singkat yang dilakukan secara bersama – sama, dan kebetulan menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar. Aku memang pernah belajar akan bahasa Jawa, dan mengerti apa yang dimaksud ketika ada orang yang menggunakannya, tetapi sangat jarang aku menggunakannya. Kegundahanku pun dimulai... 

Konsep berdoa rosario secara bersama – sama mengharuskan umat untuk secara bergantian dan urut dari tempat duduk mereka untuk melafalkan doa Salam Maria dan Bapa Kami ditemani dengan tarian api diatas lilin menemani mereka yang melafalkannya. Dalam hati aku merasa malu mengapa aku tak sering menggunakan bahasa Jawa agar dapat menggunakannya di saat berkomunikasi dengan orang yang lebih tua ataupun di saat – saat berdoa dengan pengantar bahasa Jawa seperti ini.

Ketika tiba giliranku, seorang ibu tua sepertinya mengerti kegundahanku yang tak fasih berbahasa Jawa dan lilin kecil itu menghampiriku, tanda itu adalah giliranku melafalkan doa Salam Maria. Beliau membisikanku dari belakang dengan berkata,” pake bahasa Indonesia juga gakpapa..” sontak aku tersenyum kecil dan melafalkan dengan menggunakan bahasa Indonesia, yang disambut oleh umat yang lain dengan bahasa Indonesia pula.

Syndrom yang aku alami kurasa juga dialami oleh hampir sebagian besar generasi muda Indonesia yang saya temui, dimana mereka merasa bahwa bahasa Jawa adalah bahasa yang gak keren. "Hari gini mah lebih gaul pake bahasa Indonesia, gak usah pake bahasa jawa" . Bahasa Jawa merupakan bahasa budaya di pulau Jawa yang menganut tata krama ketika sedang berbicara kepada orang yang lebih tua ataupun kepada siapapun untuk mengakrabkan suasana. Aku pun lebih menghargai para putra daerah yang berasal dari luar pulau jawa, dimana mereka sering menggunakan bahasa mereka untuk sekedar berbincang kepada orang tua mereka maupun teman – teman mereka. 

Pola pikir tidak adanya apresiasi kepada budaya ini sudah merembes ke putera – putera Jawa yang tinggal di perkotaan pada umumnya. Para generasi muda ini seakan apatis terhadap penggunaan bahasa Jawa yang tak keren ini, hingga akhirnya berdampak pula pada budaya mengapresiasi penampilan dalang yang menari bersama wayang  - wayang nya yang turut menjadi luntur. Hanya satu dua anak muda yang mau dan berminat untuk duduk lesehan sembari menikmati alunan gamelan dan Sinden yang mengarak para wayang kulit untuk beraksi. Tontonan indah berbahasa jawa ini seolah tak menjadi tren anak muda saat ini yang lebih suka menonton film – film korea yang kebanyakan dikarenakan wajah – wajah para aktor – aktris nya yang ganteng dan cantik.

Ketika sekelumit kondisi generasi muda kita tak mau mengapresiasi bahasa jawa sebagai salah satu budaya kita, bermain karawitan pun menjadi imbasnya. Dikarenakan stigma para generasi muda Indonesia khususnya di Jawa yang menganggap bahwa salah satu bahasa budayanya gak keren, mereka akan menganggap yang berkaitan dengan Jawa-jawa nan juga gak keren, termasuk karawitan. Suatu hari, saya melihat program tv berjudul Jalan – Jalan di salah satu TV swasta, dimana mereka melaporkan dari Jepang dan mewawancarai beberapa orang Jepang pasca pertunjukan Karawitan mereka. Pikiran pertama yang muncul di benakku,”Apa?? Orang Jepang yang notabene tinggal di luar wilayah Indonesia justru MAU untuk memainkan apalagi melestarikan budaya Indonesia seperti Karawitan?? Trus generasi muda kita??” 

Aku mengajak semua generasi muda baik yang masih seperti saya, yakni belum dapat menggunakan Bahasa Jawa tetapi sebenarnya mengerti apa yang dimaksud ketika mendengarkan bahasa tersebut diucapkan, maupun generasi muda yang sama sekali blong gak tau apa – apa tentang salah satu bahasa budaya tempat ia tinggal, yuk sama – sama turut ambil bagian dalam upaya kita melestarikan dan mengapresiasi budaya kita yang keren abis ini.



Ad Maiorem Dei Gloriam





Amadeus Okky Suryono   

Selasa, 07 Agustus 2012

Palsu!


Ketika pagi menjadi dingin..
Dalam alunan ejekan burung – burung yang bersukacita di atasku.
Belaian semilir angin menjadi tak menyegarkan dan mengganggu selera..
Kokokan ayam pun tak mampu membantu goreskan gairah hidup..
        Hatipun beku, dan kehangatan mentari tak sanggup mencairkannya.
Mata seakan  menerawang ke suatu alam yang tak jelas ujung pangkalnya.
Dimana kesunyian justru menjadi sesosok temanku yang paling kusayangi..
Hingga angan yang berwarna pelangi itu tak tampak lagi..

Malam terasa begitu jahat..
Dengan noda hitamnya yang semakin belenggu diriku begitu erat..
Seolah guratan merah dan kuning yang biasa menghiasi langit hati..
Kalah dan hilang entah kemana..
        Ku baringkan diriku dalam keramaian..
Yang kutemukan hanyalah kepalsuan .. palsu..
Dengan menebar senyuman dingin yang membekukan..
Yang kurasakan hanyalah tatapan sinis dan bukan optimistis..

Beberapa menunjukkan wajah datar menggeloranya..
Berusaha untuk menikam kepalsuan dan menggoyahkannya..
Tetapi yang ada hanya menyiratkan datar penuh benci..
Tanpa antusiasme..tanpa semangat berbagi.. apatis!
        Senyuman sosial kembali berusaha ditebarkan seorang yang lain..
Yaahh..sekedar ba..bi..bu..
        Menyatu dalam kepekaan yang menjadi sulit..
        Yang membosankan dan memuakkanku..

Tak bisakah kau menjadi ANJING?
Yang jujur dan tanpa lelah menggigit rasionalitas dan perjuangkan persahabatan
Yang melompat kepada yang tak dikenal dan mengendus untuk memahaminya lebih dalam..
Yang berani menunjukkan dirinya yang sesungguhnya..
Hingga menjadi musuh kepalsuan no.1! 
       Malam semakin larut...dan bintangpun enggan memoles sinarnya..
Kurasakan kawanan anjing begitu sukacita dalam gonggongannya..
Mereka berpesta dalam ketulusannya..sembari mengejek manusia..
Karena tak bisa berperilaku seperti mereka!


Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono

Jumat, 03 Agustus 2012

Masa Kecil Kurang Bahagia?


Sumber gambar : www.google.com  

     “ Sariii...ayo sudah siang, dimatiin dulu Blackberry- nya, sini makan sop kesukaanmu nak..”, pinta ibu yang terduduk di meja makan bersama Rani, kakak Sari sembari menuangkan sop bakso kesukaan Sari ke atas piring Rani. Tetapi Sari tak bergeming. Ia terus menatap dalam – dalam sembari tersenyum cekikikan menatap layar Blackberry-nya di dalam kamarnya yang mungil. Sekelumit kisah diatas membawaku ke alam masa kecilku dulu. Sebuah masa dimana aku yang masih berseragam putih merah, dengan antusiasnya berlompatan kian kemari hanya karena aku berhasil menyisihkan tabunganku untuk membeli tazoz yang banyak ditemukan di dalam snack, kemudian memamerkannya kepada teman – teman sepergaulan serta memainkannya dengan meletakkannya di antara telapak tangan kananku, serta tos! Pemenangnya ditentukan lewat gambar pokemon dalam tazoz tersebut menengadah ke atas atau tertungkup di tanah yang berarti kalah. 

     Hari berganti petang, ketika seragam putih merahku berganti kaos santaiku, kuraih mobil – mobilan tamiya ku yang kubeli seharga 11 ribu rupiah dari berbulan – bulan aku menyisihkan uang jajanku, dan kupamerkan dengan gaya khas anak kecil yang bangga ketika mainannya ternyata lebih “menyala” dibandingkan dengan mainan teman – temannya. Para serdadu kecil itu pun menyusun trek – trek buatan dan saling mengadu kecepatan dari tamiya – tamiya kami sembari dibalut suasana kehangatan dan alunan merdu dari persahabatan.

     Sejenak, aku mulai menyadari bahwa zaman telah berubah begitu cepat. Ketika kulihat anak – anak seperti Sari begitu “bahagia” dalam permainan Blackberry-nya di kamarnya yang mungil, jauh dari aura kehangatan yang sebenarnya. Zaman ketika seorang anak kecil tak menghadapi serunya permainan bersama teman – teman nya yang menyatu bersama tawa riuh dari para pemenang cilik serta belajar untuk berjiwa besar mengalami pahitnya kekalahan sejak dini. Zaman ketika para serdadu cilik itu belajar bersikap apatis terhadap hal – hal baru di sekitar mereka, dan hanya memperdulikan aplikasi – aplikasi modern yang lebih seru dan semakin menjauhkan mereka dari dunia sosial yang sesungguhnya.

     Peran orang tua menjadi sektor penting dalam kontrol anak sejak dini, dimana di usia mereka, bagaimana para orang tua dapat mengasah ide untuk menanamkan jiwa petualang si anak agar tidak hanya terpekur di antara bayang – bayang layar alat digital tersebut. Kebijakan untuk memanjakan anak dengan berbagai kemudahan fitur dari perangkat itu perlu dilaksanakan secara selektif apakah menunjang pertumbuhan anak atau tidak. Jika ternyata perangkat canggih tersebut justru membuat anak menjadi makhluk antisosial, apa gunanya perangkat jutaan rupiah tersebut? Bagaimana wajah generasi muda Indonesia di masa depan jika hati menjadi semakin beku, dan tak adanya pengalaman – pengalaman sosial yang mampu menunjang mereka untuk semakin memahami persahabatan, kemenangan maupun kekalahan dalam hidup? Apakah ini yang disebut sebagai masa kecil kurang bahagia?



Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono

Minggu, 29 Juli 2012

Rainbow

Sumber Gambar : www. Google.com


Dear Night Rainbow.. merupakan cuplikan salah satu lyric dari lagu yang dinyanyikan oleh Joe, salah satu tokoh, turut mewarnai sendu dalam perjuangan serial animasi “Rainbow – Nisha Rokubo No Shichinin” yang berhasil menggugah determinasi, cinta dan persahabatan masyarakat di Jepang pada khususnya, dan Dunia pada umumnya.. termasuk aku yang turut menjadi “korban” dan terbuai akan alur dari film action anime itu yang dibumbui dengan drama – drama para tokohnya yang menyentuh. Rainbow seakan menjadi perspektif penghiburanku di kala aku melihat dunia sekelilingku menjadi kelam, seolah tanpa cinta, individualis dan egois..

Keindahan alur “Rainbow" dimulai dengan perkenalan dari ketujuh tokoh ( dimana memang sang pengarang, George Abe serta sang ilustrator, Masasumi Kakizaki ingin menunjukkan bahwa Rainbow dengan 7 warnanya dilambangkan melalui ketujuh tokoh ini yang memiliki warna masing – masing karakter ) yaitu Sakuragi Rokurouta ( dipanggil Bro, 18 tahun ), Minakami Mario ( dipanggil Mario, 17 tahun ), Tohyama Tadayoshi  ( dipanggil Soldier, 17 tahun ), Matsuira Mansaku ( dipanggil Cabbage, 17 tahun ) , Maeda Noboru ( Dipanggil Turtle, 16 tahun ), Yokosuka Jou ( dipanggil Joe, 16 tahun ), dan Nomoto Ryuji ( dipanggil Baremoto, 17 tahun ). Mereka merupakan para “kriminal cilik” yang dimasukkan ke dalam penjara khusus para remaja karena melakukan tindak kriminal di usia mereka.

Perkenalan mereka diawali ketika Sakuragi yang merupakan seorang remaja yang “lebih dulu” menempati Penjara Blok 2 sel nomor 6 bertemu dengan ke-6 remaja lain yang baru pertama kali menginjakkan kaki di penjara tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan kesombongan dari ke-6 remaja itu yang meminta kehormatan dari Sakuragi agar secara sopan dan tunduk serta memperkenalkan dirinya. Tindakan sombong mereka dipicu oleh karena mereka merasa diri mereka kuat karena menang jumlah dibandingkan Sakuragi yang hanya sendirian. Alhasil, Sakuragi pun jengah dengan kesombongan mereka dan pertarungan tak adil itu tak dapat terhindarkan. Hasil akhir pertarungan itu dimenangkan oleh Sakuragi dikarenakan ia merupakan seorang petinju ketika sebelum ia dijebloskan ke penjara oleh sebab “kriminal” yang dilakukannya. ( sebab nya tonton sendiri ya, nanti ga bakal seru kalo di ceritain disini ) 

Perkenalan tersebut diakhiri dengan bilur – bilur luka dari ke-6 remaja itu, dan Sakuragi yang merasa “menang” justru tidak memanfaatkan kemenangannya untuk “menjajah” ke-6 remaja itu. Justru ia menekankan akan perlunya kesopanan dan kerendahan hati serta mengajarkan mereka untuk tidak gegabah untuk menyikapi sesuatu. Kedewasaan Sakuragi begitu terasa ketika ia tidak merasa “senior” dibandingkan dengan ke – 6 remaja lain yang jelas lebih muda dibandingkan dirinya, dan justru ia menghangatkan mereka melalui tindakan – tindakan yang menjadikan mereka sebagai manusia seutuhnya ketika hal itu tidak mereka dapatkan selama pengalaman penyiksaan mereka di penjara remaja yang dibawahi oleh seorang sipir penjara bernama Ishihara yang begitu bahagia ketika menyiksa para napi khususnya Sakuragi. ( terdapat sebab yang melatarbelakangi penyiksaan itu )

Cuplikan adegan diatas dari film “Rainbow” ini merupakan salah satu cuplikan dari sekian banyak adegan yang bergumul dalam cinta dan persahabatan. George Abe  seolah ingin menggaris bawahi bahwa manusia – manusia yang terdampar sebagai narapidana, yang justru diberikan stigma yang negatif di tengah masyarakat, justru mampu bertindak sesuai dengan hati mereka,  merobek keegoisan dan individualisme duniawi, demi kebahagiaan sahabat – sahabat mereka yang telah mereka anggap sebagai keluarga mereka. Sahabat yang selalu hadir untuk memberikan dorongan ketika mereka terjatuh dan menangis. Sahabat yang tanpa ragu memberikan bantuan dan pertolongan untuk mencapai mimpi – mimpi mereka. Sahabat yang justru merasakan kesedihan yang amat dalam di kala seorang sahabat yang lain diterpa musibah dan halangan untuk menggapai mimpi mereka...

Rainbow merupakan serial animasi yang menduduki peringkat pertama dalam daftar film animasi bergenre action dramatic-ku yang mampu membuat para penikmat film baik pria dan wanita meneteskan air mata melalui balutan kata – kata puitis dalam film yang semakin membuat alur film menjadi dalam, menyentuh, dan mengharukan.

Orang Indonesia perlu untuk menikmati film ini, agar secara bersama – sama melakukan pemahaman secara kolosal akan cinta, persahabatan dan determinasi yang dalam dari film animasi inspiratif ini.



Ad Maiorem Dei Gloriam





Amadeus Okky Suryono

Jumat, 27 Juli 2012

Plagiat!

sumber gambar : www.Google.com


Di kala waktu senggang, selagi masih bergelung dalam aroma liburan pergantian semester, media – media sosial begitu setia untuk hadir dan mewarnai waktu – waktu kosongku..sejenak kutatap status – status para begundal di twitter, facebook, bahkan di BBM yang kebanyakan berisikan mengenai apa yang mereka rasakan saat itu, terkadang memercikkan senyum kecil dan sedikit gelengan kepala ketika melihat ada beberapa status begundal yang agak “alay”.. ha..ha..

Tak berapa saat, aku melihat beberapa kata – kata bijak di media – media sosial yang kugeluti, kata – kata bijak yang di-update dari account – account para begundal dimana kata – kata itu begitu inspirasional! Dan terkadang ketika kata – kata itu sesuai dengan apa yang sedang kita rasakan, kata – kata tersebut seakan dapat menerbangkan jiwa kita dan menutup luka kita.. tapi sebentar.ada yang salah... kata – kata bijak tersebut di akhiri dengan tanda titik setelah kata indah itu berakhir! Hmm..memangnya, siapa pencipta kata - kata itu?? Para begundal itu? ( bukannya meremehkan para begundal itu dalam membuat kata – kata, tetapi kata – kata indah itu terkadang begitu populer di kalangan masyarakat dan jelas bukan para begundal itu yang mengobrak – abrik kata menjadi begitu nikmat. )

Untuk beberapa saat, para begundal itu menikmati “kepopulerannya” dalam mengobrak – abrik kata yang bukan miliknya. Jelaslah para begundal itu tak bersahabat dengan rasa malu yang bahkan mungkin saja mereka tak memiliki ke-malu-an!

Setelah terbuai dengan kata- kata bijak dari begundal yang tak memiliki ke-malu-an tadi, iseng – iseng aku berselancar ke kolam – kolam artikel kondang dari begundal – begundal yang pada awalnya kurasa memiliki kans untuk memukau diriku melalui tulisan – tulisan “berat”nya. Salah seorang begundal itu mengambil “bahan” dari salah satu buku populer ( yang tak akan aku perinci ) dan memaparkannya secara gamblang berbagai macam teori yang ada dalam buku itu. Teori – teori itu memang berhasil memukau-ku.. untuk sesaat.. tetapi begitu familiar di otakku mengenai bahasa dan teori yang dipaparkan oleh begundal itu.. penasaran dengan yang kurasakan, kubuka buku yang kurasa terdapat teori yang ia paparkan dan voila! Sama persis! Lalu mengapa ia tak mencantumkan sumbernya? Kalau memang ulasan itu merupakan ulasan asli dari penulis bukunya, mengapa begundal itu tak menuliskan bahwa ulasan itu merupakan ulasan asli dari penulis buku tetapi malah menuliskan atas namanya sendiri?! Sungguh tak memiliki ke-malu-an! Dan “sistem” kerja para begundal yang tak berke-malu-an itu terus menerus sama ! ah..sudahlah..mungkin saja mereka telah memotong ke-malu-an nya..  

 Namun ketika aku kembali berselancar dan menemukan para begundal – begundal lain yang secara inspirasional menuliskan kata – kata bijaknya dengan mencantumkan penciptanya, serta artikel – artikel yang memang inspirasional, harga ini patut untuk diacungi jempol! Dan justru kerendahan hati mereka untuk mencantumkan sumbernya, membuatku semakin bangga bahwa aku pernah menjadi anak didiknya. (sebagai tambahan, salah satu dari begundal – begundal rendah hati itu adalah salah satu guru SMA ku.. SMA Kolese De Britto ) 

Plagiat merupakan tindak kriminal, karena berani – berani nya memperkosa ide orang lain dan dianggap sebagai ide dari begundal tak berke-malu-an.. dan sebenarnya Indonesia adalah negara yang penuh dengan orang ber-ide.. alangkah nyamannya ketika Indonesia yang penuh dengan orang ber-ide itu saling menghargai ide masing – masing dan saling mendorong untuk berpacu dalam prestasi hingga ke pentas internasional..



NB : disini terdapat 2 jenis begundal, begundal yang tak memiliki ke-malu-an dan begundal yang rendah hati.. jadi jangan artikan begundal dengan konotasi negatif ya!




Ad Maiorem Dei Gloriam





Amadeus Okky Suryono

Rabu, 25 Juli 2012

Rindu itu...


Sumber Gambar : www.google.com

Ketika senja menjelang..dalam rona jingga yang perlahan memudar..
Waktu bergulir sendu dalam bulir – bulir yang torehkan kesesakan dalam jiwa..
Yang haus akan sebuah senyuman...tergolek lemah dan meratap akan kepergian angan.
Sebuah angan dimana hanya ada kamu memejamkan mata di atas bukit hijau..
Sembari menikmati tarian angin sepoi yang membelai sinar wajahmu..
Dimana kulihat sebersit senyum kecil dalam lesung pipimu..
Seolah turut bercumbu dengan bisikan angin...
dalam uraian sibakkan rambutmu yang mempesona..
dan...puff!!
angan itu seolah sirna..dan rona kehangatan itu hanya membekas di dalam jiwa..
angin malam seolah mengejekku..yg terduduk dan terdiam membeku dibawah bintang..
tanpa kau di sampingku..
bulan pun tak ketinggalan membelaiku dengan hangat di bawah sinarnya..
dan gemersik air yang melantun sendu tuk temani menit – menit sepiku..
tanpa kau di sampingku..
tetapi..
Sembari menatapku, orang pun mengatakan omong kosong tentang kerinduan!
Sembari menyeringai, orang pun menelisikkan celaan bernodanya akan kerinduan..
Dan sembari berdesis sinis, orang pun tersenyum dan menertawakan akan kerinduan!
Ah! Persetan kata orang.. 
Mereka hanya berpikir dalam cara pandang dangkal mereka..
Sejenak..
Emosiku ditenangkan kembali akan bayangan senyuman tentangmu..
Yang berkelut menjadi satu dalam hangat dan sesaknya jiwa..
Kudengar ringtone ponselku berbunyi..ternyata..sebuah pesan singkat..
“aku mau...kita putus..’’
Malam semakin larut..dan aku pun akan melarutkan angan tentangmu..
Dalam kerinduan yang tak terpuaskan..

NB : puisi ini hanya fiktif belaka... dengan memposisikan diri sebagai orang yang berusaha move on :-D


Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono