Kala Senja di Ratu Boko

merasakan getaran suasana candi boko yang mempesona..

Menembus Waktu dengan Romansa

sebuah desahan mimpi yang sangat menggoda untuk disajikan..

De Britto ...

Sekolah cinta...Sekolah hati..

Gua Tritis...kemolekan yang menawan hati..

sebuah perjalanan menikmati kemolekan Gua Tritis yang patut untuk diulas..

Pantai Indrayanti..pantai pemuas hati..

pantai pasir putih yang memesona..

Minggu, 04 Agustus 2013

Maaf.. (Rex version)

Maaf..

Sebuah kata yang seharusnya tak kuucapkan karena memang aku benar – benar mencintaimu.. atau itu setidaknya yang aku rasakan. Kamu yang mencintaiku dengan jiwamu..Kamu yang tak layak menerima kekelaman dari dunia sekitarmu..tetapi karena aku..yang mendapatkanmu atas dasar ego sesaat..tanpa memikirkanmu kehidupanmu.. tanpa memikirkan keberlanjutan nafas tulusmu..
            
          Aku membenci diriku karena tak mampu mengajakmu terbang berdampingan denganku.. karena tak mampu berikan kasih yang seharusnya kamu dapatkan.. dan kamu hanya menatapku dari tanah berdebu sembari meneriakiku untuk selalu menjalani hidupku sepenuhnya.. seutuhnya.. dengan atau tanpa dirimu...
           
           Untuk itu aku minta maaf..
            
          Karena telah membawamu ke tengah – tengah hitamnya dunia yang tak sesuai dengan putihnya kamu.. dunia yang begitu membencimu.. dunia yang tak peduli erangan dan rintihanmu..
           
         Karena tak mampu berbuat apa – apa dikala kamu menangis, dan untuk sesaat aku teringat akan masa di kala kamu akan melakukan apa saja ketika aku terluka dan bersimbah air mata...

       Aku malu.. aku tahu bahwa aku tak layak menerima dirimu..dan cintaku tak sependar cintamu yang mampu memelukku begitu hangat..begitu mesra..dengan caramu..

      Sesaat.. aku teringat membelaimu untuk pertama kalinya.. di tengah kondisi yang kotor dan memuakkan.. kamu menghujamkan tatapanmu ke jantung hatiku.. kamu meminta tolong padaku untuk menyelamatkanmu..meski pada akhirnya aku harus mencaci diriku karena tak mampu mempertahankanmu di pelukanku.. dan terseok di tengah dunia yang semakin menghitam..

            Aku hanya bisa memohon dan meratap agar dirimu yang membawa separuh hatiku tetap hidup dinaungi senyuman mentari yang semburat di balik dirimu, antusiasme tanpa kenal mati, dan cinta yang memutih seiring buaian dari sang waktu..

              Sekali lagi.. dengan kelusuhan diriku yang tak pantas menerima putihnya cintamu..



Aku minta maaf..       

Rex, Anjingku yang malang..






Ad Maiorem Dei Gloriam


Amadeus Okky Suryono

                         

Jumat, 19 Juli 2013

Sekilas Tentang Kamu..

          Mata yang mampu memandang setiap orang dengan kedalaman makna tanpa harus mengurai kata..
            
          Bibir yang mampu mengangkat rona merah di pipiku, menghangatkan hati yang rapuh, dan membuatku menari dan tersenyum dalam kilau bunga tidurku..

           Tangan yang selalu memeluk kesedihan, mendekap sendu, dan membelainya hingga meniadakan jejak air mata di pipi..

         Pundak yang mampu memanggul kerendahan hati, meski terseok dalam lautan kesombongan diri... meski tertatih dan berkubang dalam warna manusia – manusia yang semakin menghitam...

      Hati yang mampu membuat kami, kaum adam, bertekuk lutut dan meratap bagai bintang yang mengelilingi bumi.. Hati yang mampu membungakan sekaligus menggugurkan taman – taman hati...

         Ya... itu kamu..

         Dan ini hanyalah beberapa baris kata yang mewakili sebagian kecil indahnya dirimu..

         Mampu mengenalmu..menatap warna matamu..menikmati senyum di bibirmu.. merasakan kehadiranmu meski hanya sesaat seperti mimpi yang hadir dalam satu satuan waktu.. itu sudah cukup...cukup untuk menyadarkanku bahwa masih ada malaikat tanpa sayap yang mau merendahkan hatinya untuk mengajariku...cara untuk terbang menuju dunianya..


Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

Senin, 24 Juni 2013

Raga dan Rasaku..

       Seandainya Lena bisa memilih, ia takkan jatuh cinta kepada Derry. Setidaknya itulah yang Lena rasakan selama hampir tiga tahun kedekatan raga mereka di kota impian masa kecil mereka, Paris. Ternyata kedekatan raga mampu mengalahkan ketiadaan emosi. Ia tahu bahwa hubungan mereka tak melibatkan hati. Mereka hanyalah dua manusia kesepian yang butuh teman. Tak ada cinta terungkap. Seharusnya Lena tahu itu. Hingga di suatu akhir minggu, hatinya membubung tak terjangkau akal logikanya.

      Lena terbangun di suatu pagi, membalut tubuhnya dengan selimut yang mereka gunakan sebagai alas untuk bercinta, dan menatap mentari yang telah menanti dan menerobos melalui kaca apartemennya pagi itu. Paginya menjadi semakin cerah ketika ia melihat Derry terduduk di teras apartemen sembari menyesap rokoknya dalam – dalam, bungkus rokok yang tak terpakai yang ia gunakan sebagai asbak, dan sekaleng bir di sisinya. Derry memandang biru langit yang memadu kasih dalam kemuning mentari. Lena tersenyum, menyusul Derry menuju teras apartemennya, mendudukkan dirinya di kursi dengan meja kecil memisahkan keduanya, mengambil dan menyalakan sepuntung rokok sembari membetulkan letak selimut yang mencumbu tubuhnya. Asap rokok mereka pun menari dalam pagi yang mengalun lembut, dan terburai ketika Derry memulai percakapan yang membuat Lena terhenyak.

            “kayaknya aku harus kembali ke Indonesia.”
            “kenapa? Kok tiba – tiba?”
            “ada yang harus kuurus. Senja. Kamu pasti suka sama dia.”
            “oh..temen?”
            Lena menangkap percikan mata Derry yang menatap matanya, senyumnya yang merona. Ia pun paham.
            “kapan mau ke Indonesia?”
            “akhir minggu ini..”

            Percakapan mereka ditutup dalam hening..dengan asap rokok masih menari di atas kepala mereka..



Time flies..6 jam sebelum keberangkatan..mereka terduduk di teras yang sama sembari menyesap rokok dan menikmati tetes air hujan dalam sendunya malam.

            “Senja ya?”
            “iya..”
            “kenal darimana?”
“dulu sebelum aku mutusin cari inspirasi dan tinggal disini, kota aneh yang ternyata ada   kamunya, aku sempat kenalan sama dia di Jogja. Ketemunya waktu dia dibawa sama temenku buat hadir di salah satu pameran lukisanku. Akhirnya sempet jalan bareng juga. Aku rasa sekarang waktunya tepat. ”
“tepat untuk apa?”
“tepat untuk nyusul dia. Nyatuin hati kita. karena memang waktu itu aku masih belum siap untuk berlanjut ke tahap yang lebih serius lagi. Nikah. Gila kan? Ha.ha.. Surat terakhir dari dia buat aku makin yakin sama dia.”
good for you!

Kata terakhir yang Lena ucapkan serasa membuat lidahnya kelu.. senyum pun tak mampu ia lontarkan. Hingga Derry memagut bibirnya, mendekap perempuan itu, dan untuk terakhir kalinya mereka pun bercinta.

Pagi begitu dingin ketika Lena membuka matanya, ia berdiri sembari membalut tubuhnya dengan selimut percintaan mereka. Kamar telah kosong. Lena memandangi sudut – sudut ruangan yang hampa akan aroma Derry. Kamar yang familiar dalam alam pikirnya. Jam dering yang sudah mulai berkarat di atas meja coklat yang sudutnya mulai terkelupas, dinding di satu sudut ruangan yang berwarna kecoklatan. Tanpa Derry.





Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono

Minggu, 16 Juni 2013

Cerita di balik senja dalam rinai hujan..

        Dalam senja yang bergelung bersama kelabu awan, terbalut gemuruh Zeus yang menggoda manusia tak bersayap pemijak bumi untuk berlari – lari kecil mencari tempat naungan berteduh. Godaan yang seakan menjadi isyarat ketika para bidadari berdansa bersama rintik air hujan yang turun ke bumi dengan berselimutkan aroma – aroma tanah basah dan bersenandung bersama gugurnya daun – daun yang rapuh karena lekang oleh waktu..

        Di tengah alunan orchestra alam itu, ada seorang ibu dengan barang belanjaan kebutuhan pokok di dalam tas kresek hitam yang tergenggam di tangan kanannya, sedang berteduh di bawah naungan terpal seng usang di selasar sebuah pasar tradisional. Ia menerawang menuju sendunya langit. “ah..hujan..”, katanya dalam hati. Sayup – sayup ia melihat motornya yang diparkir tak jauh dari situ.

        Dalam alunan melody hujan yang semakin tak merintik, alam seolah termangu dengan nafas menderu seorang bocah berusia 7 tahun yang berlari ke arah ibu tadi sembari membawa payung yang penuh dengan tambalan dan baju yang semakin erat memeluknya akibat dekapan air hujan.. Ia berlari berbekal sinar mata yang terkaburkan air dan senyum khas dari gigi – gigi mungilnya.

“Bu..payungnya bu...”
“boleh nak...”

         Ibu itu pun menggenggam pangkal payung, memayungi dirinya, dan anak itu berlari kecil di sebelahnya dengan bermandingan senja dan hujan.

“Sini nak, kita payungan sama – sama...”
“Gak usah bu, ibu aja yang payungan..”
“Gakpapa nak, sini..”

       Ibu itu pun mendekap pundak si anak dan merapatkan ke tubuhnya yang lebih hangat.. tak berapa lama, mereka pun sampai di samping motor si ibu..

“berapa nak?”
“terserah bu..seikhlasnya..”

      Tergerak oleh kelembutan  hatinya, ibu itu merogoh dompetnya dan mengambil uang 5 ribuan sembari meletakkannya ke atas telapak tangan mungil yang menengadah menatap langit. Anak itu terdiam sembari menatap uang itu lekat – lekat.. nominal uang yang sangat jarang ia terima. Bagai kebahagiaan dinamo kecil, ia mengucapkan terima kasih, berlari dengan langkah kegembiraan, dan tangan yang menggenggam uang di udara, ia membelah gerimis dan senja yang semakin menghitam..




Ad Maiorem Dei Gloriam


Amadeus Okky Suryono


   

Kamis, 09 Mei 2013

Separuh Hati..


Sumber gambar : www.google.com

Separuh hati mencari makna..
Akankah bahagia ketika di tiap ujungnya mencumbu separuh hati lain yang baru?
Merekat..merajut..dan merasa menjadi satu dalam aroma cinta..
Hingga ego membulirkan pertanyaan..
Hingga hasrat mengaburkan realitas dan tenggelam dalam asa imajiner..
Bagaimana jika separuh hati lain yang baru itu..
Menyakitiku?
Merobek rajutan dan mengangakan luka?
Seperti separuh hati lain yang sempat mengisiku dalam relung – relung jiwa..
Seperti separuh hati lain yang mengikis ragaku, bermandikan debu dan air mata...
Apakah itu merupakan akhir dari setiap cerita cinta?
Dosakah aku karena tenggelam dalam keraguan rajutan dinding hati?
Atau justru aku terlalu melayang hingga tanpa sadar rajutan itu justru menyakitiku?
Mampukah aku merekat..merajut lagi tanpa harus merasa takut?
Ataukah aku hanya bisa membiasakan diri akan angin yang meniup bibir – bibir sembilu..
Me-mati rasa-kan luka..
Terhenyak dalam haluan yang menyesakkan..
Ah..
Aku..
Separuh hati yang mencari makna..
Separuh hati yang membiarkan darah mengalir di sela paruhan dan retakan..
Separuh hati yang bersahabat dengan jarum dan benang rajutan..
Tak lagi peduli akan impian evolusi menjadi hati yang utuh..
Biarlah aku bertahan akan keseparuhan hatiku..
Hingga tiba saatnya..
Ketidak pedulianku menjadi mati..



Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono

Sabtu, 20 April 2013

Kedengkian Manusia Bersayap..


       Hai kamu, para manusia pemijak tanah yang terlelap dalam naungan langit dan terlahir dalam kandungan senja. Enyahlah! Ratapanmu pekakkan telingaku, keberadaanmu pudarkan warna – warna nada, dan mematahkan harmoni yang terlindung di balik bintang – bintang malam...

     Hai kamu, para manusia pemijak tanah.. kamu tak sepertiku, sang manusia bersayap yang mampu terbang membelah merah jingga cakrawala dengan paras berselubungkan lingkaran cahaya. Takkan kukotori pandanganku dengan melihatmu terbelenggu rantai di lehermu, terseok dan meronta dengan tangan menggenggam udara, dan tubuh bermandikan debu dan tanah.. ah... bahkan air ludahku pun tak sekelam rongga hatimu.. tak segelap alam pikirmu..

     Hai kamu, para manusia pemijak tanah.. selimutilah dirimu dengan darah percekcokan.. merahkan bumi dengan luka – luka hati, dan rasakanlah detak jantung yang semakin melemah.. bercumbu dan bernafaslah tanpa jiwa.. aku tak peduli..

       Hai kamu, para manusia pemijak tanah.. gaungkanlah kebencianmu, lampiaskan dendammu, buat dirimu berguna melalui pembutaan mata – mata hati, telanlah rasa banggamu akan keteracuhan, terbahak akan kemunafikan, hingga tanpa kamu sadari...kamu takkan hidup selamanya.. tak seperti kami, para manusia bersayap yang menginginkanmu terhapuskan dalam sejarah surga...



Ad Maiorem Dei Gloriam


Amadeus Okky Suryono

Sabtu, 06 April 2013

Lonceng bruno..


            Auclair, seorang pria berusia 64 tahun dengan rambut cepak beruban yang dimilikinya, serta keriput yang menemani sepi hari – harinya, sedang terduduk di tangga teras rumahnya yang di design dengan ukiran – ukiran khas jawa di setiap sudutnya dan menambah kesan sederhana dari rumah tak berpagar ini. Pikirannya berkelana semenjak tadi pagi ketika  ia ditawari untuk mengurus seekor anak anjing dari seorang teman yang memiliki beberapa anjing di dalam rumahnya. “untuk menemani sepi”, katanya. Auclair yang hanya menempati rumah sederhana yang dibeli dari tangan sahabatnya 40 tahun lalu semenjak dirinya memutuskan untuk meninggalkan Prancis dan tinggal di Indonesia ini pun langsung mengiyakan tawaran tersebut sembari menyambut dengan secercah angan mengenai hal – hal apa saja yang dapat ia lakukan dengan hadirnya anak anjing coklat tua yang baru berusia 1 bulan ini. “bruno..aku namai ia bruno..”, katanya dalam hati.

         Semenjak hari pertama kedatangan bruno yang ia letakkan di salah satu ruangan tak terpakai selama proses adaptasinya untuk bernyanyi bersama dunia, hatinya yang kerut dan kosong selama bertahun – tahun sejak keputusannya untuk memilih tak menikah 30 tahun yang lalu akibat ditinggal lari pacar dalam hubungan yang telah dirajutnya selama 5 tahun dan justru memilih bertunangan dengan orang lain itu kini seolah bersemi kembali. Gayanya yang lincah, gonggongan yang menggemaskan, seakan menjadi pewarna hari – hari pensiunnya yang kelabu

       6 bulan berlalu, bruno berubah menjadi seekor anjing remaja yang selalu meloncat dengan antusias tatkala auclair kembali ke rumah serta menyambutnya dengan hangat. Tak peduli apapun hal negatif yang dunia katakan padanya, tak peduli seburuk apapun para manusia sibuk mempertentangkan kepentingan – kepentingan mereka sendiri di luar rumah sederhananya, tak peduli apa yang para tetangga katakan tentang keberadaan anjingnya selama 6 bulan terakhir, dimana kerisihan mulai melanda dan sensitifitas negatif akan anjing mulai meradang, seolah tanpa memperdulikan semuanya itu, bruno dengan insting murninya tetap melompat dan memeluk satu sisi kaki auclair sembari menjulurkan lidahnya hingga mendapatkan beberapa elusan di kepala yang ia rindukan dari tuannya meski hanya berpisah beberapa saat.

        Hari dan bulan pun berlalu, dengan balutan waktu tubuh mungil bruno telah menjelma menjadi seekor anjing dewasa yang tegap dan berotot, menjalankan tugas rutinnya untuk membagikan cinta kepada tuannya, berlari kesana kemari dengan bunyi gemerincing dari lonceng yang menempel di kalung leher yang bertuliskan nama bruno di atasnya. Rumah sederhana itupun dalam kurun waktu setahun telah berevolusi menjadi sanctuary bagi mereka berdua.

      Hingga suatu hari, sebuah keputusan diambil dari para tetangga yang merasa risih dengan bruno meskipun keberadaannya tak mengganggu keseharian mereka. Para tetangga masih belum merasa menyatu akan hidup mereka yang berdampingan dengan anjing di lingkungan rumah mereka. Dan dongeng mereka berdua pun harus berakhir. Bruno harus dijual, dimana pada umumnya anjing yang dijual juga akan berakhir pada tempat penjagalan. Pilihan kedua adalah mereka yang membuangnya, membiarkannya terseok dalam kedengkian jalanan seperti anjing – anjing liar lainnya. Auclair pun merasa patah hati, seolah hatinya yang berkerut dan lelah seolah tak mampu lagi menampung rasa sakit yang masih ada sepeninggal kekasihnya. Tetapi keputusan para tetangga sudah bulat. Pikirannya pun terbersit untuk menjual rumah sederhananya dan tinggal di rumah yang lebih kecil lagi dengan bruno di sampingnya. Tetapi ia begitu cinta akan rumah yang telah menjadi saksi berpuluh – puluh tahun kehidupannya termasuk berperan dalam saksi biksu percintaannya dengan kekasihnya. Ia pun juga teringat akan janjinya kepada sahabatnya untuk mencintai rumah ini sebagaimana ia mencintai dirinya. Dengan mata berkaca – kaca, ia pun memutuskan untuk menyerahkan bruno, sahabat yang telah menempati ruang kosong di sudut hatinya yang merapuh. Bahkan air mata pun tak sanggup mewakili apa yang ia rasakan saat ini.

       Seminggu telah berlalu, tanpa bruno yang melompat di satu sisi kakinya, tanpa bruno yang begitu antusia mencintainya. Dan satu – satunya kenangan yang tak akan ia lepaskan hanyalah lonceng yang dulu bersenandung tatkala menghiasi leher bruno. Lonceng yang akan selalu ia bawa kemanapun, meskipun menimbulkan bunyi gemerincing yang berisik. Meskipun menjadi suatu hal yang aneh ketika seorang manusia akan bergemerincing setiap langkah ia berjalan dan menjadi gosip para tetangga yang mulai menganggapnya autis. Lonceng itu tetap menggenggam dalam tangannya. Dan ia takkan pernah melepaskannya.. takkan pernah..





Ad Maiorem Dei Gloriam





Amadeus Okky Suryono