Kala Senja di Ratu Boko

merasakan getaran suasana candi boko yang mempesona..

Menembus Waktu dengan Romansa

sebuah desahan mimpi yang sangat menggoda untuk disajikan..

De Britto ...

Sekolah cinta...Sekolah hati..

Gua Tritis...kemolekan yang menawan hati..

sebuah perjalanan menikmati kemolekan Gua Tritis yang patut untuk diulas..

Pantai Indrayanti..pantai pemuas hati..

pantai pasir putih yang memesona..

Selasa, 07 Agustus 2012

Palsu!


Ketika pagi menjadi dingin..
Dalam alunan ejekan burung – burung yang bersukacita di atasku.
Belaian semilir angin menjadi tak menyegarkan dan mengganggu selera..
Kokokan ayam pun tak mampu membantu goreskan gairah hidup..
        Hatipun beku, dan kehangatan mentari tak sanggup mencairkannya.
Mata seakan  menerawang ke suatu alam yang tak jelas ujung pangkalnya.
Dimana kesunyian justru menjadi sesosok temanku yang paling kusayangi..
Hingga angan yang berwarna pelangi itu tak tampak lagi..

Malam terasa begitu jahat..
Dengan noda hitamnya yang semakin belenggu diriku begitu erat..
Seolah guratan merah dan kuning yang biasa menghiasi langit hati..
Kalah dan hilang entah kemana..
        Ku baringkan diriku dalam keramaian..
Yang kutemukan hanyalah kepalsuan .. palsu..
Dengan menebar senyuman dingin yang membekukan..
Yang kurasakan hanyalah tatapan sinis dan bukan optimistis..

Beberapa menunjukkan wajah datar menggeloranya..
Berusaha untuk menikam kepalsuan dan menggoyahkannya..
Tetapi yang ada hanya menyiratkan datar penuh benci..
Tanpa antusiasme..tanpa semangat berbagi.. apatis!
        Senyuman sosial kembali berusaha ditebarkan seorang yang lain..
Yaahh..sekedar ba..bi..bu..
        Menyatu dalam kepekaan yang menjadi sulit..
        Yang membosankan dan memuakkanku..

Tak bisakah kau menjadi ANJING?
Yang jujur dan tanpa lelah menggigit rasionalitas dan perjuangkan persahabatan
Yang melompat kepada yang tak dikenal dan mengendus untuk memahaminya lebih dalam..
Yang berani menunjukkan dirinya yang sesungguhnya..
Hingga menjadi musuh kepalsuan no.1! 
       Malam semakin larut...dan bintangpun enggan memoles sinarnya..
Kurasakan kawanan anjing begitu sukacita dalam gonggongannya..
Mereka berpesta dalam ketulusannya..sembari mengejek manusia..
Karena tak bisa berperilaku seperti mereka!


Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono

Jumat, 03 Agustus 2012

Masa Kecil Kurang Bahagia?


Sumber gambar : www.google.com  

     “ Sariii...ayo sudah siang, dimatiin dulu Blackberry- nya, sini makan sop kesukaanmu nak..”, pinta ibu yang terduduk di meja makan bersama Rani, kakak Sari sembari menuangkan sop bakso kesukaan Sari ke atas piring Rani. Tetapi Sari tak bergeming. Ia terus menatap dalam – dalam sembari tersenyum cekikikan menatap layar Blackberry-nya di dalam kamarnya yang mungil. Sekelumit kisah diatas membawaku ke alam masa kecilku dulu. Sebuah masa dimana aku yang masih berseragam putih merah, dengan antusiasnya berlompatan kian kemari hanya karena aku berhasil menyisihkan tabunganku untuk membeli tazoz yang banyak ditemukan di dalam snack, kemudian memamerkannya kepada teman – teman sepergaulan serta memainkannya dengan meletakkannya di antara telapak tangan kananku, serta tos! Pemenangnya ditentukan lewat gambar pokemon dalam tazoz tersebut menengadah ke atas atau tertungkup di tanah yang berarti kalah. 

     Hari berganti petang, ketika seragam putih merahku berganti kaos santaiku, kuraih mobil – mobilan tamiya ku yang kubeli seharga 11 ribu rupiah dari berbulan – bulan aku menyisihkan uang jajanku, dan kupamerkan dengan gaya khas anak kecil yang bangga ketika mainannya ternyata lebih “menyala” dibandingkan dengan mainan teman – temannya. Para serdadu kecil itu pun menyusun trek – trek buatan dan saling mengadu kecepatan dari tamiya – tamiya kami sembari dibalut suasana kehangatan dan alunan merdu dari persahabatan.

     Sejenak, aku mulai menyadari bahwa zaman telah berubah begitu cepat. Ketika kulihat anak – anak seperti Sari begitu “bahagia” dalam permainan Blackberry-nya di kamarnya yang mungil, jauh dari aura kehangatan yang sebenarnya. Zaman ketika seorang anak kecil tak menghadapi serunya permainan bersama teman – teman nya yang menyatu bersama tawa riuh dari para pemenang cilik serta belajar untuk berjiwa besar mengalami pahitnya kekalahan sejak dini. Zaman ketika para serdadu cilik itu belajar bersikap apatis terhadap hal – hal baru di sekitar mereka, dan hanya memperdulikan aplikasi – aplikasi modern yang lebih seru dan semakin menjauhkan mereka dari dunia sosial yang sesungguhnya.

     Peran orang tua menjadi sektor penting dalam kontrol anak sejak dini, dimana di usia mereka, bagaimana para orang tua dapat mengasah ide untuk menanamkan jiwa petualang si anak agar tidak hanya terpekur di antara bayang – bayang layar alat digital tersebut. Kebijakan untuk memanjakan anak dengan berbagai kemudahan fitur dari perangkat itu perlu dilaksanakan secara selektif apakah menunjang pertumbuhan anak atau tidak. Jika ternyata perangkat canggih tersebut justru membuat anak menjadi makhluk antisosial, apa gunanya perangkat jutaan rupiah tersebut? Bagaimana wajah generasi muda Indonesia di masa depan jika hati menjadi semakin beku, dan tak adanya pengalaman – pengalaman sosial yang mampu menunjang mereka untuk semakin memahami persahabatan, kemenangan maupun kekalahan dalam hidup? Apakah ini yang disebut sebagai masa kecil kurang bahagia?



Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono

Minggu, 29 Juli 2012

Rainbow

Sumber Gambar : www. Google.com


Dear Night Rainbow.. merupakan cuplikan salah satu lyric dari lagu yang dinyanyikan oleh Joe, salah satu tokoh, turut mewarnai sendu dalam perjuangan serial animasi “Rainbow – Nisha Rokubo No Shichinin” yang berhasil menggugah determinasi, cinta dan persahabatan masyarakat di Jepang pada khususnya, dan Dunia pada umumnya.. termasuk aku yang turut menjadi “korban” dan terbuai akan alur dari film action anime itu yang dibumbui dengan drama – drama para tokohnya yang menyentuh. Rainbow seakan menjadi perspektif penghiburanku di kala aku melihat dunia sekelilingku menjadi kelam, seolah tanpa cinta, individualis dan egois..

Keindahan alur “Rainbow" dimulai dengan perkenalan dari ketujuh tokoh ( dimana memang sang pengarang, George Abe serta sang ilustrator, Masasumi Kakizaki ingin menunjukkan bahwa Rainbow dengan 7 warnanya dilambangkan melalui ketujuh tokoh ini yang memiliki warna masing – masing karakter ) yaitu Sakuragi Rokurouta ( dipanggil Bro, 18 tahun ), Minakami Mario ( dipanggil Mario, 17 tahun ), Tohyama Tadayoshi  ( dipanggil Soldier, 17 tahun ), Matsuira Mansaku ( dipanggil Cabbage, 17 tahun ) , Maeda Noboru ( Dipanggil Turtle, 16 tahun ), Yokosuka Jou ( dipanggil Joe, 16 tahun ), dan Nomoto Ryuji ( dipanggil Baremoto, 17 tahun ). Mereka merupakan para “kriminal cilik” yang dimasukkan ke dalam penjara khusus para remaja karena melakukan tindak kriminal di usia mereka.

Perkenalan mereka diawali ketika Sakuragi yang merupakan seorang remaja yang “lebih dulu” menempati Penjara Blok 2 sel nomor 6 bertemu dengan ke-6 remaja lain yang baru pertama kali menginjakkan kaki di penjara tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan kesombongan dari ke-6 remaja itu yang meminta kehormatan dari Sakuragi agar secara sopan dan tunduk serta memperkenalkan dirinya. Tindakan sombong mereka dipicu oleh karena mereka merasa diri mereka kuat karena menang jumlah dibandingkan Sakuragi yang hanya sendirian. Alhasil, Sakuragi pun jengah dengan kesombongan mereka dan pertarungan tak adil itu tak dapat terhindarkan. Hasil akhir pertarungan itu dimenangkan oleh Sakuragi dikarenakan ia merupakan seorang petinju ketika sebelum ia dijebloskan ke penjara oleh sebab “kriminal” yang dilakukannya. ( sebab nya tonton sendiri ya, nanti ga bakal seru kalo di ceritain disini ) 

Perkenalan tersebut diakhiri dengan bilur – bilur luka dari ke-6 remaja itu, dan Sakuragi yang merasa “menang” justru tidak memanfaatkan kemenangannya untuk “menjajah” ke-6 remaja itu. Justru ia menekankan akan perlunya kesopanan dan kerendahan hati serta mengajarkan mereka untuk tidak gegabah untuk menyikapi sesuatu. Kedewasaan Sakuragi begitu terasa ketika ia tidak merasa “senior” dibandingkan dengan ke – 6 remaja lain yang jelas lebih muda dibandingkan dirinya, dan justru ia menghangatkan mereka melalui tindakan – tindakan yang menjadikan mereka sebagai manusia seutuhnya ketika hal itu tidak mereka dapatkan selama pengalaman penyiksaan mereka di penjara remaja yang dibawahi oleh seorang sipir penjara bernama Ishihara yang begitu bahagia ketika menyiksa para napi khususnya Sakuragi. ( terdapat sebab yang melatarbelakangi penyiksaan itu )

Cuplikan adegan diatas dari film “Rainbow” ini merupakan salah satu cuplikan dari sekian banyak adegan yang bergumul dalam cinta dan persahabatan. George Abe  seolah ingin menggaris bawahi bahwa manusia – manusia yang terdampar sebagai narapidana, yang justru diberikan stigma yang negatif di tengah masyarakat, justru mampu bertindak sesuai dengan hati mereka,  merobek keegoisan dan individualisme duniawi, demi kebahagiaan sahabat – sahabat mereka yang telah mereka anggap sebagai keluarga mereka. Sahabat yang selalu hadir untuk memberikan dorongan ketika mereka terjatuh dan menangis. Sahabat yang tanpa ragu memberikan bantuan dan pertolongan untuk mencapai mimpi – mimpi mereka. Sahabat yang justru merasakan kesedihan yang amat dalam di kala seorang sahabat yang lain diterpa musibah dan halangan untuk menggapai mimpi mereka...

Rainbow merupakan serial animasi yang menduduki peringkat pertama dalam daftar film animasi bergenre action dramatic-ku yang mampu membuat para penikmat film baik pria dan wanita meneteskan air mata melalui balutan kata – kata puitis dalam film yang semakin membuat alur film menjadi dalam, menyentuh, dan mengharukan.

Orang Indonesia perlu untuk menikmati film ini, agar secara bersama – sama melakukan pemahaman secara kolosal akan cinta, persahabatan dan determinasi yang dalam dari film animasi inspiratif ini.



Ad Maiorem Dei Gloriam





Amadeus Okky Suryono

Jumat, 27 Juli 2012

Plagiat!

sumber gambar : www.Google.com


Di kala waktu senggang, selagi masih bergelung dalam aroma liburan pergantian semester, media – media sosial begitu setia untuk hadir dan mewarnai waktu – waktu kosongku..sejenak kutatap status – status para begundal di twitter, facebook, bahkan di BBM yang kebanyakan berisikan mengenai apa yang mereka rasakan saat itu, terkadang memercikkan senyum kecil dan sedikit gelengan kepala ketika melihat ada beberapa status begundal yang agak “alay”.. ha..ha..

Tak berapa saat, aku melihat beberapa kata – kata bijak di media – media sosial yang kugeluti, kata – kata bijak yang di-update dari account – account para begundal dimana kata – kata itu begitu inspirasional! Dan terkadang ketika kata – kata itu sesuai dengan apa yang sedang kita rasakan, kata – kata tersebut seakan dapat menerbangkan jiwa kita dan menutup luka kita.. tapi sebentar.ada yang salah... kata – kata bijak tersebut di akhiri dengan tanda titik setelah kata indah itu berakhir! Hmm..memangnya, siapa pencipta kata - kata itu?? Para begundal itu? ( bukannya meremehkan para begundal itu dalam membuat kata – kata, tetapi kata – kata indah itu terkadang begitu populer di kalangan masyarakat dan jelas bukan para begundal itu yang mengobrak – abrik kata menjadi begitu nikmat. )

Untuk beberapa saat, para begundal itu menikmati “kepopulerannya” dalam mengobrak – abrik kata yang bukan miliknya. Jelaslah para begundal itu tak bersahabat dengan rasa malu yang bahkan mungkin saja mereka tak memiliki ke-malu-an!

Setelah terbuai dengan kata- kata bijak dari begundal yang tak memiliki ke-malu-an tadi, iseng – iseng aku berselancar ke kolam – kolam artikel kondang dari begundal – begundal yang pada awalnya kurasa memiliki kans untuk memukau diriku melalui tulisan – tulisan “berat”nya. Salah seorang begundal itu mengambil “bahan” dari salah satu buku populer ( yang tak akan aku perinci ) dan memaparkannya secara gamblang berbagai macam teori yang ada dalam buku itu. Teori – teori itu memang berhasil memukau-ku.. untuk sesaat.. tetapi begitu familiar di otakku mengenai bahasa dan teori yang dipaparkan oleh begundal itu.. penasaran dengan yang kurasakan, kubuka buku yang kurasa terdapat teori yang ia paparkan dan voila! Sama persis! Lalu mengapa ia tak mencantumkan sumbernya? Kalau memang ulasan itu merupakan ulasan asli dari penulis bukunya, mengapa begundal itu tak menuliskan bahwa ulasan itu merupakan ulasan asli dari penulis buku tetapi malah menuliskan atas namanya sendiri?! Sungguh tak memiliki ke-malu-an! Dan “sistem” kerja para begundal yang tak berke-malu-an itu terus menerus sama ! ah..sudahlah..mungkin saja mereka telah memotong ke-malu-an nya..  

 Namun ketika aku kembali berselancar dan menemukan para begundal – begundal lain yang secara inspirasional menuliskan kata – kata bijaknya dengan mencantumkan penciptanya, serta artikel – artikel yang memang inspirasional, harga ini patut untuk diacungi jempol! Dan justru kerendahan hati mereka untuk mencantumkan sumbernya, membuatku semakin bangga bahwa aku pernah menjadi anak didiknya. (sebagai tambahan, salah satu dari begundal – begundal rendah hati itu adalah salah satu guru SMA ku.. SMA Kolese De Britto ) 

Plagiat merupakan tindak kriminal, karena berani – berani nya memperkosa ide orang lain dan dianggap sebagai ide dari begundal tak berke-malu-an.. dan sebenarnya Indonesia adalah negara yang penuh dengan orang ber-ide.. alangkah nyamannya ketika Indonesia yang penuh dengan orang ber-ide itu saling menghargai ide masing – masing dan saling mendorong untuk berpacu dalam prestasi hingga ke pentas internasional..



NB : disini terdapat 2 jenis begundal, begundal yang tak memiliki ke-malu-an dan begundal yang rendah hati.. jadi jangan artikan begundal dengan konotasi negatif ya!




Ad Maiorem Dei Gloriam





Amadeus Okky Suryono

Rabu, 25 Juli 2012

Rindu itu...


Sumber Gambar : www.google.com

Ketika senja menjelang..dalam rona jingga yang perlahan memudar..
Waktu bergulir sendu dalam bulir – bulir yang torehkan kesesakan dalam jiwa..
Yang haus akan sebuah senyuman...tergolek lemah dan meratap akan kepergian angan.
Sebuah angan dimana hanya ada kamu memejamkan mata di atas bukit hijau..
Sembari menikmati tarian angin sepoi yang membelai sinar wajahmu..
Dimana kulihat sebersit senyum kecil dalam lesung pipimu..
Seolah turut bercumbu dengan bisikan angin...
dalam uraian sibakkan rambutmu yang mempesona..
dan...puff!!
angan itu seolah sirna..dan rona kehangatan itu hanya membekas di dalam jiwa..
angin malam seolah mengejekku..yg terduduk dan terdiam membeku dibawah bintang..
tanpa kau di sampingku..
bulan pun tak ketinggalan membelaiku dengan hangat di bawah sinarnya..
dan gemersik air yang melantun sendu tuk temani menit – menit sepiku..
tanpa kau di sampingku..
tetapi..
Sembari menatapku, orang pun mengatakan omong kosong tentang kerinduan!
Sembari menyeringai, orang pun menelisikkan celaan bernodanya akan kerinduan..
Dan sembari berdesis sinis, orang pun tersenyum dan menertawakan akan kerinduan!
Ah! Persetan kata orang.. 
Mereka hanya berpikir dalam cara pandang dangkal mereka..
Sejenak..
Emosiku ditenangkan kembali akan bayangan senyuman tentangmu..
Yang berkelut menjadi satu dalam hangat dan sesaknya jiwa..
Kudengar ringtone ponselku berbunyi..ternyata..sebuah pesan singkat..
“aku mau...kita putus..’’
Malam semakin larut..dan aku pun akan melarutkan angan tentangmu..
Dalam kerinduan yang tak terpuaskan..

NB : puisi ini hanya fiktif belaka... dengan memposisikan diri sebagai orang yang berusaha move on :-D


Ad Maiorem Dei Gloriam



Amadeus Okky Suryono

Minggu, 22 Juli 2012

Anak Kecil


Sumber Gambar : www.Google.com

    Anak kecil. 2 buah kata dimana ketika aku membacanya..aku akan mengarah pada suatu angan akan makhluk – makhluk mungil nan tengil bagai dinamo kecil yang berlarian kesana kemari dengan langkah – langkah kecil khas mereka untuk mengejar teman – teman mereka di sudut jalanan.. makhluk yang sering membuat aku gemas bahkan menghela nafas ketika dengan rasa kemenangannya, mereka “mampu” menaklukkanku melalui cubitan dan kejahilan ala mereka.. dan terkadang..anak kecil.. makhluk yang begitu sering membuat kedua orang tua mereka berang karena orang tua mereka “menginginkan” makhluk – makhluk tengil itu berbuat sesuai dengan “ kehendak” orang tua mereka, dan mereka “mengejeknya” dengan mengacuhkan dan peduli dengan apa yang makhluk tengil itu inginkan.. jelas saja para makhluk tengil tersebut mengindahkan “keinginan” para orang tua mereka, karena mereka ( para orang tua) tidak “mengerti” apa yang mereka ( para makhluk tengil)  inginkan..

Aku tidak akan membicarakan mengenai ke-tengilan mereka karena  hari ini.. di balik semua ke-tengilan mereka, tersimpan suatu makna yang menyentuh jiwa dimana aku, dan “mungkin” para orang “dewasa” pada umumnya, melupakan kepedulian dan kecintaannya kepada sesama.. 

Di suatu pagi.. ketika aku terbangun dari tidurku.. aku mendapat cerita dari adikku yang sudah terbangun lebih dulu dan mengamati pada pukul 6 pagi, ia mendengar alunan suara bergetar dari 2 gadis kecil yang diperkirakan sedang duduk di kelas 2 SD, dengan kaos dan celana pendek mengendarai sepeda keranjangnya secara perlahan, sembari menawarkan binder yang terduduk di keranjang depan sepedanya berkeliling dari rumah ke rumah.. bayangkan, ketika seorang anak kecil yang memiliki hak untuk menikmati pelangi masa kecilnya, justru dengan rela memberikan kunang – kunang masa kecilnya untuk membantu orang tuanya sekedar memasak nasi dalam tungku rumahnya..

Bayanganku terlintas kembali di suatu senja..dimana langit dengan semburat merah dan kuningnya mewarnai langit..aku terhenti di suatu persimpangan jalan padat di Yogyakarta.. seorang gadis kecil berusia 5 tahun, dengan pakaian lusuhnya, rambutnya yang kumal tersapu debu dan tangis, dan telapak kakinya yang secara langsung bercumbu dengan aspal, berkeliling dan berhenti di setiap kendaraan yang menanti lampu lalu lintas menyala hijau..dan meminta belas kasih akan tiap mata yang memandangnya..

Aku terhenyak..

Kembali siang ini..aku mengikuti seminar Lectio Divina  yang dibawakan Suster Merry Theresa tentang bagaimana mendalami kitab suci dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan.. dan kudengar suatu kisah..kembali mengenai makhluk tengil ini..dimana di Ekuador yang sedang mengalami krisis moneter, kelaparan dimana – mana, dan kebutuhan sembako menjadi hal yang mewah di kalangan masyarakat.. PBB melalui FAO mengirimkan bahan pangan kepada masyarakat Ekuador.. di lain peristiwa.seorang wartawan yang berasal dari Uruguay diutus untuk pergi ke suatu daerah miskin di Ekuador dan melaporkan peristiwa pembagian sembako oleh FAO tersebut.. terlihat begitu banyak antrian dan para orang tua berdesak – desakan untuk mendapatkan sembako bagi keluarganya, bahkan sampai terinjak – injak hanya untuk mendapatkan sebutir nasi untuknya dan keluarganya. Setelah beberapa saat mengamati peristiwa tersebut, wartawan tersebut menatap satu gadis kecil yang ikut mengantri di barisan paling belakang dan menyampirkan wajah polosnya dalam barisan manusia itu..

Wartawan tersebut juga melihat terdapat 3 orang anak kecil di bawah 10 tahun yang tak jauh dari antrian sedang berteduh di bawah pohon dari ganasnya mentari dan tak ada orang tua yang memperhatikannya..ketika gadis kecil yang mengantri tadi tiba di depan petugas pembagi makanan, ternyata hanya tersedia 1 buah pisang sebagai makanan.. dengan mata berbinar, gadis kecil tersebut tersenyum polos dan menerimanya dengan kebahagiaan khas anak kecil..kemudian ia berlari.. menghampiri ketiga orang anak kecil di bawah usianya itu dan ikut terduduk dalam naungan pohon, serta membagi pisang tersebut menjadi 3 bagian.. lalu untuk gadis kecil itu? Ya.. ia tak mendapat bagian, dan merelakan dirinya untuk menyesap kulit pisang tersebut.. dan wartawan tersebut terhenyak..

Anak kecil.. 2 buah kata yang mampu membuatku kagum akan apa yang justru dapat mereka lakukan dibandingkan dengan yang orang “dewasa” dapat perbuat.. 2 buah kata yang justru memiliki cinta dan kerelaan yang murni dibandingkan dengan rasa cinta diri dan kesombongan dari orang “dewasa” yang merasa mereka lebih “mengerti” daripada makhluk mungil tersebut.. 2 buah kata dimana jika tidak terdapat kehadiran mereka, dunia akan tergolek lemah mencari kepolosan tapi hanya ditemukan kepalsuan..
2 buah kata yang mampu menghenyakkan dan menampar diriku begitu dalam..


Anak kecil..



Ad Maiorem Dei Gloriam


Amadeus Okky Suryono

Kamis, 19 Juli 2012

"Sahabat"


Sumber gambar : www.google.com


Fajar menyingsing yang mengalun bersama iringan embun
Menyatu bersama tarian dingin angin pagi
Tanpa hangat mentari..tanpa godaan pelangi..
Hanya tertinggal dalam rona warna kelabu pekat hiasi langit..
Berkolaborasi goreskan noktah pagiku..
Yang kalut..
dan penuh dengan makian tertahan..
yang hanya terdengar berdecit dalam hati yang menjerit..
makian yang hanya berkutat dalam angan..
makian dampak akan robeknya kebanggaan dalam diri..
makian untuk seseorang yang ada dalam mega – mega..
yang mengaku domba dengan serigala di dalamnya..
aku terpaku..
mataku terbuka setelah tergilas dan digerogoti taring manisnya...
dengan kobaran api membara dalam jiwaku..
sedang ragaku lemah tak berdaya..
sejenak terpikir angan untuk membuka taring manisnya dengan tangan kosongku..
dan berlari dengan darah mengalir serta hati yang beku..
tapi bagaimana jika serigala lain berkolaborasi dan menuduhku tak setia menjadi mangsanya?
Bagaimana jika aku hanya ditakdirkan hanya menjadi mangsa yang menancap di taring manisnya ?
Pikiranku mengelana ke alam bebasku..
ah...seandainya jiwa dan ragaku sebebas pikiranku..
ataukah pikiranku juga akan dicengkram oleh cakar ganasnya?
Sialan..
Aku harus melawan..ya! aku harus melawan!..
Meski lebam dan jiwa yang terbelenggu..
Pikiranku yang bebas meronta pergi..
Dan suatu saat akan kuremukkan taring manisnya dengan senjataku yang meronta bebas..
Ya..suatu saat..



NB : didedikasikan untuk para “sahabat” yang dengan sukacita menimangku dengan taringnya yang ganas.. terima kasih sudah memberikan inspirasi untuk menulis.. :)



Ad Maiorem Dei Gloriam




Amadeus Okky Suryono